Esai

Jalan Sunyi Sang Kritikus Sastra

Malam itu ia sedang duduk lesehan di pelataran Bioskop XXI, Taman Ismail Marzuki (TIM). Di tangannya sebuah amplop, ditepuk-tepuknya amplop itu. “Uang ini besok sudah jadi mesin jahit, buat isteri saya,” kata-kata itu keluar dari celah bibirnya yang tipis.

Istilah yang sering ia gunakan saat berkumpul bersama santrinya dan pelajar-pelajar yang datang dari berbagai daerah untuk sinau dengannya adalah ngalor ngidul. Setelah menghadiri malam anugerah sayembara kritik satra, ia memilih ngalor ngidul bersama enam mahasiswa dari Universitas Jakarta (UNJ). “Apa yang bisa saya perbuat di kamar hotel. Di sana hanya untuk numpang tidur dan mandi,”

Sayangnya saat itu, mata saya tidak begitu cepat menangkap kehadirannya. Sebab Bandung Mawardi yang saya kenal enam bulan lalu adalah laki-laki pengurus rumah dan pengasuh anak yang panjang rambutnya melampaui panjang rambut saya. Malam itu saya tak lagi melihat rambutnya yang bisa tergerai.

Namun mana berani saya menanyakan perihal rambut yang tak bisa tergerai itu lagi. Ditemani, Redaktur Eksekutif Locita.co, Dhihram Tenrisau saya datang untuk memberikan selamat karena telah berhasil menjadi salah satu juara harapan di Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2017.

Di sayembara itu dia bukanlah yang terbaik. Tapi mungkin perjalanan hidup Bandung Mawardi sebagai esais dan kritikus sastra perlu dihayati oleh siapapun yang sudah terlalu disibukkan oleh dunia yang seolah tanpa batas ini (internet).

Sekira enam bulan lalu saya bertandang ke rumahnya di Solo. Bersama teman-teman kelas bahasa di Pare, Kediri. Saya mengikuti sinau menulis esai sastra selama tiga hari di Bilik Literasi Solo. Yang juga merupakan tempat tinggal Bandung Mawardi, isteri, dan ketiga anaknya.

Mobil berhenti sekira pukul 24.00 WIB, saat masuk ke rumah joglo itu. Aroma kamboja dan tanah basah dijejaki embun menyeruak melalui celah-celah kayu. Entah bagaimana mendeskripsikan betapa luas dan megahnya tempat ini.

Di dalam, saya kaget menyaksikan Pablo Nerudo menari-nari dan tangannya yang lentik bersuka ria di atas senar. Di sudut lain, Nukila Amal berbincang hangat dengan Okky Madasari ihwal Seks dan Hijab. Di samping sebuah meja yang tersembunyi, Shareen El Feki sedang membaca Catatan Pinggir Goenawan Moehammad.

Perseteruan tak kalah sengit di rak para penyair. Esha Tegar Putra, Hasan Aspahani, dan Aan Mansyur sedang bergurau perihal puisi celana Joko Pinurbo.

Ribuan buku-buku itu saling berdiskusi, saling menghantam, dan ada yang ingin bertukar posisi. Penulis-penulis bersilaturahi dari judul ke judul. Dengan menarik nafas panjang, saya ingin menuliskan ini baik-baik.

Malam itu, adalah pertama kalinya saya datang di suatu rumah yang hanya dapur dan toiletnya tak tercampur buku. Yang pertama kali saya ingat adalah novel Rumah Kertas, ditulis oleh penulis Amerika Latin Carlos Maria Dominguez.

Tiga hari sinau sastra rasanya sangat tidak cukup. Satu bulan kemudian, saya datang kembali ke rumah esais yang juga sering disapa Kabut atau Mawar ini dengan membawa satu koper berisi selimut dan bantal.

****

Bilik Literasi Solo merupakan sebuah rumah joglo Jawa yang menjadi persinggahan orang-orang untuk dolan, menulis esai, mengobrol, berhutang buku, membaca, menulis, hingga menjajah gorengan. Tidak ada acara yang terlalu serius hingga menghadirkan pembicara nasional.

Agenda rutin Bilik dan para santrinya adalah pengajian Malam Senin. Namun jangan mengharapkan pembicaraan ini akan membahas kenapa kapitalisme mengungkung pendidikan di Indonesia atau bagaimana postmodernisme merawat ideolgi bangsa. Mereka hanya mengobrolkan cerita remah-remah dari keseharian manusia.

Setiap malam Jumat ada Tadarus Buku untuk memperbincangkan buku bergantian. Selain dua malam itu, Bilik Literasi juga sering mengadakan sinau dan undangan menulis esai sastra, Tiga Hari Sinau Dumduman Cerita-Cerita Eddy D. Iskandar, Peringatan 100 Tahun HB. Jassin.

Bilik juga menggandeng beberapa klub sastra seperti Pawon. Juga sering belerjasama dengan Majalah Basis.

Ribuan buku dan majalah dari lawas dan baru hadir.  Beberapa tumpukan buku pelajaran sekolah dari orde lama, orde baru, hingga reformasi juga pernah menyentuh tangan saya. Dengan ribuan buku kini Bilik Literasi bisa menjadi tempat rujukan para peneliti, penulis, penikmat dan kritikus sastra, mahasiswa asing, dan dosen.

Bilik Literasi Solo mempersilakan siapapun datang dan bahkan singgah selama berhari-hari. Siapapun !  Proyek penerbitan buku-buku di Bilik pun masih mengandalkan sedekah dan hasil menyisahkan uang jajan di kantin fakultas. Sebagian besarnya diantaranya tanpa ISBN.

Perjumpaan saya dengan anak-anak di sekitar juga sering. Mereka datang untuk membaca dan meminjam buku-buku. Mahasiwa pun datang bergantian membaca hingga menghutang buku. Mengutip kata-kata salah satu santri Bilik, Mba Setya. “Bilik Literasi adalah rumah, di depan tidak ada plakat Taman Baca atau Rumah Baca,”

Hampir sebulan saya menjadi santri di Bilik yang paling rutin menghabiskan gorengan. Bermain dengan anak bungsu Kabut, Bait Daun Takjub yang masih berumum 4 bulan. Membantu membereskan piring yang kotor, membaca dan menulis esai setiap hari. Menyetor dan menuliskannya kembali (Tentu setelah Kabut memeriksanya dan saya diminta untuk mengubah semua isinya)

Setiap subuh, saat mata saya masih berat untuk terbuka. Bandung Mawardi telah selesai bermain dengan anaknya, bahkan telah menyelesaikan satu esai. Pagi sekali, saat pulang dari mengantar kedua anaknya, Abad dan Sabda ke sekolah. Ia telah menyelesaikan kewajibannya berbelanja Koran dan buku. Perlu dicatat ini adalah kewajiban setiap hari.

Pernah suatu hari, selepas maghrib ia bercerita kepada kami tentang seseorang yang menanyakan perihal WhatsApp (WA). Ia diajak bergabung ke sebuah grup Grup Sastra WA KSAJ (Komunitas Sastra Asam Jawa) sebagai ruang bertukar informasi tentang tema sastra-budaya.

Bandung Mawardi menjawab, Owalah. Punyaku cuma bisa untuk pesan pendek dan telpon. Kalau ngirim tulisan keluar desa cari warnet. Email dan FB wae dibuat teman-teman. WA genah aku ora ngerti. Hehe. Sungguh, ponsel Bandung Mawardi yang hanya bisa sms, telpon,  dan mendengarkan radio. Tidak mungkin bisa mengantarkannya pada cuitan di Twitter, WA apalagi Instagram.

Betapa sialnya,  sang pengirim pesan malah enggan percaya, Maaf, penulis besar selevel Panjenengan rasanya tidak pantas berbicara seperti ini. Kalau memang tdk bersedia ya tdk masalah. Bicara Panj seperti itu wujud bahwa Panj tdk bersyukur kpd Allah SWT. Ati-ati. Memiliki smartphone adalah wujud syukur kita kepada Tuhan? Begitu.

Ada yang berbeda dari jalan yang dilakoni oleh Bandung Mawardi. Di tengah trend literasi, rumah-rumah baca tumbuh bak cawan di musim dingin. Kabut lebih memilih berada di jalan sunyi. Ia menjalaninya sebagai sebuah pilihan pengabdian tanpa eforia dan gegap gempita berfoto dan membagikannya di sosial media. Apalagi berharap mendapatkan sepeda dari Presiden Jokowi.

Menutup tulisan ini saya ingin meminjam kata-kata Joyce Carol Oates, “Aku memaksakan diriku untuk mulai menulis di saat aku sudah sangat lelah, ketika aku merasa jiwaku setipis remi, ketika tak ada sesuatu pun yang tampaknya pantas dilakukan untuk 5 menit berikutnya. Dan, kegiatan menulis itu dapat mengubah segalanya.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Previous post

Tiga Pesan Kematian

Next post

5 Lagu Indonesia yang Diam-Diam Dibajak Musisi Internasional