Locita

Jalan Panjang Menyelamatkan Papua

LAMA saya termenung menekuri sebuah foto menampakkan  seorang anak yang kurus, botak dan perut membuncit. Jelas itu merupakan tanda gizi buruk. Foto itu melengkapi laporan rekanan sekaligus relawan untuk Asmat, Dr. Halik Malik. Dia menyebutkan bahwa 71 orang anak sudah menjadi korban meninggal akibat gizi buruk dan campak di sana hingga hari ini.

Beberapa pasien memang telah berangsur membaik dan sebagian telah diperbolehkan pulang, namun kenyataan adanya kematian yang merenggut anak-anak penerus bangsa tetap saja meremukkan hati.

Belum lagi rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang tersedia masih kurang layak dan sangat minim fasilitas. Air bersih yang sejatinya adalah elemen sangat penting untuk menunjang kesehatan, masih sangat terbatas ketersediaanya.

Jangan tanya soal listrik dan sinyal seluler, sangat-sangat minim. Tim yang dipimpin dr. Halik ini adalah tim ke-2 dari kolaborasi Ikatan Dokter Indonesia dan Dompet Dhuafa yang turun ke lapangan untuk membantu masyarakat Asmat.

Tugas tim kedua ini adalah melakukan assessment kondisi lapangan agar kami dapat menentukan program apa yang tepat diberikan kepada masyarakat Asmat.

Laporan ini juga menyebutkan kerja-kerja tim seperti pemberian vitamin A, edukasi kesehatan untuk pasien dan keluarga pasien, serta penyuntikan vaksin campak untuk ratusan siswa TK hingga SMP di Agats. Tim ini juga menyisir daerah-daerah lain di sekitar lokasi, dan menemukan potensi akan terjadinya lagi bencana yang sama jika tidak segera ditanggulangi.

Laporan ini membawa saya mengingat kembali waktu 10 tahun yang lalu. Saat itu saya tergabung dalam Tim Brigade Siaga Bencana (BSB) Kementerian Kesehatan RI. Masalah gizi buruk yang juga menyebabkan kematian pada saat itu di Pegunungan Yahukimo, Papua.

Daerah ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Asmat dimana bencana yang sama sekarang terjadi. Pemerintah kemudian merespon dengan menurunkan tim untuk menanggulangi masalah tersebut.

Saat itu, setiap tim terdiri dari seorang dokter, 2 orang sarjana pertanian, dan seorang polisi dan tentara. Tugas kami adalah  melakukan pelayanan kesehatan, juga memberikan pendampingan agar masyarakat bisa berdaya dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka.

Selama beberapa bulan kami bahu membahu, bergantian beberapa tim turun untuk membantu masyarakat. Hasilnya, hampir semua kawasan berhasil panen dalam jumlah besar. Ah, tanah Papua memang sangat subur. Kabar menyedihkan itu masih datang lagi.

Tentu kita semua paham bahwa gizi buruk dan campak ini bukan lah hal yang datang secara tiba-tiba. Penyakit-penyakit ini menyampaikan pesan kepada kita semua bahwa ada masalah besar yang sedang terjadi di tanah subur dan kaya itu, yang pada gilirannya membawa pada outbreak penyakit seperti saat ini.

Pesan utama yang disampaikan Asmat dan Papua pada kita semua adalah infrastruktur kesehatan yang belum mampu menunjang kehidupan masyarakat. Kita semua tercengang dengan angka 61 anak meninggal begitu saja tanpa bisa dicegah.

Jika saja fasilitas dan layanan kesehatan tersedia untuk mereka, kematian tentu dapat dihindari, minimal tak akan menyentuh angka fantastis tersebut. Juga termasuk dalam hal ini adalah kemampuan masyarakat mengakses fasilitas kesehatan pasti masih sangat minim. Kabupaten Asmat memang banyak dialiri sungai dan berdiri di atas rawa dan harus ditempuh sebelumnya menggunakan pesawat dari Timika.

Pesan penting lain yang juga disampaikan untuk kita adalah bahwa masyarakat Asmat tak lagi mampu memenuhi kebutuhan pangan mereka. Menurut salah seorang teman yang pernah meneliti Papua selama bertahun-tahun, ada perubahan besar yang menyangkut cara hidup dan pola konsumsi masyarakat Papua.

Hutan tempat mereka dulu berburu dan mencari makanan telah makin susut, berganti dengan perkebunan sawit dan alih fungsi lainnya. Hutan memang memiliki posisi istimewa di masyarakat Papua.

Saat hutan perlahan menghilang, hilang pula lah tumpuan hidup masyarakat. Mereka tak lagi bisa mencari umbi-umbian yang dahulu tersedia berlimpah, sagu pun sudah berkurang, hewan buruan menghilang, tanaman-tanaman obat tradisional juga lenyap.

Di sisi lain, budaya nasi putih dan mie instan seolah menjadi tren baru yang digemari. Bahkan seringkali mereka hanya makan nasi yang dicampur penyedap rasa instan. Hasilnya adalah apa yang mereka hadapi saat ini; gizi buruk dan penyakit-penyakit lainnya menyerang ganas.

Kematian anak-anak Asmat adalah panggilan untuk kita semua. Perbaikan infrastruktur jalan yang digalakkan pemerintah sangat tidak cukup untuk menunjang hidup mereka. Mereka butuh fasilitas kesehatan. Mereka butuh bantuan makanan. Mereka butuh bantuan keterampilan hidup.

Mereka butuh pendampingan agar mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar mereka. Mereka butuh kita! Papua memanggil kita!

Malam itu saya memutuskan untuk turun lagi ke pedalaman Asmat, menyusul kawan-kawan sejawat yang telah lebih dahulu terjun.

Suami saya juga sepenuh hati mendukung keputusan ini, dan malah dengan bersemangat mengajak saya berdiskusi mengenai program-program apa yang sekiranya benar-benar dibutuhkan di lapangan.

Dari hasil diskusi dengan berbagai pihak, ada beberapa hal mendesak yang harus kami bawa untuk masyarakat di lokasi bencana. Hal yang pertama dan utama tentu adalah fasilitas kesehatan berupa Pos Sehat. Fasilitas ini akan memberikan pelayanan kesehatan untuk masyarakat secara gratis.

Selain itu, Pos Sehat juga akan menyediakan makanan gizi seimbang untuk masyarakat, juga sepenuhnya gratis. Pos Sehat ini akan menjalankan fungsi edukasi kesehatan dan promosi pola hidup bersih dan sehat.

Salah satu hal penting yang akan diberikan oleh Pos Sehat adalah pemanfaatan tanaman obat sebagai pertolongan pertama jika mengalami masalah kesehatan. Pos Sehat juga akan melatih masyarakat agar mampu memberikan pertolongan pertama jika terjadi keadaan gawat darurat medis.

Hal kedua yang akan kami bawa adalah keterampilan hidup berupa budidaya pangan dan juga teknik penyimpanan makanan. Hutan yang terlanjur hilang tentu tak dapat lagi dikembalikan dalam sekejap mata.

Mungkin akan butuh ratusan tahun lagi agar hutan yang sama dapat kembali lagi. Karenanya, kami memilih untuk memberikan keterampilan berkebun dan bercocok tanam. Pilihan tanaman yang akan diberikan akan disesuaikan dengan kondisi tanah dan kearifan lokal mereka.

Beberapa teman mengingatkan bahwa nasi putih belum tentu cocok untuk masyarakat Papua, karena secara genetik mereka terbiasa dengan makanan berkalori rendah seperti umbi-umbian dan sagu. Budidaya ikan dan ternak juga sangat penting untuk memenuhi kebutuhan protein dan lemak masyarakat.

Tak lupa, kami juga akan membangun beberapa fasilitas penunjang kehidupan. Fasilitas utama adalah instalasi penyediaan air bersih. Belajar dari pengalaman kami di Kamp Pengungsi Rohingya, kami juga akan membuat fasilitas yang sama di beberapa titik di Asmat. Kami menyadari bahwa air bersih sangat vital artinya dalam menjamin kesehatan masyarakat.

Fasilitas lain adalah sumber listrik. Tidak hanya untuk masyarakat, beberapa alat kesehatan tidak dapat digunakan tanpa aliran listrik. Begitu juga pendidikan anak dan kelancaran arus komunikasi akan sangat terbantu jika tersedia sumber listrik. Sumber listrik yang akan kami bangun adalah listrik dengan tenaga terbarukan, dengan memanfaatkan tenaga matahari ataupun microhydro dan aliran sungai.

Tentu saja kami menyadari bahwa apa yang akan kami bawa ini bukan hal yang mudah untuk diwujudkan. Kami sadar sepenuhnya bahwa dibutuhkan tenaga, waktu, kesabaran, dan juga dana yang tidak sedikit agar apa yang kami cita-citakan dapat terwujud. Papua adalah Indonesia, dan masyarakat Indonesia sejatinya telah banyak menikmati hasil bumi yang diambil dari Tanah Papua.

Apa masih perlu lagi nyawa melayang karena kelalaian, tak boleh lagi anak jatuh sakit karena kurang makan? Apa kita bisa dengan senang memotret penganan kita untuk Instagram, tanpa memikirkan anak-anak Papua?

Papua memanggil kita, dan kita harus menjawab panggilan itu!

Rosita Rivai

Aktivis kemanusiaan Dompet Dhuafa

Add comment

Tentang Penulis

Rosita Rivai

Aktivis kemanusiaan Dompet Dhuafa

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.