Locita

Indonesiaku, Mari Bernostalgia dengan Kisah Kaum Luth

Kalau dihitung-hitung, sudah tiga hari pikiran saya disentil oleh isu LGBT yang nangkring di headline media-media massa.

Tadi pagi pun saya sempat mendapat pesan lewat whatsapp dari salah seorang sahabat di Sulawesi, isinya meme lucu yang masih berkaitan dengan topik LGBT di atas, saya cukup membalasnya dengan guyonan yang setimpal.

Entah mungkin ini cuman sugesti pribadi atau memang kebetulan, seolah-olah setiap orang yang saya temui selama kurang lebih tiga hari terakhir-entah memang sengaja atau tidak-selalu mengangkat-angkat masalah ini.

Ah, mungkin memang cuman pikiran saya yang begitu, toh biasanya masyarakat memang sering begitu. Menjadikan berita-berita ter-update sebagai bahan obrolan sehari-hari, hitung-hitung jadi modal basa-basi lah.

Hikayat LGBT ini akar muasalnya bermula dari keputusan Mahkamah konstitusi, Kamis 14 desember lalu yang menolak gugatan uji materi pasal kitab undang-undang hukum pidana tentang zina dan hubungan sesama jenis. Seperti biasa, kubu pro dan kontra entah dari mana asalnya, tanpa komando muncul dengan sejuta opini mereka ikut merespon permasalahan ini.

Ada yang menyesalkan keputusan tersebut, ada pula yang menganggap bahwa sikap yang diambil MK sudah cukup bijaksana. Membaca argumentasi dari masing-masing pihak ini cukup membuat saya manggut-manggut sendiri dengan alasan mereka, mendukung ataupun menolak.

Yang jelas tulisan ini tidak saya maksudkan untuk memperpanjang perdebatan yang  telah terjadi di meja sidang, ataupun yang juga telah dilanjutkan oleh netizen lewat akun-akun media sosial mereka, mungkin di lain waktu.

Kisah LGBT di Indonesia mengingatkan saya akan kisah kaum Luth yang sudah pasti familiar oleh masing-masing kita. Kalau diingat-ingat, biasanya kisah-kisah nabi dan rasul ini sering kita temukan diselipkan oleh guru-guru ngaji taman pendidikan al-qur’an, juga dalam uraian buku-buku PAI (pendidikan agama Islam) sewaktu sekolah dasar dulu.

Saya sendiri sebenarnya lupa dari mana kisah ini saya dengarkan pertama kalinya. Yang cukup membuat yakin bahwa kisah tersebut sudah terekam sejak kecil, mengingat dulu memang saya sempat memiliki koleksi komik mini seri kisah-kisah nabi yang dibeli di depan sekolah.

Kembali bernostalgia dengan cerita tersebut, kisah kaum Luth atau yang biasa juga disebut kaum sodom ini, sebenarnya diabadikan dalam literatur-literatur keagamaan.

Al-Qur’an sendiri, kitab suci umat muslim menyebutkan kisah kaum Sodom ini pada sejumlah ayat dalam surah-surah yang berbeda. Semisal dalam QS. al-‘Ankabut:28, QS. al-A’raf:80-82, As-Syua’ara: 165-166 juga pada QS al-Naml: 54-57.

Hanya saja pada uraian ayat-ayat tersebut kisah ini tidak dijabarkan al-Qur’an secara detail. Pada dasarnya unsur-unsur intrinsik yang termuat dalam kisah-kisah al-Qur’an, memang berbeda dengan hikayat ataupun cerita dalam karya sastra umum yang tentunya lebih komplit.

Ini disebabkan karena al-Qur’an memang lebih menitikberatkan akan pesan moral yang coba diedukasikan melalui kisah-kisah tersebut, agar pembacanya memetik hikmah darinya.

Untuk lebih menyederhanakannya bisa dikatakan bahwa ideal moral yang coba diajarkan al-Qur’an melalui kisah  peradaban kaum Luth ini, sejatinya ingin menggugah kembali kesadaran keberagamaan kita.

Lewat kisah ini kita kembali diajak berpikir, merenungi hikmah dibalik setiap perintah, larangan, anjuran, serta tuntunan yang diajarkan agama.

Bila nasib kaum Sodom berakhir dengan tragis dari pentas dunia karena penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan, lantas bagaimana dengan nasib Indonesia kita nanti ? kemudaratan apa yang akan menimpa bangsa kita bila persoalan ini dibiarkan semakin berkalut-kalut?

Riset menunjukkan bahwa gaya hidup seks bebas, termasuk di dalamnya ialah hubungan antar sesama jenis, masih menjadi faktor utama yang menyebabkan jumlah pengidap AIDS kian hari makin mengkhawatirkan.

Sebanyak 78 % pelaku homoseksual dipastikan terjangkit penyakit menular. Di Amerika kaum homoseksual menyebabkan 33 % kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak, padahal populasi mereka hanya berjumlah sekitar 2 % dari keseluruhan penduduk Amerika.

Contoh-contoh di atas hanyalah segelintir dari dampak negatif yang lahir bila patologi sosial yang bernama “LGBT” ini dibiarkan membabi-buta.

Perlu digarisbawahi, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan atau bahkan mendiskriminasikan komunitas-komunitas LGBT yang ada di Indonesia.

Permasalahan LGBT adalah PR bersama bagi bangsa kita. Setiap elemen masyarakat, baik dari pemerintah, tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat, dan lain sebagainya punya tanggug jawab moril untuk kembali berembuk, mencari solusi dari permasalahan ini.

Pelaku-pelaku LGBT adalah saudara-saudara kita yang ‘kebetulan’ sedang terjerat masalah. Rangkul mereka untuk menyelesaikan beban permasalahannya, bukan malah dipandang sebelah mata, dicibir ke sana kemari.

Mari sama-sama kita lakukan yang terbaik sebisa kita untuk menjaga masa depan bangsa ini. Walhasil masing-masing kita tentu berharap yang terbaik untuk negeri ini. Indonesiaku.

Rianto Hasan

Rianto Hasan

Sosok idealis yg cacat mental, intelek abal-abal, salik picisan..
Sekarang ngemis di yogya

Tentang Penulis

Rianto Hasan

Rianto Hasan

Sosok idealis yg cacat mental, intelek abal-abal, salik picisan..
Sekarang ngemis di yogya

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.