Locita

Indonesia dan Sebuah Mimpi Menghirup Udara Bebas Polusi

ilustrasi polusi di kota jakarta
ilustrasi polusi di kota jakarta

SIAPA yang tidak ingin menghirup udara segar tanpa polusi? Udara bersih bebas dari polusi adalah salah satu hal yang paling dicari orang dari waktu ke waktu.

Kota-kota besar di Indonesia yang berlomba-lomba dalam membuka ruang terbuka hijau adalah bukti bahwa kebutuhan udara bebas polusi yang semakin meningkat. Ratusan atau bahkan ribuan mobil yang rela antri memasuki tol Cipularang menuju arah puncak bogor setiap hari sabtu juga merupakan gambaran bahwa orang-orang, khususnya “orang kota”, membutuhkan udara bebas polusi.

Semua orang butuh udara bebas polusi!

Bukan hanya itu, para developer di perkotaan juga turut ambil bagian untuk memanfaatkan momentum terkait udara bebas polusi. Sebut saja di ibu kota Indonesia, Jakarta.

Hampir seluruh proyek apartment atau pun perumahan elit menawarkan fasilitas taman atau ruang terbuka hijau sebagai penilaian andalan yang dijual kepada calon pembelinya. Pihak pengembang mengetahui betul bahwa udara bebas polusi adalah barang mahal yang dicari orang di era ini.

Itu semua semakin menggambarkan bahwa hidup dipenuhi dengan udara bebas polusi adalah dambaan bagi setiap orang. Namun apa mau dikata ketika sekuat apapun usaha yang dilakukan polusi masih menjadi benalu yang ada di sekitar kita.

Rasanya di mimpi pun orang perkotaan sulit lepas dari polusi udara. Bagaimana tidak, dengan jumlah kendaraan bermotor yang kian hari kian meningkat setidaknya sudah menggambarkan mimpi itu sulit diwujudkan.

Tidak dapat dipungkuri bahwa mayoritas kendaraan di negeri tercinta ini masih dalam kategori kendaraan berbahan bakar minyak yang memproduksi polusi udara berupa gas karbondioksia (CO2). Semua punya andil yang sama dalam berkontribusi menggagalkan mimpi hidup berlimpah udara bebas polusi untuk dapat terwujud.

Anak-anak muda atau di bawah usia yang kini tren dengan sebutan “kids jaman now” pun sudah ikut berdosa dalam berkontribusi mencemari udara. Betapa tidak, ponsel yang sering mereka gunakan untuk bermain game atau mendengarkan musik setiap harinya juga membutuhkan daya berupa energi listrik yang juga andil dalam pencemaran udara.

Sebut saja PLN, BUMN pemasok listrik di negeri ini masih menggunakan batu bara dan bahan bakar minyak sebagai bahan bakar utamanya. Kedua bahan bakar tersebut merupakan bahan bakar urutan pertama dan kedua dalam urutan bahan bakar penyumbang gas karbon dioksida terbanyak sebagai polusi udara.

Mimpi dapat hidup bergelimang udara bersih pun kian sirna. Tidak hanya itu, bahkan seorang musisi terkenal yang menciptakan lagu-lagu hits pun memiliki dosa dalam pencemaran udara.

Semakin banyak lagu-lagu mereka yang didengarkan oleh orang, semakin banyak juga kebutuhan energi yang dibutuhkan untuk menghidupi alat elektronik yang digunakan pendengar. Akhirnya semakin banyak pula polusi udara yang didapatkan karena semakin banyak batu bara dan minyak yang digunakan untuk menghasilkan energi tersebut.

Youtubers, pembuat game online dan bahkan ibu-ibu yang berjualan online untuk pemasukan tambahan keluarganya juga memiliki kontribusi dalam mencemari lingkungan. Hal itu dikarenakan mereka telah mendorong orang menggunakan alat elektronik untuk menuju hal-hal
tersebut.

Ya, semua mempunyai dosa yang sama. Disukai atau tidak, hal ini sudah berlangsung sejak waktu yang cukup lama dan kemungkinan akan terus berjalan ke depannya.

Bahkan jika diperhatikan lebih seksama, usaha yang dilakukan orang-orang untuk mendapatkan udara bersih, contohnya dengan memacu kendaraan bermotornya menuju ke kawasan puncuk atau pegunungan, juga sudah menyumbang sedikit atau banyak polusi di daerah tersebut.

Hal ini sangatlah mungkin jika terdapat ratusan atau bahkan ribuan kendaraan bermotor yangmembanjiri daerah tersebut. Hal ini seperti memakan buah simalakama untuk mereka. Ingin mendapatkan udara bersih, tetapi malah mereka sendiri yang mengotori udara bersih yang mereka butuhkan.

Hal ini juga menjelaskan bahwa polusi udara dan aktifitas manusia bak sebuah rantai yang saling berhubungan satu sama lain. Keberadaan akan energi yang bebas polusi nampaknya adalah pekerjaan besar yang harus diselesaikan agar orang-orang dapat mulai bermimpi mendapatkan udara bebas polusi.

Nampaknya ini juga menjadi pekerjaan rumah utama bagi semua kalangan dikala ketersediaan ruang terbuka hijau buatan juga belum mampu mewujudkan kebutuhan udara bebas polusi. Jika semua itu sudah terpenuhi, maka seharusnya judul tulisan ini pun dapat kita balik, “Tak perlu lagi berharap dalam mimpi, udara bebas polusi kini melimpah di alam nyata!”

Diyono Harun

Diyono Harun

Dosen dan Yayasan Insan Cita Bangsa Awardee.

Tentang Penulis

Diyono Harun

Diyono Harun

Dosen dan Yayasan Insan Cita Bangsa Awardee.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.