Locita

Hikmah Anies Dicegat Paspampres

Ilustrasi (foto: suratkabar.id)

SEMUA orang ribut hanya gara-gara insiden paspampres menahan Gubernur Anies ikut mendampingi Presiden Jokowi. Anggap saja di situ ada penghinaan. Bukankah yang dihina tak akan berkurang kemuliaannya hanya karena hinaan itu, dan yang menghina juga tak akan meningkat derajatnya? Kalau mereka justru tertawa-tawa dan gembira selama pertandingan bola itu, lantas siapa yang baper?

Ya, kita-kita yang melulu berpikir politis dan ingin mengapitalisasi penghinaan itu jadi dukungan. Ya, kita-kita yang terlanjur mencintai semua junjungan kita dalam politik sehingga tak bisa keluar dari kotak pendukung, lalu santai ngopi-ngopi dan menertawakan para idola kita. Ya, kita-kita yang selalu berpikir bahwa ini ada skenario politik untuk menyingkirkan yang lain.

Sejak pemilihan presiden lalu, kita semua terpecah dalam dua kubu, yang namanya diambil dari nama-nama hewan. Ada yang disebut cebongers, hanya karena junjungannya pernah melepas kodok dan kecebong di kolam istana. Ada juga yang disebut kampret sebagai bentuk olok-olok. Dua kubu ini seperti dua kelompok anak kecil yang ribut gara-gara tidak kebagian permen lalu saling nyinyir.

Media sosial kita dipenuhi ujaran dan ledekan. Panggung kehidupan hanya dilihat arena untuk menemukan kesalahan dari patron politik, demi bahan ledekan baru. Akuilah, kalau kita sedang mengidolakan seseorang lalu berusaha membenarkan semua yang dilakukannya. Akuilah pula kalau kita tak suka dengan seseorang, sehingga ketika melakukan kesalahan, segera akan menjadi bahan ledekan baru di media sosial.

Media sosial kita jadi berisik dengan hal yang remeh-temeh yang tak ada kaitannya dengan hajat hidup rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Anggaplah ada konflik antara Jokowi dan Anies yang bermuara pada popularitas calon presiden. Pertanyaannya, apakah konflik mereka itu sesuatu yang substantif dan menyangkut kita semua, ataukah konflik itu muncul hanya karena kita suka membesar-besarkan sesuatu?

Tak cuma itu. Para pengamat baru bermunculan. Sejak peristiwa kemarin, banyak yang tiba-tiba jadi pakar soal keprotokoleran. Tiba-tiba saja membagikan berbagai pasal dalam undang-undang demi mengatakan bahwa seharusnya gubernur mendampingi presiden. Di kubu sebelah, muncul pula pakar yang menjelaskan bahwa itu bukanlah acara resmi sehingga aturannya fleksibel.

Di satu dinding media sosial seorang sahabat yang bekerja di lembaga internasional, saya melihat debat kusir tentang aturan keprotokoleran. Padahal, debat itu harusnya disederhanakan. Sahabat itu adalah pendukung Anies sehingga dirinya akan mengulik semua aturan demi menunjukkan betapa kelirunya paspampres.

Sementara pendebatnya adalah pendukung Jokowi yang melihat peristiwa itu sah-sah saja dilakukan. Harusnya, pertanyaan yang muncul adalah apa manfaat peristiwa itu pada kehidupan petani yang kian susah karena beras impor selalu berdatangan?

Ah, mungkin saja kita masih mengenang jelas peristiwa beberapa tahun silam, saat suami presiden mengatai seorang menteri sebagai jenderal kekanak-kanakan. Peristiwa itu dikapitalisasi dengan segera sehingga sang menteri akhirnya menjadi presiden. Peristiwa itu menunjukkan bahwa kita memandang politik serupa memandang gosip artis, yang akan berujung pada dukung-mendukung.

Padahal, kalau mau jujur, kehidupan kita tak pernah beranjak maju. Dari presiden ke presiden, banyak rakyat tetap miskin, tetap melarat, dan hanya bisa makan nasi basi. Dari pemilu ke pemilu, berbagai janji ditebar, dan kehidupan tetap saja susah. Pertengkaran dua politisi tak akan membawa manfaat apa-apa bagi banyaknya masalah di masyarakat kita yang membutuhkan kehadiran negara di situ.

Di tengah semua timbunan janji itu, kita rakyat biasa selalu bangkit dan berjibaku demi kehidupan kita sendiri. Pada akhirnya, nasib kita akan ditentukan pada sejauh mana kerja keras kita untuk membanting tulang, bukan pada sejauh mana realisasi janji seorang politisi. Kita merasa terhormat ketika berhasil mendapatkan sesuap nasi dari hasil kerja keras dan banting tulang. Kita merasa terhina apabila rejeki didapatkan dari hasil korupsi dan bagi-bagi seorang politisi.

Come on, hentikanlah perdebatan tak penting itu. Para politisi kita terlihat baik-baik saja. Tawa canda selalu hadir dalam setiap pertemuan mereka. Tak perlu kita kurang kerjaan dan tiba-tiba baper hanya karena melihat ada yang mati gaya dan kehilangan panggung.

Yakinlah, Gubernur Anies punya panggung yang jauh lebih besar dari sekadar Stadion GBK yakni seluruh wilayah DKI Jakarta yang dipenuhi kerja-kerja cerdas dan kreatifnya. Yakin pula, Pak Jokowi juga punya arena luas yakni pemenuhan kewajibannya sebagai presiden yang mengatur hajat hidup lebih 200 juta rakyat Indonesia. Mereka punya agenda, dan kita pun punya begitu banyak energi untuk membahas hal-hal yang jauh lebih penting.

Kepada Presiden Jokowi, harusnya kita ajukan seribu tanya, sudah berapa banyak kerja-kerja yang dilakukannya untuk memenuhi semua janji yang disebarnya ketika kampanye dahulu? Apakah dia bisa mendorong pemerataan ekonomi sehingga seluruh wilayah kita bercahaya di malam hari? Apakah dia bisa mendorong kemandirian serta hasrat bekerja warganya sehingga bangga dengan apa yang dihasilkan negeri sendiri, tanpa harus menunggu kebaikan negara lain?

Kepada Gubernur Anies, perlu pula kita ajukan pertanyaan, apakah dirinya sudah punya rencana bagaimana mewujudkan Jakarta bebas banjir sekaligus rumah yang membahagiakan semua orang termasuk orang yang dahulu tidak memilihnya? Apakah kerja-kerja di DKI telah tuntas dilakukannya sehingga dirinya merasa pantas untuk maju dan bertarung di arena politik yang lebih tinggi?

Kepada diri sendiri, mesti pula kita ajukan pertanyaan. Apakah diri kita bisa menjadi rahmat bagi mereka yang berumah di sekitaran kita? Apakah kita punya waktu untuk sekadar memikirkan dunia sekitar, lalu berikhtiar untuk melakukan hap-hal kecil tapi minimal punya dampak bagi para sahabat, tetangga, serta keluarga kita sendiri?

Ataukah kita hanya menjadi beban dari orang-orang baik di sekitar kita yang setiap saat memikirkan kita. Jangan-jangan orang-orang di sekitar kita capek memikirkan kita yang masih jomblo dan hanya sibuk naksir kiri kanan, tanpa eksekusi?

 

Yusran Darmawan

peneliti, pejalan, dan penggemar kuliner

1 comment

Tentang Penulis

Yusran Darmawan

peneliti, pejalan, dan penggemar kuliner

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.