Locita

Wahai Sang Penyebar Kebencian di Media Sosial, Berhentilah jadi Zombi Menyambut Tahun Baru Hijriyah

Sumber Foto: Brilio.net

“TIDAK ada manusia dilahirkan untuk membenci manusia yang lain karena warna kulitnya, latar belakang-keturunannya, atau agamanya.Untuk bisa membenci, seorang manusia harus melewati proses belajar. Jika mereka dapat belajar untuk membenci, mereka pasti dapat diajarkan untuk mencintai” Nelson Mandela (1918 – 2013).

Kebencian umumnya bermula dari prasangka, ia adalah hantu yang mengangkangi pikiran. Asal-muasal mispersepsi terhadap orang/kelompok lain. Prasangka serupa mitos yang bertujuan melanggengkan sikap antipati, kebencian, permusuhan, hingga konflik berujung perang.

Prasangka juga, semacam imaji yang menyelubungi alam pikiran yang membuat kita terlanjur melekatkan persepsi stigmatik kepada orang/kelompok tertentu, secara sadar. Persepsi miring itu berurat-berakar karena problem disinformasi yang berlangsung secara massif dan kontinyu, ia terus dipropagandakan dari orang ke orang. Mulut ke telinga dan seterusnya hingga mengalami kristalisasi di alam bawah sadar kita.

Sebagaimana para penganut islamophobia melihat orang-orang Muslim, para pengidap kristenophobia melihat orang-orang Kristen, para pengusung anti-semitisme melihat orang-orang Yahudi, atau cara para bebal yang melihat orang-orang dari kelompok suku/ras tertentu dengan penuh stigma dan stereotyping.

Ilusi Identitas Tunggal

Sikap penuh prasangka yang masih kerap kita jumpai, semisal bagaimana pria (muslim) yang berjenggot dan perempuan (muslimah) yang bercadar selalu diidentikkan dengan radikalisme bahkan terorisme. Hanya karena pada satu dua kasus, terdapat oknum-oknum yang juga mengekspresikan diri dengan hal serupa, melakukan kekekerasan hingga teror.

Padahal, kedua ekpresi keberagamaan tersebut tak terkait sama sekali dengan sikap radikal dan tindakan teror, karena jenggot dan cadar hanyalah bentuk ekspresi keagamaan yang didasarkan pada pemahaman atas (teks) ajaran Islam. Sebagaimana jubah dan surban: dimensi kebudayaan yang bagi sebagian penganut agama Islam adalah bagian dari Islam itu sendiri.

Labeling dan stigmatisasi menggunakan simbol-simbol keagamaan kelompok tertentu, sebentuk propaganda untuk merawat kebencian. Seperti efek domino dari kejahatan kemanusiaan (genosida) yang menimpa etnik Rohingya (Muslim) di Myanmar, kekerasan yang telah merenggut ribuan jiwa itu. Dilakukan oleh militer, melibatkan kelompok ekstrim buddhis dikomandoi Biksu Wirathu.

Namun apa pasal, hadirnya kelompok biksu yang dinilai sebagai representase agama Buddha itu menimbulkan gelombang kebencian kepada penganut Buddha. Hal itu terus diproduksi di linimasa media sosial.

Kecenderungan over-generalisasi (fallacy of dramatic instance), tanpa mau melihat orang-orang dalam kelompok tertentu sebagai individu (person) yang memiliki karakter, pengetahuan-wawasan hingga sikap yang berbeda dengan keunikannya masing-masing. Memunculkan apa yang disebut — meminjam istilah Amartya Sen– sebagai ilusi identitas tunggal, imajinasi tentang karakter, watak dan sifat determinan yang melekat pada suatu orang/kelompok yang dipersepsikan sebagai hal yang bersifat kodrati, alias “dari sononya”, sebuah logika induktif yang cacat pikir. Ilusi ini, seringkali menjadi sumbu kerusuhan massal berbasis kelompok.

Bisnis Kebencian

Kebencian adalah senjata pemusnah, ia bukan saja dapat membunuh manusia (menghabisi karakter hingga merenggut jiwa), tetapi juga dapat menghancurkan rasa-nurani kemanusiaan. Raibnya rasa-nurani kemanusiaan, adalah malapetaka terbesar dalam babakan sejarah umat manusia.

Kebencian kini menjadi bisnis yang menggiurkan, sebab konten kebencian di era socmed dan smartphone merupakan produk yang diminati banyak kalangan, ia dikonsumsi secara massal dan dibagikan secara massif.

Bahkan, pada level tertentu konten kebencian bisa menjadi serupa candu, ia bekerja layaknya narkoba merusak akal sehat, sehingga tak mengkonsumsi dan atau menyebarkan konten kebencian itu, bisa membuat pecandunya sakau. Orang-orang yang sudah kecanduan konten kebencian itu biasanya akan berubah menjadi  “zombie”. Ia melihat manusia lain -yang berbeda, bukan lagi sebagai saudara, tetapi sebagai mangsa.

Kisah tertangkapnya sindikat produsen dan penyebar konten kebencian Saracen menjadi bukti bahwa kebencian ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi ia dapat menyerang lawan dengan sangat telak, namun di sisi yang lain kerapkali menyerang balik sang tuan hingga tak mampu lagi mengelak.

Hal yang memperihatinkan, karena dibalik proyek kebencian Saracen, terdapat berbagai intrik politik yang melingkupinya, kebencian menjadi alat propaganda untuk tujuan politik pihak-pihak tertentu. Pada titik ini, kemanusiaan dan persatuan dikorbankan demi kepentingan politik sektarian. Padahal “yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan” Gus Dur (1942-2009).

Episode propaganda kebencian melalui konten media sosial tentu tak akan berakhir setelah tertangkapnya grup saracen. Karena kebencian akan terus bereproduksi selama masih ada pihak yang tak mampu menerima perbedaan dan ingin terus merawat prasangka, tanpa pernah mau berusaha mengurainya.

Mengurai prasangka dalam kepala tentu bukan perkara mudah, karena ia bekerja sangat halus dan tak terjamah panca indera. Kendati demikian prasangka dapat diminimalisir dengan terus merawat keterbukaan pikiran untuk mau menerima informasi dari berbagai sumber, dan keterbukaan diri untuk mau belajar, kepada siapa saja.

Kita memang tak bisa mencegah orang lain untuk berprasangka (buruk) kepada kita, tetapi kita punya daya untuk berhijrah dari prasangka terhadap orang lain. Selamat tahun baru Hijriyah!

M. Fadlan L Nasurung

Koordinator di Jaringan GUSDURian Makassar.

Tentang Penulis

M. Fadlan L Nasurung

Koordinator di Jaringan GUSDURian Makassar.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.