Locita

Hidung Pesek, Hoaks, dan Secuil Kisah Penciptaan Adam

Beberapa waktu lalu media sosial diramaikan oleh perbincangan, atau lebih tepatnya perdebatan sengit, tentang seorang juru dakwah yang, pada saat melakoni sesi tanya jawab seusai ceramah, menyampaikan pendapat yang dianggap memuat unsur penghinaan fisik terhadap selebritas bernama Rina Nose, seorang pekerja entertainment berhidung pesek.

Kontroversi dipicu oleh pertanyaan seorang jemaah mengenai pandangan Ustaz Abdul Somad, nama juru dakwah itu, tentang keputusan sang selebritas untuk menanggalkan jilbabnya, tidak memakainya lagi. Oh iya, penanya itu menekankan pada bagian kalimat yang menyebutkan bahwa bagi Rina Nose “tidak ada perubahan sama sekali terhadap dirinya sebelum dan sesudah melepas jilbab.”

Menanggapi pertanyaan dengan penekanan semacam itu sang ustaz balik bertanya kepada si penanya, mungkin untuk meyakinkan dirinya, yang menurut pemberitaan media yang mengutip peristiwa itu bahwa sang juru dakwah tidak familier dengan dunia entertainment, bahwa Rina Nose yang dimaksud adalah betul seorang selebritas.

Setelah dijawab iya oleh si penanya dan dia telah yakin bahwa Rina Nose yang menjadi objek pertanyaan adalah sama dengan yang dia maksud maka Ustaz Somad menjawab dengan: “Yang pesek itu? Saya kalau artis-artis jelek kurang berminat saya mengamati apa kelebihan dia? Pesek, buruk itu lho.”

Tak butuh waktu lama bagi warganet untuk mengetahui berita ini dan kemudian bereaksi terhadap jawaban itu dengan aksi yang beragam. Sebagian warganet membela Rina Nose dan keputusannya menanggalkan jilbab sebagai hal yang personal dan sekaligus menyayangkan kata ‘pesek’, ‘artis-artis jelek’, dan ‘buruk’ bisa keluar dari mulut seorang juru dakwah, yang seyogianya menjadi teladan dalam bertutur kata.

Mereka berdalih adalah hal yang tidak pantas bagi seorang juru dakwah menyebut bagian tertentu dari tubuh seseorang dengan diksi kata yang bagi pendengarnya bisa dipahami sebagai kalimat yang memuat unsur penghinaan.

Reaksi yang berbeda kemudian muncul, sebagian warganet membela sang ustaz dengan dalih bahwa tidak terdapat satu pun pemuatan unsur penghinaan dalam kalimat itu sebagaimana dituduhkan oleh pihak yang membela Rina Nose. Bahkan, para pembela sang ustaz mengajukan tuduhan balik kepada para pengkritiknya bahwa mereka telah gagal memahami kewajiban dalam Islam bagi seorang muslimah untuk mengenakan jilbab, dan, mereka menambahkan lagi: adalah tugas seorang ustaz menyampaikan tuntunan agama tentang kewajiban berjilbab.

Kedua kubu lanjut berbalas opini dan pada sebagian perdebatan kemudian menambahinya dengan berita-berita, yang salah satunya menurut saya belum dapat diverifikasi kebenarannya hingga hari ini, bahwa Rina Nose telah murtad, berpindah agama. Lain halnya jika Rina Nose mengakui apa yang dituduhkan itu atau ada bukti lain yang meyakinkan maka ia menjadi bernilai berita, yang kemudian bisa dipertanggungjawabkan.

Tetapi jika terbukti bahwa kabar burung itu salah maka itulah yang dinamakan hoaks. Di sinilah saya ingin memberikan penekanan, apabila tidak berhati-hati mengutip berita, terutama dari media yang abal-abal atau sumber yang belum terverifikasi, kita bisa terhasut dan mempercayai kebenaran dari sebuah berita bohong atau hoaks.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi ke V yang saya akses secara daring mendefinisikan hoaks dengan sangat singkat, hoaks adalah berita bohong. Sedangkan kamus Merriam-Webster yang juga saya akses secara daring mendefinisikannya sebagai, “to trick into believing or accepting as genuine something false and often preposterous.”

Jika dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia, hoaks adalah sebuah tipuan yang membuat seseorang meyakini dan menerima sesuatu yang salah, dan yang acap kali mustahil, sebagai sebuah kebenaran.

Kata hoaks sendiri mulai digunakan di tahun 1808, yang diyakini berasal dari kata hocus; yang diambil dari pecahan kata dari mantra hocus pocus yang digunakan pesulap dalam pertunjukannya, seperti frasa ‘abracadabra’ atau ‘sim salabim’.

Hasil penjelajahan daring saya lebih lanjut menunjukkan bahwa hoaks pertama yang tercatat dalam sejarah adalah Drummer of Tedworth di tahun 1661 dari Wiltshire, Inggris. Adalah John Mompesson, seorang tuan tanah yang pada mulanya menyebarkan cerita bahwa setiap malam ia mendengar bunyi drum yang dimainkan di salah satu ruangan di rumahnya namun saat sumber bunyi didatangi tak ditemukan siapapun, atau apapun. Ia meyakini bahwa bunyi tersebut berasal dari arwah, atau dunia tak kasat mata.

Suatu ketika ia bertemu dengan seorang penulis bernama Joseph Glanvill yang kemudian tertarik dengan ceritanya. Mempesson kemudian menambahkan bahwa bunyi drum itu baru hadir setelah ia menuntut seorang pemain drum gipsy bernama William Drury ke pengadilan, dan memenangkan perkaranya.

Ia meyakini bunyi-bunyi itu adalah kiriman sihir atau guna-guna dari Drury sebagai balasan atas kekalahannya. Glanvill kemudian membukukan cerita itu dalam beberapa buku berseri yang menghasilkan penjualan buku yang sukses. Namun pada akhirnya, di buku terakhir dari serial itu, ia membuat pengakuan bahwa semua kisahnya adalah reka-fiksinya semata.

Di Indonesia, fenomena produksi hoaks baru menemukan momentumnya dengan gemilang di Pemilu Presiden 2014. Jika sebelumnya orang abai terhadap hoaks dan menganggapnya sebagai berita bohong yang kehadirannya ‘wajar’ pada kontestasi politik namun sejak Pemilu Presiden 2014 hoaks mulai diperhatikan dengan serius karena dampaknya yang destruktif.

Sebagai contoh, pada saat itu kita bisa dengan begitu mudahnya menemukan hoaks di media sosial, misalnya calon presiden Jokowi bukan beragama Islam, bahwa Jokowi adalah anak dari tokoh PKI, bahwa calon presiden Prabowo tidak memiliki alat kelamin lagi karena telah dipotong oleh Fretilin saat bertugas di Timor Timur, dan sebagainya. Bahkan sekali dua kali media arus utama ikut terjebak dalam pemberitaan hoaks.

Dari Glanvill hingga pembuat berita hoaks di Pemilu Presiden 2014, saya menilai terdapat kesamaan yaitu memiliki motif, dilakukan dengan sengaja untuk kepentingan tertentu. Jika Glanvill melakukannya karena motif ekonomi, berita bohong yang ditujukan kepada kedua calon presiden itu bermotif politik untuk membesarkan tokoh politik pilihannya dan mengerdilkan lawan dari tokoh politik pilihan si pembuat berita bohong.

Motif-motif itu juga yang kemudian dijadikan bahan bakar untuk memproduksi hoaks yang datang sesudah Pemilu Presiden 2014 berakhir. Terbongkarnya kelompok Saracen, kelompok dengan motif ekonomi yang memproduksi hoaks seputar pemberitaan politik, pada tahun 2017 ini seolah-olah membenarkan asumsi bahwa hoaks adalah salah satu strategi yang dianggap efektif untuk menggenjot suara seorang tokoh politik.

Saya menduga bahwa pembela Rina Nose dan pembela Ustaz Somad berada di kubu politik yang berseberangan yang sebenarnya tidak memaknai perdebatan soal wajib tidaknya jilbab dan ada-tidaknya unsur penghinaan sebagai peristiwa tunggal melainkan lanjutan dari perdebatan kubu-kubu yang dibangun pasca-pemilu 2014.

Tetapi, saya tidak akan lanjut membahas hoaks dalam konteks politik terkini. Saya justru akan mengajak kita semua untuk menyelami sebuah kisah yang sudah familier bagi penganut agama abrahamik, khususnya Islam, agama yang saya anut, tentang penciptaan Adam, tentang perundungan fisik yang pertama kali dalam sejarah dan produksi hoaks yang juga pertama kali dalam sejarah, menurut versi Alquran.

Merujuk pada surat Albaqoroh, surat ke-2 dalam Alquran dari rentang ayat ke-30 hingga ke-39, dikisahkan bahwa penciptaan Adam diawali dengan diskusi antara Tuhan dengan para malaikat. Awalnya para malaikat mempertanyakan keputusan-Nya untuk menciptakan manusia karena dalam pandangan mereka manusia adalah makhluk yang akan merusak dan menumpahkan darah di atas muka Bumi, namun kemudian Tuhan mengatakan bahwa Dia Maha Tahu dan para malaikat tidak.

Setelah Adam diciptakan dari tanah dan menjadi makhluk dengan sebutan manusia, Dia pun mengajarinya ilmu pengetahuan: nama-tentang-segala-sesuatu.

Yang menarik, para pemuka ahli tafsir memiliki pendapat yang beragam mengenai nama-tentang-segala-sesuatu itu. Saya kutip dua pendapat, pertama dari Imam Mujahid ahli tafsir terkemuka dari kelompok tabiin yang meyakini bahwa yang diajarkan adalah nama-nama binatang melata, burung dan segalanya.

Sedangkan pendapat kedua dari Ibnu Jarir Althabari ahli tafsir dari Persia yang membatasi penyebutan hanya pada nama-nama malaikat, yang kemudian pendapat ini dianggap sebagai pendapat yang lemah. Pendapat ahli tafsir lain pada umumnya mendukung pendapat yang pertama.

Imajinasi saya yang liar kemudian membayangkan bahwa mungkin saja Tuhan pada saat pengajaran mengenai nama-tentang-segala-sesuatu, Dia juga mengajarkan kepada Adam tentang berbagai macam bentuk hidung manusia; dari yang mancung hingga yang pesek, namun saya juga meyakini Tuhan tidak mengajarkan bahwa hidung pesek lebih jelek dari yang mancung, atau jika tidak disebut lebih buruk, paling tidak bahwa hidung pesek itu sendiri bukan barang buruk.

Para malaikat kemudian mengakui bahwa mereka tidak memiliki ilmu penamaan pada saat diminta menyebutkan nama-nama benda, dan segala sesuatu, sedangkan Adam sukses menamainya dengan tepat, tentu saja karena sudah diajarkan sebelumnya.

Kisah kemudian berlanjut saat Tuhan meminta para malaikat yang telah mengakui kekalahannya dalam ilmu pengetahuan untuk bersujud kepada Adam, mereka patuh. Hanya ada satu yang menolak yaitu Iblis. Dia adalah penghulu dari para malaikat, yang diciptakan dari api.

Ia menganggap dirinya memiliki kedudukan lebih tinggi dari Adam. Ia menilai api adalah unsur yang lebih mulia dari tanah-nya Adam, keunggulan dengan dimensi fisik atau secara tidak langsung Iblis sedang menghina Adam dari unsur pembentuk tubuh fisiknya. Dari sini, kira-kira apakah anda setuju jika saya beropini bahwa inilah peristiwa pertama terjadinya penghinaan fisik kepada manusia?

Setelahnya Tuhan sangat marah dan melaknat Iblis dan memberinya tenggat waktu hingga hari kiamat tiba atas permintaannya supaya bisa menggoda Adam dan keturunannya untuk melawan-Nya. Dan Iblis tidak menunggu lama. Setelah penghinaannya kepada (fisik) Adam, ia berkesempatan untuk menjerumuskan Adam dengan cara memproduksi hoaks, berita bohong tentang buah Khuldi.

Ia mengatakan kepada Adam bahwa buah yang dilarang untuk dimakan itu berkhasiat melanggengkan Adam (dan Hawa) di surga untuk selamanya. Sebagaimana kita tahu, Adam kemudian terhasut dan memakan buah itu lalu diusir ke Bumi dengan membawa oleh-oleh berupa perseteruan dengan Iblis.

Tragisnya, anak keturunan Adam yang seharusnya merawat perseteruan dengan Iblis, saat ini justru akrab dengan penghinaan fisik dan produksi hoaks dengan menyasar sesamanya. Manusia itu sendiri telah mengubah takdirnya dari objek ke subjek; mengikuti jejak perlakuan buruk Iblis terhadap moyangnya, Adam.

Sebagai penutup, mohon dicatat bahwa saya tidak sedang menunjuk hidung siapapun.

Hilmi Amin Sobari

Penikmat sastra, seneng nonton bal-balan, penutur jawa ngapak, tumbuh di priangan timur. Tertarik dengan kajian agama.

Tentang Penulis

Hilmi Amin Sobari

Penikmat sastra, seneng nonton bal-balan, penutur jawa ngapak, tumbuh di priangan timur. Tertarik dengan kajian agama.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.