Locita

Hal-hal yang Dapat Dipelajari dari Reuni 212 untuk Reuni Alumni Sekolah Panitia reuni alumni sekolah harus belajar banyak dari panitia reuni alumni 212

Sekali lagi, alumni 212 menunjukkan konsistensinya. Tahun 2019, mereka kembali mengadakan reuni alumni yang ketiga. Mereka melakukannya setiap tahun sejak 2017.

Saya yang pernah menjadi salah satu pendiri dan ketua ikatan alumni SMA saya dengan rendah hati mengakui saya harus belajar dari kelompok 212.

Saya merasa gagal dan hanya butiran debu di Padang Pasir Nevada dibandingkan dengan para panitia reuni 212. Bagaimana tidak, saya menjadi inisiator, pernah menjadi ketua panitia, lalu kemudian menjadi ketua ikatan alumni yang pertama, tetapi promosi dan upaya menghadirkan teman-teman alumni Masya Allah tidak mudah ternyata.

Saya angkatan kedua sekolah itu. Setiap tahun ada sekitar 300 siswa yang lulus. Alumni pertama tahun 2009. Saat saya menjadi ketua panitia, sudah enam kali sekolah saya menamatkan siswanya.

Berarti ada sekitar 1600 paling tidak alumni. Anda tahu yang hadir berapa? Tak lebih 200 sodara-sodara. Itu pun banyak di antara mereka yang datang belaka tanpa membayar kontribusi. Akhirnya, saya harus menomboknya dari uang pribadi saya. Sudah capek-capek jadi ketua panitia, eh harus nombok pula.

Beberapa di antara mereka pun datang setelah dipengaruhi berkali-kali. Sisanya tak sedikit yang justru menghasut untuk tidak hadir.

Padahal ya reuni tidak ada kaitannya dengan politik. Alumni sekolah saya saat itu belum yang terjun di dunia politik praktis. Bukannya politik justru yang menyatukan? Oh tidak, sebagai alumni yang semuanya termasuk milenial, kami kurang tertarik dengan politik. Segala acara yang ada indikasi politik praktisnya akan kami hindari. Lah ini cuma reuni saja tanpa susupan agenda politik justru kurang peminat.

Patutlah saya mengiri, reuni 212 yang selalu sukses setiap tahun. Gaungnya sudah terasa jauh sebelum reuni. Pesertanya bukan cuma ribuan bahkan bisa mencapai jutaan. Tentu menurut perhitungan mereka sendiri.

Tak ada ikatan sejarah antara peserta. Mereka tidak pernah bersekolah bersama selama bertahun-tahun lamanya, kecuali barang tentu kalau Monash, dengan akhiran h, sudah dianggap sebagai sekolah. Mungkin mereka penganut filosofi semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru. Tentu guru-guru yang berpihak pada kepentingannya. Toh guru-guru juga kini tidak semua benar-benar adalah guru.

Maka seharusnya, reuni sekolah harus lebih ramai. Tentu ukurannya tidak dapat disandingkan dengan peserta reuni 212 yang mencapai ribuan atau jutaan, cukuplah dengan setidaknya proporsi 50 persen dari total alumni. Panitia reuni sekolah dapat belajar dari panitia reuni 212. Tidak perlu malu-malu. Walau tentu kita tidak boleh kehilangan rasa malu, oh apa rasa malu demi nafsu kepentingan itu masih ada?

Hal kedua adalah kontribusi. Para peserta datang dari berbagai daerah dengan keikhlasan mereka. Mereka menanggung seluruh biaya dan akomodasi sendiri, kecuali mungkin nasi bungkus. Sebab sudah disiapkan donatur yang terpanggil hatinya turut berpartisipasi. Akomodasi itu tentu tidak main-main jumlahnya. Biaya bus, kereta, bahkan pesawat udara . Semua terasa murah demi tujuan bereuni bersama.

Panitia reuni sekolah sungguh harus belajar mendatangkan peserta seperti mereka. Bayangkan reuni yang sengaja dilakukan setelah lebaran Idul Fitri dengan asumsi para alumni akan pulang kampung, dengan begitu mereka hanya perlu melangkahkan beberapa langkah kaki untuk sampai ke sekolahnya kembali, mereka tetap ogah datang. Bahkan dengan iming-imingan mantannya telah diundang dan inilah kesempatan besar membuatnya menyesal, nyatanya tak seberapa pula yang hadir.

Hal ketiga adalah susunan acara. Alumni 212 memang benar-benar tidak ada matinya. Meski Prabowo telah mencuekinya, reuni tetap diadakan, dengan semangat yang bergelora.

Para alumni, dibuktikan dengan sertifikat berupa pin bertulis 212, tetap bersemangat membanjiri Monas, almamater mereka. Dengan penuh gelora, mereka mengikuti komando orator, dengan pekik suara seperti tak ada habis-habisnya.

Tidak ada gunanya menawarkan Hexos, permen pereda sakit tenggorakan. Padahal kalau dipikir, acara reuni alumni 212 melulu adalah orasi dari ini dan itu melulu. Bahkan juga ceramah dari orang-orang yang sama. Betapa membosankan. Suatu hal yang tidak akan dilakukan panitia reuni sekolah.

Tapi ajaib, meski begitu peserta tetap setia datang dan mendengarkan sampai akhir.
Hal terakhir yang mungkin dapat dicontoh selain konsistensi bereuni adalah konsistensi membenci berjamaah secara kaffah. Tidak dapat dipungkiri bahwa ribuan bahkan jutaan peserta –tentu sekali lagi menurut catatan mereka—berkumpul di Monas karena dipersatukan oleh satu orang.

Dialah Ahok alias Basuki Cahaya Purnama yang malah semakin bercahaya dan demo dan reuni berjilid-jilid sepertinya masih harus tetap dilakukan entah untuk berapa ribu purnama lagi.

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.