Locita

Hagia Sophia, Erdogan, dan Sajadah Jadul

Juli tahun lalu, saya berkunjung ke Istanbul, Turki. Sadar bahwa momen berkunjung ke Istanbul belum tentu akan terulang lagi, saya berusaha mengunjungi tempat-tempat ikonik. Hagia Sophia dan Blue Mosque, tentu saja, adalah dua bangunan yang tidak boleh lolos dari kunjungan. Yah, walaupun saat itu kondisi kesehatan saya tidak begitu baik dan sedang berangkat sendiri, saya berjanji untuk tetap mendatangi tempat-tempat tersebut. Kalau pun tidak semuanya, Hagia Sophia dan Blue Mosque adalah keharusan.

Saya pun berkunjung ke Hagia Sophia. Tempat ini sangat indah dan ciamik arsitekturnya. Ada nuansa kemegahan dari masa lalu yang masih terus hidup hingga kini.

Berdiri di hadapan Hagia Sophia telah mengingatkan saya pada gambar di sajadah yang selalu saya gunakan saat kecil. Sajadah itu seolah telah menjadi legenda. Warna latar boleh berbeda –merah, hijau, biru, atau bahkan hitam—tetapi model gambar tetap saja sama. Gambar Masjidil Haram di kotak sebelah kiri dan Hagia Sophia berada sebelah kanan. Beberapa waktu lalu saya mengetahui jika gambar tersebut adalah Hagia Sophia. Apakah ini adalah rekayasa pemikiran jika Hagia Sophia adalah masjid lewat sajadah yang populer dari 1940-1990-an?

Hagia Sophia masih berupa museum saat saya berkunjung tahun lalu. Entah apakah saat itu sudah sedang ada upaya oleh beberapa pihak untuk membatalkan dekrit 1934 yang menginstruksikan Hagia Sophia beralih fungsi dari masjid ke museum.

Karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, saya mengupayakan diri untuk masuk ke dalamnya. Sayangnya, saya datang bertepatan dengan hari Minggu. Sebuah peringatan jika hari itu pasti sedang banyak pengunjung. Dan benar saja, pengunjung membludak sampai berbaris sebanyak dua baris hampir 100 meter. Ada turis dari Amerika Serikat, Eropa, dan banyak pula dari Cina. Kebanyakan turis berpakaian minim saat itu karena memang sedang musim panas. Gerah.

Ada beberapa calo yang menawarkan tiket yang tidak perlu antri panjang. Mereka akan berusaha membujuk rayu sebisa mungkin. Tentu dengan harga lebih tinggi dari harga normal. Dari 60 TL (Turkish Lira) ke 90 TL. Konversi 1 TL setara 2.1330 rupiah saat ini. Karena uang yang saya bawa tidak banyak, saya memilih untuk harga normal. Tetapi antrian yang begitu panjang dan berada langsung di bawah sengatan matahari yang cukup panas serta khususnya karena kondisi kesehatan yang tidak mengizinkan, saya memutuskan untuk tidak masuk ke dalam Sophia Hagia.

Cukuplah saya tahu jika Hagia Sophia pada mulanya dibangun sebagai basilika bagi Gereja Ortodoks Yunani. Saat Sophia Hagia dibangun dibawah kekuasaan Bizantum, Istanbul masih bernama Konstantinopel. Sophia Hagia kemudian sempat sebentar dibawah kekuasaan Romawi untuk selanjutya berada di bawah kekuasaan Ottoman. Sejak saat itu, Sophia Hagia yang sempat menjadi gereja beralih fungsi menjadi masjid.

Sejarah Sophia Hagia sangat panjang dan melibatkan tiga imperium besar yang pernah ada di muka ini. Hal itu juga berarti ada banyak orang yang terlibat dalam pembangunan dan perkembangannya hingga kini. Dan bagi banyak orang, ia tidak hanya mengandung nilai-nilai historis tetapi juga nilai-nilai emosional. Ada perasaan terikat dan memiliki terutama jika dikaitkan dengan keagamaan.

Barangkali atas dasar itulah kemudian Hagia Sophia diubah menjadi museum. Sebuah tempat yang dianggap netral bagi semua penganut agama. Dengan begitu, orang-orang tidak perlu merasa saling lebih memiliki daripada yang lain. Ia menjadi tempat yang dapat dikunjungi bagi semua orang dengan perasaan-perasaan netral. Dengan begitu, setiap pengunjung darimana pun bisa sama-sama belajar dari pengalaman masa lalu.

Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa pergantian antara satu imperium ke imperium lainnya –dan bukan hanya itu, bahkan antara klan keluarga mereka sendiri pun—memiliki catatan hitam dan merah. Ada pergulatan nyawa baik semata-mata karena motif politik dan kekuasaan atau mengatasnamakan agama.

Maka ketika Hagia Sophia diubah kembali oleh Presiden Erdogan menjadi masjid, saya merasa senang dan bersuka cita. Yah meski saat berkunjung tahun lalu masih museum dan belum sempat salat di dalamnya.  Namun di sisi lain, pengubahan tersebut bisa jadi juga mencederai perasaan penganut agama yang lain seperti saudara-saudara Kristen atau Katolik. Dan terutama jika sejarah akan ditelusuri dan dirunut lebih jauh ke belakang. Bagaimana jika suatu saat –siapa tahu—Hagia Sophia diubah kembali menjadi gereja? (Semisalnya suatu waktu presiden Turki adalah Kristen).

Pengubahan tersebut akan memberikan ekslusivitas bagi umat Islam pada umumnya dan bisa jadi memunculkan perasaan kurang nyaman pada umat lain. Apalagi sebab Hagia Sophia telah terdaftar sebagai warisan dunia sebagai museum pada UNESCO.

Pengubahan ini bisa jadi tak lebih dari keputusan yang tidak sepenuh bebas dari motif politik. Erdogan betapa pun adalah seorang politikus. Dia sering dielu-elukan berlebihan oleh sebagaian besar Muslim di Indonesia yang membenci Israel tetapi di saat bersamaan Erdogan juga sedang bermesraan dengan Israel.

Pengalihan fungsi Hagia Sophia hanya akan memberikan kekuatan simbol saja tetapi hanya akan terhenti pada simbol. Entah mengapa sebagian besar dari kita sangat suka memuja simbol tetapi sering kehilangan esensi.

Jika hanya diperuntukkan untuk kepentingan salat, Blue Mosque yang berada sepelemparan tombak saja dari Hagia Sophia masih cukup lapang untuk menampung jamaah. Saya menyempatkan salat di masjid ini dan saya berpikir rasanya tidak akan jauh berbeda jika seandainya saya salat di Hagia Sophia, setidaknya saya selalu salat dan sujud di atas gambarnya di atas sajadah legenda itu.

Atau jangan-jangan Erdogan sedang menguatkan dan menegaskan gambar di sajadah legenda yang saya sebutkan di awal tulisan ini jika Hagia Sophia memang adalah masjid. Sebagaimana bisa jadi, desainer sajadah tersebut memang sedang menyelipkan rekayasa pemikiran jika Hagia Sophia adalah masjid. Jika begitu, maka Erdogan telah berhasil.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.