Locita

Gus Dur dan Natal (Refleksi Natal dan Haul Gus Dur)

JELANG perayaan Hari Natal 2016 yang lalu, saya mendapati status menarik seorang teman di laman Facebook-nya, tentang bagaimana ia dan tetangganya yang Kristiani, saling berbagi di hari raya masing-masing.

Pada Hari Raya Natal itu, ia diberi opor ayam, awalnya ia ragu tentang boleh-tidaknya memakan pemberian itu. Keraguan tersebut lantas ditanyakan kepada sang suami, seorang alumni dari Universitas Al-Azhar yang masyhur itu.

Sebuah dialog singkatpun terjadi, sang suami meyakinkan tentang kebolehan memakan opor ayam yang diolah oleh tetangganya yang berbeda agama. Tak berhenti di situ, ia lalu bertanya soal tentang ucapan selamat Natal. Sang suami menjawab lugas bahwa itu tidak boleh. Saya secara pribadi, mengenal suami-istri ini, karena kisah pertemuan mereka, terkait dengan sebuah organisasi di tanah perantauan, dimana kami pernah belajar bersama.

Dari cerita teman di atas, contoh toleransi itu ialah seorang muslim dan tetangganya yang kristiani diekspresikan dalam sikap mau saling memberi dan menerima hidangan untuk perayaan hari raya masing-masing.

Di Hari Raya Idul Adha yang lalu, teman itu juga memberikan daging hasil qurban kepada tetangganya tersebut, dan tak ada penolakan.

Di setiap momen perayaan Natal, saya kerapkali mendapati hal menarik, bahwa cara ummat Islam menyikapi Natal, sangatlah beragam. Namun, sikap terhadap saudara Kristiani, umumnya hampir sama, yakni menghargai dan menghormati mereka.

Hal itu misalnya dibuktikan dengan keinginan untuk mau saling berbagi kebahagiaan, kendati juga masih terdapat fenomena yang sebaliknya. Inilah realitas keberagamaan kita yang majemuk, baik dalam pemahaman maupun sikap. Bagi penulis, toleransi ditentukan oleh bagaimana kita menyikapi perbedaan, dan bagaimana kita bersikap terhadap saudara-saudara kita yang berbeda, bukan debat soal mana yang benar dan yang salah.

Dalam soal perdebatan tentang ucapan selamat dan perayaan Natal yang telah menjadi siklus tahunan, Gus Dur misalnya dalam tulisannya yang berjudul: Harlah, Natal dan Maulid, sejalan dengan pendapat yang membolehkan ucapan selamat Natal. Bahkan merestui jika ada di antara umat Islam yang juga merayakannya, sebagai bentuk penghormatan kepada Isa Al-Masih (Yesus Kristus), yang dalam keyakinan Islam termasuk salah seorang Nabi sekaligus Rasul utusan Allah SWT.

Gus Dur berpandangan, apabila kemudian Nabi Isa ‘dijadikan’ Anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah masalah lain lagi. Artinya, secara tidak langsung Natal memang diakui oleh kitab suci al-Qur’an, juga sebagai kata penunjuk hari kelahiran beliau, yang harus dihormati oleh umat Islam juga. Bahwa, hari kelahiran itu memang harus dirayakan dalam bentuk berbeda, atau dalam bentuk yang sama tetapi dengan maksud berbeda, adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan.

Kalau yang dipersoalkan kemudian adalah kapan pastinya Nabi Isa lahir, apakah di tanggal 25 desember, seperti yang selama ini telah menjadi konsensus mayoritas umat Kristiani. Tentu akan banyak pendapat.

Menurut penulis itu tidaklah begitu penting, yang terpenting adalah bagaimana meneladani sang Nabi. Adapun makna dibalik perayaan Natal itu, kembali kepada keyakinan masing-masing, baik umat Kristiani maupun Islam. Karena pada keduanya, memang terdapat keyakinan yang berbeda.

Ketika penulis mengucapkan selamat Natal, ataupun turut berbahagia karenanya, bukanlah dimaksudkan untuk turut membenarkan ajaran Kristiani soal Isa Al-masih, karena keyakinan akan hal itu, jelas berbeda dengan yang penulis miliki. Namun, lebih dimaksudkan untuk menghormati keyakinan saudara beragama Kristiani, yang sekaligus sebagai bentuk apresiasi terhadap manifestasi dari keyakinan mereka, yaitu cinta-kasih dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

Satu hal yang selama ini mengganggu pikiran penulis, adalah ramai-riuhnya perdebatan agama setiap kali menjelang Hari Natal. Karena hal yang sama, tidak terjadi menjelang hari raya agama lain, seperti Nyepi (Hindu), Waisak (Budha) dan Imlek (Konghucu).

Penulis menduga kuat, hal tersebut salah satunya dipengaruhi oleh situasi psiko-historis kebanyakan masyarakat muslim. Dimana sejarah rivalitas otoritas politik negara-agama di masa lampau, yang diwarnai oleh sejumlah konflik dan perang berbaju agama, Islam dan Kristen.

Satu yang sangat monumental dalam memori kolektif ke dua penganut agama terbesar di dunia ini, adalah sejarah panjang Perang Salib beberapa abad silam. Ditambah sejarah misionarisme ke dua agama ini, yang kerap membuatnya berposisi saling berhadap-hadapan.

Dalam kasus di atas, penulis merujuk kepada pandangan Gus Dur, bahwa dalam melihat banyak hal, kita hendaknya senantiasa menggunakan perspektif kemanusiaan universal, tidak selalu dengan cara pandang ideologis, yang cenderung selalu ingin memenangkan kelompok sendiri dengan mengorbankan kelompok lain.

Tak dapat dipungkiri, Gus Dur adalah sosok yang berjasa besar dalam membangun relasi antar umat beragama yang cair dan nir-prasangka di bangsa ini. Sehingga tidak salah, ketika banyak yang menyebutnya sebagai Bapak Pluralisme.

Gus Dur dengan upaya yang gigih, berusaha menjadi jembatan untuk mempertemukan kelompok lintas agama dan golongan agar mau saling memahami satu dengan yang lain. Karena hanya dengan begitu, kodrat pluralitas bangsa akan menjadi kekuatan demi membangun kehidupan bersama.

M. Fadlan L Nasurung

Koordinator di Jaringan GUSDURian Makassar.

Tentang Penulis

M. Fadlan L Nasurung

Koordinator di Jaringan GUSDURian Makassar.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.