Locita

Generasi Terakhir Pembuat Gerabah di Pulau Buton

pembuat gerabah di Buton (foto: Rustam Awat)
pembuat gerabah di Buton (foto: Rustam Awat)

GERABAH merupakan tradisi yang mulai muncul pada zaman Mesolitikum (zaman batu tengah) saat manusia mulai hidup sebagai penghuni gua. Para arkeolog sering menemukannya dalam bentuk pecahan (fragmen) di situs prasejarah dan situs pemukiman karena benda ini mudah pecah.

Tradisi pembuatan gerabah hingga kini masih bertahan di beberapa daerah Nusantara. Salah satunya yang masih membuat gerabah dengan cara tradisional yaitu masyarakat Lipu, Baubau, Sulawesi Tenggara. Pembuatan gerabah dengan cara ini disebut teknik tatap landas yang merupakan teknik pembuatan gerabah paling awal, sebelum manusia mengenal teknik yang lebih modern yaitu roda putar.

Pembuatan gerabah dengan teknik tatap landas (foto: Rustam Awat)

Orang-orang Lipu merupakan satu-satunya masyarakat Buton yang melakoni pembuatan gerabah sejak dulu hingga kini. Sebelum berganti nama menjadi Lipu, daerah ini dulunya dikenal dengan sebutan Katobengke. Masyarakatnya bermukim di pinggiran kota Baubau, sekitar dua kilometer dari benteng keraton Buton. Dalam keseharian orang Lipu, budaya lokal masih dipegang teguh.

Di salah satu pertigaan jalan daerah ini terdapat sebuah tugu gerabah. Tugu tersebut seakan turut menegaskan tentang ikon Lipu sebagai kampung penghasil gerabah, karena umumnya ciri khas sebuah daerah disematkan pada tugunya.

Gerabah pada masyarakat Lipu, dibuat dari tanah liat yang diolah dan dijemur terlebih dahulu sebelum dibentuk. Proses selanjutnya adalah membentuk gerabah dengan cara memukul-mukulkan bilah bambu pada permukaan tanah liat yang dijemur tadi. Bagian dalam gerabah dibentuk menggunakan tangan.

Setelah menghasilkan berbagai macam bentuk, gerabah kembali dijemur. Gerabah yang setengah kering akan dihias dengan beragam motif geometris.

Yang menarik adalah cara pembuat gerabah menghias gerabah-gerabah itu. Mereka tak membuat pola atau arsir terlebih dahulu. Peralatan dan bahannya pun sangat sederhana. Mereka menggunakan bulu ayam sebagai kuasnya, batu kapur sebagai pewarna putih, dan tanah liat sebagai pewarna coklat.

Proses membuat motif gerabah (foto: Rustam Awat)

Tangan-tangan yang terampil itu seakan telah menyatu dengan permukaan gerabah. Bulu ayam yang dicelupkan pada parutan batu kapur bercampur air, dioleskan pada permukaan gerabah untuk membentuk motif berwarna putih. Begitu pula dengan motif coklat, hanya perlu mencelupkan bulu ayam pada tanah liat yang telah dicampur air pula.

Begitu dihias, selanjutnya gerabah dikumpulkan pada satu tempat untuk dibakar supaya keras dan tidak mudah pecah. Gerabah yang telah diproduksi akan dijual di pasar lokal kepada para penadah.

Gerabah yang dijual di pasar tradisional (foto: Rustam Awat)

Sungguh menarik melihat ibu-ibu menghiasi motif gerabah. Mereka layaknya maestro lukis yang mengguratkan kuas di kanvas. Semua mengalir begitu saja, seakan tanganlah yang mengikuti bulu-bulu ayam itu membentuk berbagai motif.

Cara mereka menghias gerabah menimbulkan decak kagum. Dan untuk sampai pada kemahiran dengan keakuratan seperti itu tentu membutuhkan proses belajar yang tak singkat.

Sehari-hari, para ibu berkumpul di sebuah gubuk reot untuk membuat gerabah. Sayang sekali para ibu ini merupakan generasi terakhir yang tetap membuat warisan leluhur itu. Gerabah yang mereka produksi tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Alasannya, konsumen yang membutuhkan tidak banyak lagi.

Tempat pembuatan gerabah (foto: Rustam Awat)

Para ibu ini membuat gerabah dalam beragam bentuk sesuai dengan kegunaannya. Periuk (nu’ua) untuk mengukus kasoami (panganan lokal parutan ubi kayu berbentuk tumpeng). Belanga (balanga) untuk memasak jagung, ubi, sayur dan ikan. Bagian penutupnya disebut lenga.

Kendi (palama/bhosu) untuk menyimpan air. Bhengki untuk wadah mengambil air di sumur. Kabubu digunakan sebagai penutup yang memberi hawa panas saat memanggang kue kering tradisional. Tidak ketinggalan bulusa untuk merendam beras pada saat acara adat, serta celengan untuk menabung.

Berbagai bentuk gerabah yang dibuat (foto: Rustam Awat)

Usaha membuat gerabah ibu-ibu ini bukan hanya untuk menghidupi keluarga mereka semata, tapi sekaligus mempertahankan tradisi pembuatan gerabah dari kepunahan.

Di masa lalu gerabah begitu terkenal, dan menjadi bagian penting di balik dapur setiap rumah. Namun di zaman modern ini, peralatan-peralatan tradisional telah surut peminat dan digantikan oleh barang yang lebih moderen karena tuntutan zaman dengan teknologi yang semakin maju.

Hal ini juga berimbas pada pembuatan gerabah yang dianggap sudah semakin ketinggalan zaman dibanding peralatan yang dihasilkan oleh mesin. Gebarah digantikan oleh peralatan yang terbuat dari aluminium, besi serta baja yang lebih kuat dan tahan lama dibandingkan yang hanya terbuat dari tanah liat.

Sejak awal tahun 2005 tak banyak lagi masyarakat Lipu yang membuat gerabah. Keinginan untuk itu berangsur-angsur mulai berkurang. Para pembuat gerabah yang dalam bahasa lokal disebut pomanduno, sudah jarang ditemukan. Di rumah masyarakat Lipu pun perabotan dapur jarang yang masih menggunakan gerabah hasil ciptaan mereka sendiri.

Faktor yang menyebabkan pembuatan gerabah pada masyarakat Lipu semakin hari semakin berkurang dan proses pewarisannya tidak berjalan, karena gerabah dianggap sebagai benda yang sudah ketinggalan zaman. Para ibu yang semasa kecilnya pandai membuat gerabah kini beralih profesi berjualan sayuran dan ikan, serta membuat kasur.

Sebagian masyarakat Lipu kini lebih senang merantau karena anggapan pendapatan yang lebih baik dan hasil yang menjanjikan dibanding menetap di kampung dan menggeluti pekerjaan membuat gerabah.

Generasi muda lebih berkonsentrasi pada pendidikan dan tidak memiliki ketertarikan untuk meneruskan tradisi ini. Meskipun orang tua ingin mewariskan kepandaian mereka. Dengan demikian, tradisi pembuatan gerabah yang telah bertahan sejak lama tersebut perlahan-lahan tumbang digilas waktu.

Setiap tradisi, entah kerajinan tangan atau apapun, bila tidak diwariskan kepada generasi berikutnya akan terus tergerus hingga tak bersisa. Sangat berbeda dengan masa lalu, ketika para ibu ini masih anak-anak, mereka diajarkan cara membuat gerabah oleh orang tuanya. Proses pewarisan seperti inilah yang membuat tradisi ini dapat bertahan dan berkembang di masyarakat Lipu di masa itu.

Proses membentuk gerabah (foto: Rustam Awat)

Terhentinya pola pewarisan berdampak pada semakin berkurangnya para pembuat gerabah, dan mungkin dalam waktu dekat akan mengalami kepunahan. Gerakan untuk terus menjaga tradisi pembuatan gerabah harus dilakukan, dan pemerintah perlu mengambil langkah cepat menyelamatkan salah satu aset budaya daerah ini. Bila tidak, maka kepandaian membuat gerabah hanya akan tinggal cerita dan dongeng pengantar tidur saja.

Salah satu solusi yang dapat dilakukan oleh pemerintah kota Baubau untuk meneruskan pewarisan pembuatan gerabah adalah dengan cara memasukkan pembuatan gerabah dalam mata pelajaran muatan lokal baik pada tingkat SD, SMP, dan SMA sehingga setiap anak sekolah dapat belajar secara langsung kepada pembuat gerabah di Lipu.

Di sisi lain, bila peserta didik banyak yang berkunjung untuk belajar, pembuat gerabah dapat memperoleh manfaat ekonomi karena melatih siswa menghasilkan kerajinan tangan. Menghidupkan kembali pembuatan gerabah melalui pewarisan pengetahuan pada generasi muda Lipu akan mengubah pola pikir masyarakat setempat bahwa belajar membuat gerabah dapat memberi penghasilan yang lebih dibanding dengan pekerjaan lain.

Bila hal ini dapat dilakukan, langkah selanjutnya adalah mempromosikan gerabah sebagai bagian pelestarian budaya daerah. Dengan begitu secara perlahan-lahan citra gerabah dapat dibentuk.

Gerabah yang semula hanya digunakan sebagai perabot dapur semata dapat dialihfungsikan sebagai benda yang dipajang di ruang tamu karena mempunyai nilai seni yang artistik. Ini berarti bentuk gerabah juga perlu dimodifikasi oleh para pembuatnya.

Timbunan gerabah yang selesai dibakar (foto: Rustam Awat)

Saya pernah mendengar cerita bahwa turis mancanegara di Yogyakarta harus merogoh kocek sebesar 300 ribu hanya untuk belajar membatik dalam durasi waktu satu jam. Apa yang didapat oleh para turis itu? Sensasi bahwa mereka pernah membatik. Pengalaman itu yang akan diceritakan ketika pulang ke negaranya.

Mungkin terlalu jauh bila berpikir tentang wisatawan lokal atau mancanegara untuk belajar membuat gerabah. Mari mulai dari hal kecil dan sederhana, melibatkan peserta didik. Bila langkah awal ini bisa dilakukan oleh pemerintah Kota Baubau maka gerabah akan mendapat tempat di hati masyarakat, sebagaimana halnya ketika pemerintah daerah menggalakkan pemakaian baju dan sarung Buton.

Sungguh menyedihkan bila pewarisan budaya pembuatan gerabah terhenti di zaman ini, di tangan generasi terakhir yang telah menua. Sesak rasanya melihat kekayaan budaya yang telah melewati rentang waktu yang panjang ini perlahan-lahan punah di depan mata.

Rustam Awat

akademisi, pejalan, pemotret

Add comment

Tentang Penulis

Rustam Awat

akademisi, pejalan, pemotret

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.