EsaiFeatured

Gatot Nurmantyo Pensiun: Kemana Ia Akan Berlabuh?

PER 31 Maret 2018 ini Jenderal Gatot Nurmantyo memasuki masa pensiun. Mantan Panglima TNI itu telah menghabiskan lebih dari 30 tahun masa dinas ketentaraan. Mulai dari ajudan Panglima TNI Edi Sudrajat hingga Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pernah dilakoninya sebelum menjadi Panglima.

Selama Gatot menjalani dinasnya, ia telah membangun banyak relasi, termasuk dengan para pelaku ekonomi. Pengusaha besar Tomy Winata adalah salah satunya. Tempo memberitakan bahwa kedua orang itu adalah teman baik. Gatot sendiri pernah diundang pemilik Grup Artha Graha itu untuk aktivitas konservasi hewan dan alam.

Selesai menjalani tugas tentu tidak berarti berakhir pula pengabdiannya kepada bangsa. Apalagi nama Gatot belakangan ini masuk bursa capres ataupun cawapres untuk Pilpres 2019 nanti. Pertanyannya, kemana ia akan berlabuh?

Setelah pensiun ia akan bebas melakukan aktivitas politik. Sebab tanggung jawab strukturalnya sudah selesai. Sebagai mantan panglima wajar saja dia berkeinginan untuk masuk arena politik praktis. Dia mempunyai nama besar dan barangkali paling populer diantara eks Panglima TNI untuk saat ini.

Rilis survei Poltracking Indonesia awal Februari lalu, dengan jumlah 1200 responden, menempatkan Gatot pada peringkat kesembilan capres pada pertanyaan terbuka. Dalam simulasi lima kandidat dia menduduki posisi ketiga. Bahkan setingkat di atas putra kandung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono.

Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh survei Median. Survei yang juga dirilis pada Februari itu, dari 1000 responden, Gatot menempati posisi ketiga. Elektabilitasnya mencapai 5,5 persen, naik dari bulan Oktober yang hanya berkisar 2,8 persen.

Beberapa temuan survei diatas menunjukkan bahwa Gatot sebenarnya sudah siap lepas landas terbang ke dunia politik praktis. Elektabilitasnya yang lumayan sebagai pemain baru akan membuat dia dilirik oleh berbagai kelompok politik.

Akhir-akhir ini banyak pemberitaan mengenai pertemuannya dengan Prabowo, pemimpin Gerindra. Spekulasi muncul kalau ia ditawari masuk Gerindra oleh mantan Danjen Kopassus itu. Bahkan ada juga yang menyebutkan kalau dia pernah mendaftar capres di Gerindra. Meski begitu belum ada pengakuan terbuka dari yang bersangkutan mengenai hal itu.

Jelas saja tidak tertutup kemungkinan bagi Gatot untuk bergabung di Gerindra seperti halnya bergabung dengan partai lain. Namun kalau ia bergabung dengan Gerindra ia harus menghitung posisinya di partai itu. Dengan kharisma Prabowo yang ada, sulit bagi dia untuk maju menjadi capres.

Jika dia mau tentu menjadi cawapres adalah pilihan yang paling realistis. Tapi harus dipertimbangkan lagi, apakah ia akan mampu mendongkrak elektabilitas Prabowo untuk menyaingi presiden saat ini, Jokowi. Jika tidak,cita-cita menduduki panggung politiknya tentu menjadi tidak terealisasi untuk sementara.

Bagi Gerindra, hal itu juga menjadi perhitungan. Beberapa survei terakhir, tampaknya elektabilitas Prabowi tidak menanjak dengan signifikan. Mereka membutuhkan sosok yang mampu mendongkrak elektabilitas itu.

Melihat hal ini, Gatot akan memiliki banyak saingan yang tidak kalah populernya. Misalnya Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi atau yang akrab dipanggil dengan TGB. Atau salah satu kandidat dari PKS, koalisi Gerindra, Anies Matta.

Ketika Gatot berpasangan dengan Prabowo, masyarakat juga akan menilai bahwa ini adalah pasangan militer. Satunya mantan Panglima TNI dan yang lain adalah mantan Danjen Kopassus. Masyarakat yang mempunyai preferensi kombinasi militer-sipil, tidak akan melirik pasangan tersebut.

Pada poin ini menjadi penting bagi Gatot untuk mempertimbangkan mantan bosnya di struktur kenegaraan dulu, Jokowi. Sebab Jusuf Kalla kemungkinan besar tidak akan maju lagi untuk mendampingi Jokowi untuk periode kedua. Ia akan menikmati hari-hari di usia senja.

Dengan Jokowi, Gatot akan mempunyai kontribusi untuk mendongkrak elektabilitasnya. Sebagai Jenderal, preferensi masyarakat yang menginginkan kombinasi militer-sipil akan menyenangi hal ini. Apalagi Gatot cukup populer dikalangan Islam politik ketika aksi massa untuk menuntut Ahok tempo hari.

Bagi Jokowi, hadirnya Gatot menjadi keuntungan sendiri. Karena segmen militer antara Prabowo dan Gatot sama, Jokowi berpeluang mengambil celah itu lewat hadirnya Gatot sebagai pasangannya. Dan bagi kalangan yang kurang simpati dengan Jokowi, namun menyukai Gatot berkemungkinan bisa memilih pasangan ini dengan alasan Gatotnya.

Namun tentu saja hal ini tidak mudah. Layaknya sebuah partai besar, PDIP sebagai partai Jokowi akan memiliki pertimbangan sendiri. Gatot juga akan bersaing dengan nama-nama yang populer belakangan seperti Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan Mahfud MD.

Apapun pilihan Gatot, komunikasi politik yang canggih tentu menjadi syarat utama kalau ia benar-benar ingin masuk arena. Kita nantikan manuver politiknya.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

Abu Tours, Kamu Jahat

Next post

Kadet Debutan versus Kaiju 2019