Locita

Film, Seksualitas dan Kesalahan Logika

Indonesia dan seksualitas boleh jadi mempunyai hubungan yang problematik. Mendaku diri bangsa yang majemuk, menghargai keberagaman seksualitas seolah menjadi problem tersendiri bagi sebagian masyarakatnya. Rentetan polemik mengenai representasi aspek seksualitas di ruang publik silih berganti menghiasi dinamika perjalanan narasi publik di Indonesia.

Masih segar di ingatan kita bagaimana petisi menolak iklan toko online yang menggunakan Blackpink sebagai bintang iklannya. Hal yang disasarpun sama bahwa adegan yang dipertontonkan terlalu seksi dan tidak sesuai dengan budaya bangsa. Yang terbaru, film Kucumbu Tubuh Indahku karya Garin Nugroho mendapat petisi bernada penolakan yang sama.

Film ini dipetisi karena dianggap mempromosikan nilai-nilai LGBT dalam jalinan ceritanya. Sampai tulisan ini dibuat, petisi ini sudah ditanda tangani sebanyak 15.400-an orang.

Titik tekan petisinya adalah mengenai kekhawatiran akan ada/banyak pemuda yang kesulitan mencari jati diri kemudian mencontoh apa yang terjadi di film. Sayangnya, tidak dijelaskan bagian mana yang dikhawatirkan. Apakah bagian pembunuhannya, konflik politik atau romansanya.

Tidak hanya petisi online, sejumlah Walikota dan MUI kota di beberapa daerah juga mengeluarkan larangan pemutaran film ini. Alasannya hampir sama, kekhawatiran akan melanggengkan LGBT. Alasan yang saya duga datang dari orang-orang yang bahkan menonton filmnya saja belum.

Saya tidak bermaksud membela pembuat film. Saya tidak mengenal pihak pembuat film. Yang saya bela adalah idenya. Ide yang fokus penyadaran masyarakat luas mengenai realitas sosial masyarakat yang tidak nampak secara kasat mata, tapi ada dan terjadi di sekitar kita.

Bupati Garut, yang juga melarang pemutaran film ini mengatakan,” Hiburan masih banyak pilihan yang mengedukasi dan menyenangkan.” Film ini dianggap tidak edukatif. Menurut saya justru sebaliknya. Film ini justru adalah usaha untuk mengedukasi masyarakat mengenai suara-suara yang jarang didengar dan realitas sosial terpinggirkan yang luput dari kacamata arus utama.

Kekhawatiran mengenai penyebaran LGBT akibat dari film ini bagi saya adalah kekhawatiran yang berlebihan. Pesan yang ingin disampaikan dalam film ini menurut saya justru sebaliknya. Bukan mengajak untuk sepakat dengan LGBT tapi dominan menunjukan betapa konfliktualnya menjadi seorang dengan orientasi seksual sesama jenis.

Kehidupan tokoh utama digambarkan sarat dengan konflik, mulai dari konflik personal sampai konflik politik. Alih-alih mengajak, kesan yang saya tangkap justru betapa susahnya mempunyai orientasi seksual dan pembawaan yang berbeda di tengah masyarakat yang sensitif terhadap isu seksualitas. Susah dan konfliktual.

Mungkin setiap penonton punya interpretasinya masing-masing. Bisa jadi kita berbeda mengenai pesan yang ditangkap dari film ini. Namun, terlalu berlebihan rasanya jika mengasumsikan bahwa menonton film ini akan meningkatkan gelombang LGBT. Dalam cacat logika, konsep ini dinamakan dengan slippery slope.

Slippery slope adalah satu hal kecil dapat membawa konsekuensi yang terlampau besar. Contohnya, hari ini film yang mempunyai kesan LGBT ditayangkan di bioskop.

Besok pasti jumlah LGBT naik. Besoknya lagi mereka bikin partai politik. Besoknya lagi mereka melegalkan pernikahan sesama jenis.

Akhirnya negara ini dikuasai LGBT yang akan menindas heteroseksual. Simpulannya jangan memberi ruang bagi film LGBT di bioskop. Duh, ini jelas cacat logika!

Di sisi lain banyak pihak yang menolak karena film ini menggandung konten LGBT yang dilarang agama. Mari sejenak kita ikuti logika ini. Artinya, LGBT dilarang karena dianggap berdosa melanggar perintah agama.

Pertanyaan kemudian adakah orang tidak pernah berbuat dosa? Nabi mungkin iya, tapi selebihnya kita semua manusia biasa yang pernah berbuat dosa.

Bedanya dosa LGBT dan yang mengutuk berbeda. Yang satu karena orientasi seksualnya yang lain karena prasangka buruknya.

Mengapa yang dijauhi hanya dosa karena orientasi seksual? Yang berprasangka buruk enggak? Sama-sama dosa lho, bertentangan dengan ajaran agama.

Poinnya adalah penting untuk menelaah dahulu informasi apa yang didapat melalui cara-cara yang logis dan valid. Setuju atau tidak terhadap LGBT adalah sikap personal, namun menjadi persoalan jika dibawa ke ruang publik.

Sebagai sebuah bentuk karya seni film ini memungkinkan banyak interpretasi. Yang menganggap film ini adalah propaganda pro LGBT ya silahkan, tapi pastikan simpulan itu didapat dari proses yang bisa dipertanggung jawabkan. Sudah melalui proses verifikasi dan interpretasi yang meyakinkan.

Sebenernya film ini tidak melulu membahas mengenai orientasi seksual, setidaknya bagi saya. Hanya sekitar 20% jalan cerita yang dibangun berdasarkan konflik seksualitas, selebihnya konflik personal dan politik.

Namun bagi masyarakat Indonesia yang 20% agaknya lebih berkesan daripada cerita dominan sisanya. Hasil akhirnya adalah protes dan kontroversi di sana sini.

Hal ini penting untuk menjadi perhatian kita semua bahwa ada segmentasi masyarakat kita yang gagap terhadap perbedaan. Kontroversi film ini hanya contoh kecil bagaimana masyarakat kita awam terhadap pluralitas wacana.

Kedepan, tantangannya bukan hanya mengkomunikasikan suara marjinal namun juga mendialogkan kepentingan arus utama dan ide-ide perjuangan pinggiran. Harapannya tercipta suasana demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dan nalar publik yang teruji.

Dias Pabyantara

Dosen HI UPNVJT

Peneliti Gender dan Globalisasi di IR-CGAS

Add comment

Tentang Penulis

Dias Pabyantara

Dosen HI UPNVJT

Peneliti Gender dan Globalisasi di IR-CGAS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.