Esai

Fahri Hamzah Segeralah Tobat dan Berhenti Komentar Nyinyir

RESMI hari ini, Kamis tanggal 8 Maret 2018 adalah hari paling bersejarah bagi Fahri Hamzah, setelah sebelumnya menjadi paling mendebarkan dalam hidupnya. Bukan karena mau nembak pacar atau meminang belahan hati. Tapi dia telah melaporkan PresidenPKS, Shohibul Iman ke polisi.

Dalam Tanda Bukti Laporan Nomor: TBL/1265/III/PMJ/Ditreskrimsus. Fahri melaporkan Sohibul atas dugaan kasus ITE dan atau Fitnah dan atau Pencemaran nama baik. Jadi fix Fahri telah memberi pukulan ketiga bagi Sohibul setelah sebelumnya dia menang dua kali di pengadilan melawan bosnya itu.

Secara administrasi internal partai barangkali, dia telah dipecat oleh PKS, namun secara hukum dia masih berstatus anggota partai ini. Ia tidak bisa dipecat, pasalnya Fahri memenangkan gugatan di pengadilan yang memerintahkan PKS memulihkan keanggotaannya. Tapi PKS menolak, melakukan banding, kalah, dan kini mengajukan kasasi.

Rencana pelaporan Kamis siang ini, diumumkan Fahri, subuh tadi di akun twitternya @fahrihamzah dengan pesan sebagai berikut:

Masih sangat banyak cuitan lain tentang pelaporan dan alasan ketidaksukaannya pada Shohibul Iman, yang dalam catatan saya sudah berjumlah dua puluhan, ia memberi tagar UntukKebaikanPKS. Bahkan salah satu cuitannya mengatakan, baiknya Sohibul yang berpikir untuk mundur dari ketua umum.

Fahri melaporkan Sohibul ke polisi karena menganggapnya penyebar fitnah, permufakatan jahat, hingga pemalsuan dokumen terkait pemecatannya dari PKS.

Saya menjadi agak kurang mengerti dengan Fahri Hamzah, sebagai kader yang mengaku mencinti partai yang kental aroma keislamannya itu, harusnya dapat lebih tenang menyikapi hal yang terjadi. Yod, dia juga masih di atas angin setelah pengadilan memutuskan ia menang melawan PKS. Apa lupa dengan hadist tentang menghargai pemimpin yang dipelajari saat liqo’ dari para murabbi’nya:

“Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim)

Guna melengkapi asumsi saya tentang perseteruan partai ini, selain juga karena isu adanya faksi-faksi di partai yang identik warna putih ini, maka baiknya dan juga seharusnya kita mendengarkan apa kata dari Sohibul. Sebagai bagian dari tabayyunism.

Sohibul mengungkap awal mula perseteruan PKS dengan Fahri. Sebagai pimpinan PKS kata dia, maka mau merotasi Fahri dari posisi Wakil Ketua DPR. Dia hendak mengeser Fahri karena menganggapnya kurang menampilkan wajah PKS.

Sebenarnya hal ini sudah sesuai aturan, jika mengacu pada aturan di parlemen seperti UU MD3, fraksi berhak mengatur kader-kadernya di alat kelengkapan Dewan, termasuk di kursi pimpinan DPR.

“(Saya katakan) ‘Fahri, setelah saya lihat, antum ini ternyata tidak cocok sebagai etalase tertinggi PKS.’ Etalase tertinggi PKS hari ini kan pimpinan DPR, karena menteri nggak punya kan. ‘Kayaknya antum ini cocoknya di alat kelengkapan yang lain,”ujar Sohibul kepada wartawan, Kamis (1/3/2018).

Saat itu, menurut Sohibul, Fahri bersedia menuruti sebagai kader partai. Hanya, ia meminta tidak langsung dicopot dari kursi pimpinan DPR karena masih memiliki tugas ke luar negeri.

Namun, masih kata Sohibul, ternyata Fahri tidak memenuhi janjinya. Saat Desember 2015, tidak seperti yang dijanjikannya, Fahri terus-menerus membuat alasan agar tidak dilengserkan dari posisi Wakil Ketua DPR.

Dia lalu memberi contoh soal partai lain yang memaksa kadernya masuk padahal si kader tidak berkenan. Pimpinan partai itu, kata Sohibul, mengancam akan memecat hingga akhirnya kader yang dimaksud bersedia diproyeksikan di MKD.

“Ketika MKD lagi panas-panasnya. Itu organisasi, termasuk korporat kan juga gitu. Nah Fahri tu begitu, simpel konstruksinya. Kenapa dia kemudian tiba-tiba jadi tidak mau? Bahkan kemudian membuat cuat-cuit aneh-aneh. Itu semakin jauh dari tabiat kader PKS,” ucapnya.

Saya jadi berpikir, alasan PKS sebenarnya ingin menggeser Fahri karena komentar dia tentang berbagai hal, mulai dari mendukung revisi UU KPK, mendukung Setya Novanto saat mengunjungi Trump hingga setuju pada kenaikan gaji anggota dewan yang terjadi dua tahun terakhir.

Hal di atas dibenarkan oleh Tifatul Sembiring, salah satu petinggi partai. Katanya dia sudah menasehati Fahri agar mengikuti instruksi partai, tetapi dia malah berkomentar aneh-aneh di media khususnya twitter.

Hal inilah yang membuat partai mencap Fahri tidak menggambarkan wajah PKS dan islam sesungguhnya di publik. Jadi untuk melakukan perbaikan kemudian islah, baiknya Fahri menghentikan komentar di media khususnya Twitter. Cobalah tobat dan berhenti komentar ‘lucu’ soal KPK.

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Previous post

Seandainya Khadijah Ikut Women March

Next post

Cadar di UIN Sunan Kalijaga dan Kompleksitas Masalah yang Mengelilinginya