Esai

Etika Kritik Jokowi

Memasuki penghujung tahun 2017 obrolan seputar bakal calon presiden Indonesia kembali hangat diperbincangkan. Topik ini seakan-akan membius semua khalayak tanpa terkecuali untuk ikut mengomentarinya. Mulai dari pengamat politik, sampai kalangan ibu rumah tangga pun tidak absen untuk memberikan opininya seputar isu tersebut.

Menjadi lumrah bila isu ini kemudian naik ke permukaan, mengingat beberapa waktu lagi negeri yang dijuluki dengan sebutan Jamrud Khatulistiwa ini memang akan kembali dipertemukan dengan ajang pilpres, yang tentu saja menjadi momen yang sangat krusial bagi para penduduknya.

Nama Joko Widodo menjadi salah satu sosok yang namanya ikut terseret ke dalam topik pembicaraan ini. Tidak mengherankan bila sosok yang sering disapa Jokowi ini pamornya melanjak tinggi menjadi tranding topik, selain karena posisinya yang sekarang menduduki kursi orang nomor satu di Indonesia, namanya juga kembali diunggulkan sebagai bakal calon presiden yang akan “menyetir” kelangsungan hidup nasib ibu pertiwi beberapa tahun ke depannya.

Komentar Pro-kontra dapat kita temukan membanjiri kolom-kolom media sosial, menyinggung elektabilitas dari sosok ini. Tidak sedikit yang mengkritik kinerjanya selama menjadi nahkoda nusantara beberapa tahun lalu, hingga sekarang memasuki periode akhir kepemimpinannya. Tidak mengherankan bila banyak kritikan kemudan dialamatkan kepada beliau, karena hal tersebut memang menjadi konsekuensi logis bagi seorang pemimpin bila hasil pekerjaanya dinilai oleh rakyat.

Sayangnya di antara kritikan-kritikan tersebut, ditemukan pula komentar-komentar pedas bernada cibiran bahkan menjurus pada hujatan ,dari oknum-oknum tertentu yang merasa kurang puas dengan kepepimpinannya. Sepanjang tahun 2017 misalnya, sekurang-kurangnya dapat ditemukan 9 kasus hate speech yang dialamatkan kepada presiden Indonesia ini, yang membuat pelaku-pelakunya tersandung dengan pihak berwajib.

Ujaran-ujaran kebencian tersebut maraknya bermotif dari rasa ketidakpuasan dengan kebijakan maupun sikap yang diambil oleh pemerintah. Jokowi menjadi bulan-bulanan karena sebagai pemimpin, ia dianggap bertanggung jawab atas seluruh komando kebijakan yang di produksi pemerintahan, menurut logika oknum-oknum di atas. Bahkan bukan hanya jokowi, orang-orang disekitarnya pun turut pula menjadi sasaran. Kasus penghinaan terhadap Iriana Jokowi 12 September lalu adalah satu di antaranya.

Pemimpin serta persoalan kepemimpinan dalam pandangan Islam sendiri, juga menjadi persoalan yang tidak kalah pentingnya. Pada sebuah riwayat dijelaskan bagaimana Rasulullah saw menyebutkan agar ketika hendak melakukan perjalanan, seyogyanya salah seorang di antara kelompok musafir tersebut diangkat menjadi pemimpin regu (HR. Abu Dawud).

Jika dalam perjalanan saja keberadaan pemimpin diperlukan, lebih-lebih dalam persoalan pemerintahan !, inilah yang menjadi indikasi bagaimana Islam juga turut menaruh perhatiannya menyangkut masalah tersebut. pada riwayat lainnya disebutkan pula bahwa menasihati pemimpin adalah sekian di antara ibadah yang diajarkan oleh agama (HR. al-Nasa’i & Ibnu Majah).

Dari sini dipahami bahwa turut serta berpartisipasi dengan beropini ataupun mengkritik pemimpin adalah bagian dari kesalihan sosial yang mesti dimiliki oleh setiap muslim. Tentu saja anjuran tersebut bukan semata-mata untuk ibadah, akan tetapi ia ditujukan demi kemaslahatan suatu bangsa agar tidak celaka disebabkan kegagalan pemimpinnya. Hanya saja terkadang di antara kita –meskipun dengan niat yang baik- sering keceplosan ketika berargumentasi mengkritik pemimpin hingga tanpa sengaja malah berakhir dengan kritik yang justru menjatuhkan, bahkan berubah menjadi cacian dan makian.

Padahal dalam riwayat hadis disebutkan pula bahwa Rasulullah melarang umat-umatnya agar tidak menghina penguasa (HR. Al-Tirmizi). Bahkan bila pemimpin tersebut dinilai telah menyeleweng sekalipun, kita harus berhati-hati dalam mengambil sikap karena persyaratan dalam mencegah kemungkaran pun seperti yang dijelaskan oleh para ulama, haruslah dengan cara yang baik, bukan dengan cara buruk yang malah memunculkan fitnah atau bahkan kemudaratan yang lebih besar.

Di sisi lain kehadiran pemimpin yang lalim, sejatinya menjadi bahan introspeksi bagi diri masing-masing. Kenapa ? karena al-Quran sendiri menyebutkan bahwa bila Tuhan hendak menghukum suatu bangsa, maka dijadikan-Nya-lah di tengah-tengah mereka sosok pemimpin yang zalim, sebagai cerminan dari sikap masing-masing mereka yang juga ikut tenggelam dalam perbuatan maksiat (QS. al-An’am[6]: 129).

Mungkin ada baiknya bila kita merenungi kembali perkataan Imam Ahmad yang dikutip oleh Ibnu Taimiah dalam kitabnya al-syiasah al-syar’iyah, sebagai bahan pertimbangan bagi kita yang ingin turut serta berkontribusi membangun negeri ini  dengan cara “menasihati” pemimpin. “Jika kita mengetahui bahwa terdapat satu bagian di antara doa-doa yang kita panjatkan, yang akan dikabulkan oleh Tuhan. Hendaklah doa tersebut digunakan untuk mendoakan pemimpin.” Wallahu Alam.

 

Rianto Hasan

Rianto Hasan

Sosok idealis yg cacat mental, intelek abal-abal, salik picisan..
Sekarang ngemis di yogya

Previous post

Opera Setya Novanto Untungkan PDIP?

Next post

Perempuan Bercerita