Locita

Embun, Kisah Anak Korban Kekerasan Seksual

SAYA tahu bahwa profesi saya telah diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh paling murah dibayar adalah tubuh sang isteri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang isteri yang diperbudak. – Firdaus

Sore itu saya bermain-main dengan Embun, ia bergaya di depan lensa dengan seyum polosnya. Embun kini sudah bisa tertawa, dulu Embun lama tidak keluar kamar. Embun ke sekolah dengan menutup wajahnya dengan tas, sudah lama sekali ia tidak ingin bertemu dengan banyak orang.

Petang berlari ke rumah Embun. Petang memberitahukan orang tua Embun bahwa alat kelamin Embun berdarah.

***

Kasus pelecehan seksual di dua pekan terakhir ini menjadi isu yang banyak diangkat oleh media-media.  Berita terakhir datang dari Surabaya. Seorang  tenaga medis (perawat) di Rumah Sakit National Hospital, Surabaya diduga melakukan pelecehan seksual dengan pasien perempuannya.

Mengerikannya kasus-kasus seperti ini tidak hanya dijumpai di kota-kota besar. Tapi juga di kampung, desa, atau bahkan hingga di pelosok desa.

Hal yang paling mengguncang adalah saat satu minggu yang lalu, saya pulang kampung di Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Sinjai (Desa Panaikang). Saya diberi kabar jika tetangga saya, sebutlah namanya Embun. Embun berumur 7 tahun, dan tahun itu dia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas satu.

Embun mendapatkan pelecehan seksual sekaligus kekerasan seksual oleh tetangganya sendiri, sebutlah namanya Petang. Petang berumur 12 tahun, waktu itu Petang juga berada di Sekolah yang sama dengan Embun. Rumah Petang dan Embun bersebelahan, hanya tembok yang berfungsi sebagai pembatas rumah mereka.

Saat itu, Ibu Embun kaget melihat anaknya menangis dan mengahampirinya dengan celana yang penuh dengan darah. Embun lalu dilarikan ke Puskesmas Panaikang. Pihak Puskesmas merujuknya ke Rumah Sakit Kota Sinjai. Embun dimasukkan ke kamar bersalin untuk mendapatkan penanganan. Luka di kelaminnya mendapatkan empat jahitan.

Kini Embun sudah bisa berlarian kesana dan kemari. Luka di kelaminnya mulai sembuh.  Embun terlihat sudah melupakan kekerasan seksual yang pernah didapatkannya. Embun bermain, Petang dipindahkan ke sekolah dan kampung yang lain. Keluarga Petang malu dengan orang-orang sekitar di kampung.

Embun mungkin bukanlah satu-satunya, masih banyak Embun lainnya di Desa atau di pelosok Desa di Indonesia yang tidak kebagian perhatian kita. Beruntung, meskipun Embun tidak ditangani oleh psikiater tapi senyumnya menyiratkan ia masih punya semangat membangun masa depannya.

Rahmawati, 40 tahun (tetangga Embun) mengaku bahwa pihak keluarga telah melaporkan kasus ini ke Polisi dan Komisi Perlindungan Anak (KPAI) di Sinjai. Menurut Rahma, Polisi cenderung mengulur waktu memproses kasus Embun. “Kita mungkin tidak bisa menuntut pelaku, karena juga masih dibawah umur. Tapi setidaknya, Polisi bisa memberikan sikap yang tegas terhadap anak itu atau keluarganya. Pihak KPAI juga masih sekali mengunjungi rumah Embun.” Terang Rahmah kepada Locita.co.

“Saya tidak tahu kenapa, mungkin karena keluarga Embun yang miskin, jadi terkesan diabaikan. Kamu kan kerja di media, bantu sampaikan ke Ka Seto di Jakarta,” lanjut Rahmah. Jum’at (12/01/2018).

***

Nawal Al-Saadawi pernah mengabarkan kepada kita melalui novelnya Perempuan di Titik Nol tentang tokoh utama bernama Firdaus. Seorang wanita yang tinggal di sebuah desa yang mendapatkan perlakukan asusila dari temannya dan pamannya.

Tidak sampai disitu kekerasan seksual masih dialami Firdaus oleh suaminya sendiri, setelah pamannya menikahkannya.  Firdaus tumbuh menjadi perempuan yang sangat membenci laki-laki. Firdaus memilih jalan hidupnya sebagai pelacur yang kemudian divonis hukuman mati karena membunuh germo atau calo pria.

Firdaus mungkin sudah muak, ia bangkit dan mengabaikan konsekuensi yang akan didapatkannya; Membunuh. Firdaus menolak remisi dari Presiden untuk bebas, dia sadar ketika keluar dari penjara dia akan membunuh kembali.

Cerita ini mengingatkan kita kepada film Marlina, Si Pembunuh Empat Babak. Marlina meracuni empat laki-laki sekaligus di satu malam, dan membunuh satu laki-laki dengan cara memenggal kepalannya. Hal itu dilakukan Marlina saat mengetahui dirinya akan ditiduri secara bergiliran,

Keputusan membunuh yang dilakukan Marlina begitupun Firdaus bukanlah cara pintas, mereka tidak memiliki pilihan lain. Atau bisa jadi seperti harimau yang ada dalam diri setiap manusia, yang secara tidak terduga bisa keluar. Mungkin harimau itu sudah waktunya keluar saat telah selesai menghabiskan tubuh tuannya. Hal itu pernah diceritakan Eka Kurniawan dalam novelnya Lelaki Harimau.

Sejak kecil Firdaus telah mendapatkan pelecehan seksual dari teman dan pamannya. Kehidupannya seolah berjalan normal tapi bisa jadi ada endapan luka dan emosional menggiringnya lebih liar memahami tubuhnya sebagai perempuan.

Hal itu bisa bahkan sangat bisa terjadi pada tubuh Embun juga. Hingga saat ini Embun belum mendapatkan penanganan dari psikiater secara serius. Sungguh sulit, jika harus mempercayai dia telah sembuh. Bagaimana jika saat dewasa, Embun juga menjadi wanita yang membenci laki-laki. Bagaimana dia memahami tubuhnya sebagai perempuan?

Di negeri ini, Embun tidak boleh mendapatkan nasib yang sama seperti Firdaus ataupun Marlina. Bagaimanapun, perjalanan panjang akan dilalui Embun. Dia adalah anak kita, Embun adalah bunga-bunga yang siap bermekaran.

Siapapun yang membaca ini, kepada aktivis dan lembaga apapun semoga Embun bisa mendapatkan psikiater gratis. Saya sendiri sudah menghubungi Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Makassar. Sayang sekali, mereka belum mendapatkan alternatif ataupun akses pelayanan kesehatan mental gratis untuk Embun.

Embun butuh kita, bukan hanya untuk menyelamatkan hidupnya. Firdaus juga butuh kita untuk menyadari perempuan masa kini masih terus dijajah bahkan untuk alat kelaminnya.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Add comment

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.