Locita

Elegi Nyanyian Politik La Nyalla Mattalitti

lanyalla
ilustrasi (foto; Beritagar.com)

HARI itu, Kamis, 11 Januari, suasana Restoran Mbok Berek, Jl Prof Dr Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan tidak seperti biasanya. Wartawan dari berbagai media diundang untuk melakukan jumpa pers bersama seorang tokoh penting untuk menyampaikan suatu hal penting jelang pemilukada 2018.

Sosok tersebut adalah La Nyalla Mahmud Mattalitti, mantan Ketua Umum PSSI, Ketua Umum KADIN Daerah Jawa Timur dan pengusaha besar dari Jawa Timur. Bersama sederet ajudan dan sahabat, juga tokoh-tokoh yang berupaya mengusungnya menjadi salah satu kontestan dalam pilkada Jawa Timur, ia menyampaikan dinamika perjalanan politiknya sampai kemudian gagal menjadi kontestan akibat tidak mengantongi tiket dari Partai Gerindra.

Namun tidak disangka, curhat politiknya kala itu berupa menjadi sebuah elegi politik bercampur amarah. La Nyalla nampaknya tidak dapat menahan dan menyembunyikan sendiri ratapan kehilangan kesempatan politik untuk menjadi gubernur di Jawa Timur melalui Partai Gerindra, partai tempat dia berkorban dan mendedikasikan pengabdian politiknya.

Tak tanggung-tanggung, ujung lidahnya langsung diarahkan kepada sang Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang sangat ia hormati dan kagumi. Demikian juga rangkaian kata-kata yang diluncurkan ke sang idola adalah tuduhan pemalakan politik kepada dirinya berupa uang mahar partai sebesar 40 miliar agar bisa mendapatkan rekomendasi partai.

Ini memang bukan hal baru dalam dinamika politik di Indonesia. Sebelumnya kita juga dikejutkan oleh pengakuan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang mengaku diperas oleh partainya (baca: Partai Golkar) untuk menyetor uang sebesar 10 miliar sebagai mahar untuk mendapatkan rekomendasi partai di pemilukada Jawa Barat.

Dan, penomena ini secara lugas telah diulas juga oleh Kang Yusran Darmawan dalam essai-nya dibawah judul “Saling Sikut Demi Rekomendasi Partai”. Bedanya, Kang Yusran memilih diksi-diksi yang sedikit santun seperti taklimatnya “tahukah anda bahwa semua kandidat kepala daerah itu harus datang ke Jakarta, menelusuri ‘jalan-jalan tikus’ di partai politik, memberikan garansi, dan terakhir saling mengunci dengan segepok rupiah demi selembar rekomendasi partai?”

Tidak demikian halnya dengan La Nyalla, ia meneriakkan praktek pemerasan dan pemalakan itu secara vulgar. Ia langsung menyebut angka yang diminta, siapa yang meminta, kapan ia diminta, bagaimana uang diserahkan, dan tempat permintaan itu disampaikan. Jelas, tegas, dan terang benderang. Manuver politik La Nyalla seperti suluh politik yang menyala menerangi lembah hitam dan kubangan proses politik di Jakarta yang penuh intrik, jebakan, penipuan, dan pemerasan.

Manuver politik La Nyalla memang tidak bebas nilai, dan ini dapat dilihat dari pembelaan dari para petinggi Partai Gerindra yang menepis tuduhan beliau. Juga pernyataan beberapa pengamat dan publik yang menuduh La Nyalla sakit hati setelah ditinggalkan oleh Partai Gerindra, dan balik mendukung Gus Ipul.

Lepas dari polemik di atas, nyanyian La Nyalla merupakan pengorbanan politik yang harus diapresiasi dan diacungi jempol. Dunia politik dan demokrasi kita membutuhkan orang-orang berani sekaliber La Nyalla untuk menyuarakan praktek-praktek licik, culas, dan tidak adil dari dominasi pratai politik yang telah menghegemoni sistem politik di Indonesia.

Nyanyian seperti ini dibutuhkan untuk membuka kotak pandora yang merusak pranata politik dan sistem demokrasi kita yang sehat dan adi luhung. Kotak Pandora ini sengaja dipelihara dan dilindungi oleh para politisi untuk melanggengkan kuasa politiknya dalam wajah politik dinasti dan aristokrasi politik.

Utamanya bahwa pengungkapan skandal politik sangat berbanding lurus dengan upaya perbaikan sistem politik. Misalnya, Skandal Watergate yang berujung pada pengunduran diri Ricahrd Nixon sebagai presiden Amerika Serikat. Pengungkapan skandal ini melibatkan praktek spionase (penyadapan), serangan terhadap para kandidat presiden dari Partai Demokrat, dan korupsi Partai Republik dalam pengumpulan dana pemilih.

La Nyalla adalah simbol perlawanan terhadap ketidakbecusan strategi pendanaan partai, kaderisasi partai politik, dan hegemoni elit partai politik dalam menjalankan agenda partai tanpa memperhatikan aspirasi akar rumput dan kader partai yang butuh kepastian dalam jenjang pengkaderan. Berharap dengan nyanyian ini, akan ada transformasi dan perbaikan terhadap sistem perekrutan calon pimpinan kepala daerah.

Pada akhirnya kita butuh orang-orang pemberani seperti Cak La Nyalla Mahmud Mattalitti dan Kang Dedi Mulyadi. Berani menghadapi konsekuensi politik dan hukum atas upaya mereka membuka jalan bagi praktek-praktek politik yang santun, bersih, smart, dan elegan untuk mewujudkan sistem politik dan demokrasi yang bersih, jujur, adil, dan berkelanjutan!

 

Ahmad Mony

Baca, Diskusi, Tulis

Add comment

Tentang Penulis

Ahmad Mony

Baca, Diskusi, Tulis

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.