Locita

Dunia dalam Jagat Ujaran Gawai

sumber: Kompas

KEMAJUAN teknologi selalu melahirkan kemenduaan, begitu kira-kira yang disampaikan oleh Karlina Supelli dalam pidatonya di Dewan Kesenian Jakarta 2013 lalu, ia seperti dapat menerawang jauh apa yang akan terjadi di masa sekarang ini.

Dahulu, keberadaan teknologi tidak lain untuk mempermudah akses manusia, seperti melipat jarak dan memperpendek waktu tempuh dengan pesawat terbang, teknologi diperlakukan hanya sebatas tools yang digunakan murni atas kesadaran dan keinginan penggunanya.

Era kini berubah, teknologi telah berhasil melahirkan piranti yang menceraikannya dengan konteks. Sehingga, tidak perlu kita ketahui dari mana asalnya metal dalam perangkat komunikasi kita, tidak penting berapa hektar bumi yang digali dan berlubang untuk menjadikan semakin canggihnya gadget yang kita miliki. Juga tidak perlu menghiraukan nasib para buruh di pabrik gawai untuk memenuhi hasrat kita dalam berkomunikasi.

Piranti ini terus memperbaiki dan memperbanyak diri, bak kucing yang beranak pinak dari persilangan ras dan gennya. Hingga jatuhlah kita pada kesimpulan yang tegas, teknologi untuk teknologi, seperti makan untuk makan, tidak akan pernah ada selesainya.

Itu soal muasal. Dalam laku lampah keseharian, teknologi informasi tidak hanya menjadi sekedar pelengkap tersier, ia bahkan ikut hidup bersama tuannya, 24/7 tanpa henti yang menjadikannya piranti paling berpengaruh dalam kehidupan manusia menggantikan radio dan televisi.

Medium yang hanya menghadirkan monolog-monolog membosankan tanpa kita terlibat di dalamnya. Tidak heran, jika di belahan bumi yang lain, ada yang mengambil keputusan gila untuk menikah dengan gadgetnya.

Kita tentu perlu mengapresiasi akselerasi yang telah dilakukan oleh teknologi, ia telah dengan sukses meruntuhkan sekat-sekat teritorial, tidak lagi harus menunggu lama untuk mendapatkan kabar apa saja yang terjadi di tempat lain yang jaraknya ribuan mil dari tempat kita duduk menikmati kopi. Teknologi juga menjawab kebutuhan paling detail masyarakat dunia, Google menyebutnya dengan micro-moment needs.

Kepada siapa biasanya kita menanyakan kuliner paling lezat di suatu daerah selain pada tuhan Google? Tidak perlu menyaksikan ILC secara live, tinggal mengetik “ILC Fiksi” di kolom pencarian, akan muncul berbaris artikel, memberitakan kejadian yang tidak kita ikuti. Tidak heran Yasraf Amir Piliang menamakan era ini dengan dunia yang dilipat, karena kemampuan teknologi menghadirkan realitas dan citra dalam genggaman saja.

Namun, keserbacanggihan teknologi yang pesat ternyata tidak dibarengi dengan budaya berfikir yang dalam. Indonesia rupanya cukup berbangga dengan ditutupnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di tahun 2017 dengan angka 70.81 meningkat 0.63 pada tahun sebelumnya.

Hal itu berarti angka aman menurut standar United Nation Developments Programme (UNDP), lupa pada peringkat minat baca Indonesia yang menduduki peringkat kedua dari bawah terhadap 61 negara. Munculah ironi yang disebut dengan kemenduaan teknologi yang semakin menguat tegangannya jika disandingkan dengan realitas kekinian di Indonesia.

Ironi semacam ini telah membuat kita menjadi sangat latah untuk merespon apa saja termasuk ujaran-ujaran entah pada tulisan atau yang dilisankan. Kondisi ini semakin diperparah dengan tradisi literasi yang rendah, kultur diskusi dan keberterimaan pendapat yang juga terpuruk namuh tinggi pada kebiasaan saling olok dan memaki.

Dunia media semakin tumpang tindih dan berkelindan dengan ujaran-ujaran serius yang dianggap candaan, serta candaan yang dianggap serius. Ujaran yang dianggap penghinaan terhadap SARA padahal ia disampaikan pada ruang-ruang diskusi yang debatable. Kita gagal memahami teks terlebih memahami konteks yang terus-menerus berkembang.

Terjadilah peristiwa saling lapor atas ujar dan tindak yang direspon dengan terlalu berlebihan. Kita dipaksa untuk merespon segala apa yang terjadi dengan cepat tapi dangkal, tanpa perlu mendalami nilai dan relevansinya. Arus informasi yang begitu cepat dan masif serta menyempitnya ruang-ruang kontemplatif.

Hal tersebut membuat kita reaksioner pada hal-hal yang tidak asasi. Hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi seandainya kepemilikan gawai dibarengi dengan kecerdasan dalam menangkap setiap tanda dan keberagaman.

Juga catatan ini, sebenarnya merespon kelatahan itu, dan respon atas kelatahan adalah latah itu sendiri. Tapi biarlah, ini karena jenuh dan kesal, ketika kita dapati grup-grup WA, dinding-dinding Facebook juga di meme Instagram serta ciapan-ciapan Twitter dengan bom tagar hanya membahas soal “fiksi” sepanjang lima hari berturut-turut.

Meskipun dapat dipastikan, topik akan berganti sesuai dengan pembahasan dalam acara debat di salah satu stasiun televisi (re: ILC), dan kelatahanpun akan berganti. Menggelitik memang. Panggung debat boleh berakhir pada malam itu.

Namun, ujarannya terus direproduksi melalui jari-jari yang bergerak lihai di atas layar datar beberapa inchi. Itulah kenapa teknologi menjadi prolog panjang dalam catatan ini, karena perdebatan berlanjut hingga sekarang, memenuhi notifikasi media-media sosial.

Perdebatan panjang soal fiksi tersebut telah berhasil melahirkan banyak filosof dadakan sekaligus menguatkan sisi yang lain di kuadran kanan, kaum religi karbitan yang merasa terciderai agamanya. Ah, rasanya baru beberapa malam lalu kita juga latah merespon Konde Sukmawati, latah merespon Afi Faradisa tentang “Warisan”-nya yang fenomenal dan kelatahan lain yang berujung pada ranah hukum dan hujan caci maki pada pengujarnya.

Semakin sengkarut urusan jika sedikit-sedikit lapor, yang dilaporkan melaporkan pelapor. Mengidentifikasi mana subjek mana objek secara pragmatik dan semantik pun sulit bagi ahli bahasa.

Kita seperti bukan lagi hidup di Indonesia dengan nenek moyang yang memiliki pendalaman nilai pada tutur dan lakunya, adi luhung falsafah hidupnya dan arif menanggapi keberagaman baik gagasan maupun praksis. Kita hidup di jagat antah berantah, jagat ujaran.

Energi besar dikeluarkan dengan muspra untuk menanggapi ujaran-ujaran yang sebenarnya juga memiliki kebenaran, paradoksal. Oh, barangkali ini tanda kurang piknik, kurang lama ngopi tapi paling hobi dengan gawai.

Dini Arfiani

sibuk cari kesibukan

Add comment

Tentang Penulis

Dini Arfiani

sibuk cari kesibukan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.