Locita

Doa Para Wali Mampu Melenyapkan Wabah

Ilustrasi (sumber foto: life.idntimes.com)

Wali Allah punya kemampuan untuk mengubah dunia dengan permintaannya kepada Allah. Doa para wali sangat mustajab.

Situasi semakin runyam. Angka-angka penderita Covid-19 merangkak naik. Ribuan warga Indonesia sudah terpapar. Angka ini diprediksi akan terus bertambah. Rasa khawatir semakin membuncah. Bukan hanya soal terpapar virus tetapi juga kehidupan ekonomi yang mulai terancam.

Covid-19 telah menunjukkan sisi lemah manusia yang selama ini merasa paling berkuasa terhadap bumi. Manusia ternyata memang sangat lemah. Satu virus kecil saja membuat manusia sibuk dan menunjukkan kerapuhannya. Negara-negara adidaya kewalahan dan menghadapi krisis.

Virus ini seolah menjadi pertanda, bahwa alam sedang menunjukkan identitas aslinya sebagai penguasa kehidupan. Seolah ingin mengingatkan manusia bahwa dia pernah mengeliminasi mahkluk-makhluk bumi yang telah hidup ribuan bahkan jutaan tahun. Apakah kali ini alam sedang menguji kelayakan manusia untuk tetap dipertahankan di planet bumi.  Tidakkah alam sedang menyiapkan kejutan terhadap spesies manusia? Entahlah.

Kyai Saleh mendengus nafas panjang. Situasi ini mengingatkannya ke beberapa puluh tahun lalu. Saat itu, kampung tempat pesantren berada sedang terancam oleh wabah aneh. Sejenis sakit perut yang menyerang manusia. Tubuh yang kuat bisa menahannya, tetapi tubuh yang lemah dengan cepat akan meninggal dunia.
Mbah Bisri melarang semua santrinya untuk keluar dari pesantren. Selama sebulan lebih wabah itu tak kunjung hendak surut. Berbagai upaya dari pemerintah dan pihak kesehatan untuk mengendalikan penyebaran wabah itu. Beberapa orang petugas medis dan pejabat pemerintah gugur. Suasana semakin mencemaskan.

“Wabah adalah tragedi yang terus menerus terjadi dalam peradaban manusia, anakku! Setiap kurun waktu tertentu, wabah selalu muncul. Di zaman Nabi juga pernah ada wabah yang disebut thaun. Ribuan umat Islam meninggal dunia. Di zaman Belanda, dunia pernah diserang wabah flu spanyol yang menyebabkan ratusan ribu manusia meninggal dunia.” kata Mbah Bisri di suatu sore kepada para santri yang bertanya tentang wabah.

 “Apakah wabah ini seperti azab yang menimpa kaum nabi terdahulu?” tanya Saleh kepada Mbah Bisri.

“Azab, ujian, cobaan adalah hak Tuhan. Tidak ada satupun manusia yang bisa menilai identitas wabah ini. Dalam situasi seperti ini, kita hanya dianjurkan untuk bersabar dan berupaya sekuat mungkin untuk mempertahankan pemberian Tuhan yang paling mulia kepada kita, yaitu jiwa dan akal.”

 “Apa yang harus kita lakukan, Mbah?”

“Pada saat terjadi wabah, ada petunjuk dari kanjeng Nabi yang bisa kita pedomani. Nabi Muhammad melarang kita memasuki kampung yang terkena wabah dan orang yang ada di kampung wabah itu dilarang untuk meninggalkan kampungnya menuju kampung lain. Tujuannya agar penyebaran wabah tidak melebar.”

“Mbah, bukankah itu tidak berakibat buruk pada orang-orang yang ada di kampung wabah itu. Seolah-olah kita membiarkannya menderita?” Tanya Jafar.

“Anakku semua. Itu bagian dari cara penyelesaian. Jika orang yang di kampung wabah dibiarkan keluar, maka pengendaliannya akan semakin sulit. Potensi orang yang akan kena akan lebih besar. Di situlah tugas pemerintah untuk menyelesaikan kasus wabah yang terjadi di satu kampung. Sulit terbayangkan apabila kemampuan tim medis lebih kecil dibandingkan pola penyebaran penyakit.”

“Apa kesalahan mereka yang meninggal dunia karena wabah, Kyai? Bukankah ini seperti hukuman kepada mereka.” Gumam salah seorang santri.

“Nabi menjanjikan mereka yang meninggal dalam situasi wabah adalah syahid. Kalian paham kan? Mati syahid lah kemuliaan yang paling dicari oleh umat muslim. Orang yang mati syahid punya tiket otomatis ke surga.”

“Wahh… kalau begitu mending kita mati saat wabah Kyai. Bisa mati syahid.” Kata Barak.

Mbah Bisri tersenyum, “tidak semua yang meninggal dalam wabah itu masuk dalam kategori syahid. Ibarat dalam keadaan perang, prajurit yang meninggal dunia karena tidak menaati strategi perang atau mereka yang bunuh diri karena terluka berat justru tidak dianggap sebagai mati syahid, tetapi mati konyol.”

“O, jadi tidak semua  mati syahid mbah? Siapa saja mereka?”

“Tim medis dan petugas lapangan yang bekerja untuk melawan penyebaran wabah adalah panglima perangnya. Jika mereka meninggal dunia karena itu, maka mereka syahid. Warga yang terjangkiti wabah meninggal dunia, juga bisa dikategorikan mati syahid.”

“Trus, yang mati konyol, siapa Mbah?” Saleh ikut bicara.

“Begini anakku. Ketika wabah sudah mulai melebar. Biasanya ada langkah-langkah pencegahan yang kita lakukan. Misalnya saat ini, saya melarang semua santri keluar dari pesantren. Itu tindakan pencegahan. Saya bisa mengontrol perilaku kalian. Kalaupun kita sudah melakukan itu semua dan masih kena trus meninggal, berarti kita masuk dalam kategori orang yang mati syahid. Sedangkan santri yang merasa sok jago. Tidak mengindahkan peraturan yang saya terapkan. Dia tetap keluar dari pesantren karena merasa hebat dan sombong. Nah, apabila dia kena wabah lalu meninggal dunia, dia akan mati konyol. Kenapa? Karena dia seperti bunuh diri. Sudah mengerti karakter wabah tetapi juga menantangnya. Jadi berhati-hatilah!”

Para santri terdiam.

“Mbah, wabah ini sudah berlangsung lama. Bagaimana caranya agar wabah ini segera berlalu?”

“tiga cara. Pertama, semuanya berpartisipasi. Semua warga mengambil peran yang bisa dilakukan sesuai kemampuan. Termasuk mentaati peraturan yang sudah ditetapkan oleh pihak yang berwenang. Semakin taat dan tinggi partisipasi warga, semakin besar peluang wabah ini cepat berlalu. Kedua, pihak medis segera menemukan obat penyakit ini. Pengetahuan kedokteran yang mereka miliki harus segera dengan cepat bekerja. Alam bekerja dalam konsep keseimbangan. Jika ada penyakit, maka obatnya pasti ada. Saatnya para ilmuwan di dunia kesehatan bekerja keras untuk menemukan penawar. Semakin cepat obat penawar ditemukan, semakin cepat wabah ini dapat ditangani.”

“Cara ketiga, Kyai?” Saleh cepat mengingatkan ketika Mbah Bisri kelihatannya telah sampai pada akhir kalimat.

“Doa para wali. Wali Allah punya kemampuan untuk mengubah dunia dengan permintaannya kepada Allah. Doa para wali sangat mustajab. Mereka ini orang yang terpilih dan istimewa di hadapan Allah. Apapun yang mereka minta pasti dikabulkan. Termasuk, apabila mereka meminta agar wabah ini disingkirkan dari muka bumi.”

“Masih adakah wali, Mbah?”

“Ada. Setiap zaman ini dikawal oleh para wali sebagai paku bumi. Jika wali-wali Allah sudah tidak ada, maka kehidupan di muka bumi pun akan musnah.”

“Mbah, lalu mengapa sekarang para wali ini tidak berdoa agar wabah segera berlalu.”

Mbah Bisri terdiam sejenak, “di situ masalahnya. Para wali ini adalah jenis manusia unik. Cara pikir mereka berbeda. Dan, mereka sangat  malu meminta sesuatu kepada Allah. Mereka selalu merasa anugerah yang Allah berikan kepada kita manusia, tidak sebanding dengan penyakit dan wabah yang menimpa kita. Bahkan di antara para wali ini menganggap penyakit adalah karunia Tuhan. Para wali ini mewarisi sifat para nabi. Nabi Ayyub enggan berdoa kepada Tuhan agar penyakitnya diringankan karena malu. Nabi Ayyub merasa anugerah Tuhan masih lebih besar ketimbang penyakit yang diberikan kepadanya. Nabi Muhammad pernah ditawarkan pasukan untuk menghabisi para musuh, tetapi beliau menolak. Nabi memilih menyelesaikan situasi kemanusiaan dengan cara manusia. Nabi tidak ingin menggunakan keistimewaan yang dimiliki untuk meringankan tugas kenabiannya.”

Para santri terdiam, “Jadi mbah?”

“Jangan putus asa. Biarkan kita selesaikan wabah ini dengan cara yang kita bisa sebagai manusia. Tuhan tidak akan memberikan beban kepada manusia melebihi kemampuannya. Mari berupaya semaksimal mungkin yang bisa kita lakukan, Tuhan pasti mengirimkan berkahnya. Yakinlah, badai pasti berlalu.”

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Add comment

Tentang Penulis

Pepy Al-Bayqunie

Pepy Al-Bayqunie

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.