Locita

Doa dan Terima Kasih untuk Jokowi dari Illinois Surat Cinta untuk Jokowi

PUKUL 06.15 maghrib. Saya akhirnya tiba di Stasiun Martinsburg, Virginia, setelah sejam naik kereta dari Washington DC. Sulit rasanya percaya bahwa saya kini naik kereta justru di Amerika Serikat, tak kurang 21.707 km jauhnya dari Sinjai, kampung saya di Sulawesi Selatan.

Selama 10 hari saya mengunjungi Chicago, Boston, New York, Washington lalu ke Virginia. Di Virginia, saya menemui Liz England, dosen dari Amerika Serikat yang sempat mengajar saya di UIN Alauddin Makassar.

Selama bepergian ke kota-kota tersebut, saya menggunakan aneka moda transportasi yaitu pesawat, kereta, dan bus. Sebelumnya, saya juga ke Kansas dengan mengemudikan mobil dengan seorang Indonesia lainnya. Jarak yang harus kami tempuh tak kurang dari 500 km. Tetapi kami hanya tempuh selama 5 jam. Jarak ini setara jarak pulang pergi kampung saya dengan Makassar. Jika dikalkulasi butuh waktu 10 jam. Dua kali lebih lama.

Sepanjang perjalanan saya selalu mengagumi jalanan yang mulus dan bebas macet. Jalanan tol saling silang menyilang. Tiang-tiang penyangga mengangkang berdiri kokoh. Tak ada hambatan berarti. Saya juga selalu mengagumi subway atau kereta bawah tanah di setiap kota besar yang saya kunjungi. Kereta datang tepat waktu. Bus pun demikian. Betapa mudah bepergian ke satu tempat ke tempat lainnya.
Saya mengagumi jalanan di sini yang bagus bahkan hingga ke pelosok seperti ini. Kata saya pada Liz dalam perjalanan menuju rumahnya sembari menunjuk jalanan desa yang mulus.

Ia mengangguk tersenyum. Liz yang pernah tinggal di Indonesia selama hampir setahun paham betul dengan infrastruktur, terutama transportasi di negeri ini. Ia seringkali mengeluhkannya saat tinggal di Makassar. Saya mahfum. Tapi itu lima tahun lalu. Kini saya dengan bangga menceritakan perkembangan dan mega rencana insfrastruktur yang sedang dibangun pemerintahan Jokowi.

Saya memperlihatkan video proyek pembangunan kereta dari Makassar ke Manado padanya. Wow! That will be an improvement! Sambut Liz memuji.

Memang, pembangunan masif jalan, pelabuhan, dan bandara di pelbagai sudut negeri juga menyebabkan konsekuensi lain. Satu diantaranya adalah dicabutnya subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak) dan diikuti harga kebutuhan lain yang merangkak naik.

Ibu saya yang sepanjang hidupnya lebih banyak diam kini turut bersuara mengeluhkan harga kebutuhan hidup yang naik. Karenanya saya harus mengirit agar sebisanya dapat membantu orang tua di kampung. Tetapi barangkali memang demikianlah harga sebuah perubahan.

Perubahan yang kelak tak hanya untuk satu atau dua daerah tetapi se-Indonesia yang luasnya tak terbilang itu. Agar bangsa ini dapat berdiri tegak tanpa canggung semaju bangsa lain, termasuk Amerika Serikat, tempat saya menimba ilmu kini.

Membangun Mental

Jangan merasa inferior. Jangan mau kalah dengan bangsa lain. Kata-kata Pak Jokowi di sebuah video saat memberi sambutan memberikan saya semangat untuk tidak bermental penakut dan pecundang.

Bagi saya, Jokowi adalah teladan yang memangkas batas-batas antara rakyat jelata dengan pemimpinnya. Ia melakukannya bukan saja karena ia seorang presiden yang harus pro rakyat kecil tetapi juga ia memang berasal dari sana. Anak seorang tukang kayu yang kini menjadi presiden sebuah negara besar.

Saya menonton video tersebut tepat ketika saya merasa sedang inferior dengan mahasiswa dari negara-negara lain di kelas. Saya memang memiliki semua syarat untuk merasa pesimis dan inferior.

Terlahir dari keluarga petani sederhana di ujung kampung yang tak berlistrik mengharuskan saya merantau seorang diri saat kelas empat SD ke Kota Watampone, kampung Wakil Presiden Juruf Kalla. Saya menumpang dan bekerja di sebuah keluarga yang baik hati. Saya hidup selama berbelas-belas tahun dalam sebuah lingkungan yang masih menakar seorang dari keturunan, kekayaan, jabatan dan mungkin juga ukuran tubuh. Sebagai seorang rakyat jelata dan menumpang pula, saya harus tunduk pada segala aturan. Harus bersedia menerima kenyataan yang seringkali melukai.

Hingga pada suatu waktu. Di sebuah acara syukuran rumah baru seorang kepala dinas, saya sedang duduk di kursi yang disediakan untuk para tamu dengan sebuah piring di tangan. Seorang meminta saya turun dari kursi dan duduk di lantai seorang diri. Para tamu menatap beberapa saat lamanya. Dan saya hanya bisa menunduk sembari merasakan hangatnya air mata jatuh ke piring dan tertelan bersama makanan. Betapa celaka rupanya menjadi orang miskin, bukan bangsawan dan bukan siapa-siapa.

Itulah sebabnya saya tiada ada bosan-bosannya memutar ulang video Jokowi ketika duduk sama tinggi di kursi kayu dengan dua warganya. Atau duduk dan bermain bersama atau menepuk-nepuk bahu anak-anak di kampung-kampung. Lalu mengajak mereka berfoto. Bahkan mengajak bercanda. Ada perasaan haru dan tersentuh di hati ini. Bagaimanakah rasanya saat rakyat jelata yang bukan siapa-siapa berhadap-hadapan dengan presidennya sendiri?

Berbelas-belas tahun saya merasai betapa tidak menyenangkan hidup sebagai rakyat kecil. Terpinggirkan dan harus tunduk takzim kepada mereka yang lebih tinggi karena jabatan, keturunan, dan atau kekayaan. Tetapi seorang presiden yang dihormati seluruh negeri bersedia berbincang dan tertawa terbahak-bahak dengan rakyat jelatanya. Terbuat dari manakah hatinya?

Bukankah Pak Jokowi hanyalah anak tukang kayu, dengan wajah ndeso dan tubuh yang kurus. Konon, tak pantas menjadi presiden. Hanya saja, kebaikan dan kemuliaan tak diukur dari besarnya otot, tetapi besarnya jiwa.

Saat kecil, saya selalu merasa tersentuh ketika seorang yang posisinya lebih tinggi bersedia untuk duduk bersama dan mengajak berbincang tanpa memandang batas, walau tentu tak banyak yang saya temui seperti ini. Semakin tinggi posisinya semakin membuat saya kagum. Apatah lagi jika yang melakukannya adalah seorang presiden.

Orang-orang bisa saja menudingnyanya pencitraan. Tetapi biarlah mereka berurusan dengan kebenciannya sendiri. Yang pasti mereka, anak-anak jelata, kelak akan menceritakan kepada anak-anak alkisah seorang presiden negerinya pernah mengajaknya berjabat, berbincang, berjabat, dan bahkan berfoto.

Ceritanya akan diulang-ulang tak bosan-bosannya. Fotonya barangkali akan digantung di kamar atau di ruang tamu. Cerita dan foto suatu waktu akan menjelma menjadi semangat untuk melakukan hal yang sama.

Sekali waktu saya pun berharap dapat berfoto bersama. Tetapi keinginan itu tak lebih penting dari doa yang saya kirimkan dari jauh. Kebahagiaan yang menyeruak dari dada mereka, rakyat jelata yang disalami telah lebih dari cukup membuat saya turut merasakan kebahagiaan yang sama. Cukuplah saya menatap kebahagiaan dan melihatnya dari balik layar.

Akhirnya, pembangunan infrastruktur memberikan saya keyakinan bahwa kelak ketika semua pembangunan rampung, Indonesia dapat berlari lebih kencang mengejar ketertinggalan. Sementara gaya kepemimpinan merakyatnya mengirimkan pesan jika jabatan hanyalah amanah.

Kita tak tahu, anak-anak kecil yang disalaminya, diajak berfoto, bahkan ditemani bercanda kelak menjadi seorang pemimpin seperti dirinya. Sungguh betapa banyak hal-hal sederhana yang dampaknya tidak sederhana.

Pak Presiden, semoga Tuhan senantiasa membersamaimu selalu. Terima kasih telah bekerja keras membangun bangsa ini. Doa-doa dari jauh terlarungkan ke langit untukmu dan rakyat seluruh negeri.

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

1 comment

Tentang Penulis

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.