Esai

Di Antara Palestina dan Rohingya, Ada Konflik Patani Terlupakan

Kelompok dan komunitas Muslim di berbagai belahan dunia banyak dilanda konflik. Belakangan yang paling populer adalah Palestina, Rohingya dan Suriah.

Beberapa tempat lainnya terlupakan, atau hanya sedikit yang diekspos ke hadapan publik. Salah satunya adalah konflik di Patani, Thailand Selatan.

Pentingnya untuk menyimak konflik di Patani selain urusan kemanusiaan adalah kedekatannya dengan Indonesia. Baik secara geografis maupun secara identitas. Identitas yang dimaksud adalah kemelayuan dan agama Islam.

Pada saat menjadi relawan di kawasan itu tahun 2013, saya mendapati beberapa hal yang mencengangkan. Unsur kemelayuannya begitu kental. Beberapa kata masih bisa saya mengerti karena mirip dengan bahasa Minang. Misalnya ambo atau sayo yang berarti saya. Atau mari mano artinya dari mana.

Disana juga terdapat sebuah tempat yang dikenal dengan nama Kampung Jawa atau Pagar Jawa. Sebuah nama yang menandakan hubungan kuat yang sudah lama terjalin antara orang Melayu Patani dengan para pendatang dari Jawa.

Keunikan juga terdapat dalam simbol keislaman. Sulit untuk menemukan muslimah yang memakai celana. Kalau perempuan tidak berkerudung hampir bisa dipastikan dia adalah orang Siam, bukan Melayu.

Di masjid jarang ditemukan orang yang memakai pakaian kasual ketika beribadah. Umumnya mereka bergamis atau bersarung dengan kopiah serta sorban di kepala. Saya sendiri sempat malu, karena pernah menjadi satu-satunya orang yang bercelana jeans dan berbaju kaos ketika shalat berjamaah.

Dalam hal baca tulis jamak ditemukan di kawasan Patani huruf Arab Melayu atau Arab Pegon selain aksara Thailand. Penduduk setempat menyebutnya dengan Arab Jawi. Malahan aksara Latin (mereka menyebutnya dengan Rumi) kelihatannya agak sulit bagi mereka. Ketika saya mengajar tulisan Latin bagi anak-anak, alih-alih menulis dari kiri, mereka menulisnya dari kanan seperti tulisan Arab.

Patani Darussalam, sebagaimana penduduk setempat menyebutnya, pada masa lalu adalah sebuah kerajaan Melayu-Muslim. Banyak pondok pesantren yang eksis. Bahkan ulama kelas dunia seperti Syekh Daud Fathani dan Syekh Ahmad Fathani lahir dari kawasan itu. Situs-situsnya hingga hari ini masih dapat ditemukan, seperti Masjid Kerisik dan meriam kerajaan. Namun faktanya, wilayah tersebut sudah masuk ke teritorial negara Thailand semenjak awal abad 20.

Ibrahim Syukri dalam bukunya Sejarah Kerajaan Melayu Patani, menyebutkan bahwa akhir dari kedaulatan Patani sebagai kerajaan adalah tahun 1902, ketika Thailand menganeksasi kawasan itu. Raja yang berdaulat terakhir, Sultan Sulaiman Syarifuddin wafat pada tahun 1899. Sementara penggantinya, Sultan Tengku Abdul Kadir Kamaruddin kesulitan untuk menghadapi manuver dari Kerajaan Thailand. Akhirnya ia dipenjara dan terpaksa mengasingkan diri ke Kelantan (saat ini masuk Malaysia) sampai akhir hayatnya.

Faktor politik lain kejatuhan Patani adalah perjanjian yang dilakukan oleh Inggris dengan Thailand pada tahun 1909. Perjanjian yang dikenal dengan nama Anglo-Siamese Treaty tersebut mewajibkan Thailand menyerahkan beberapa wilayah di utara Malaysia sekarang ke tangan Inggris. Sekaligus menetapkan demarkasi, yang menandai masuknya Patani kedalam teritorial Thailand.

Bagi pengamat seperti Adam Johnson, perjanjian ini bermakna adanya legitimasi Britania Raya terhadap penjajahan Thailand atas Melayu Muslim Patani. Dan semenjak perjanjian itu pula, kerajaan Patani telah hilang dari peta dunia. Mereka bisa disebut dengan the forgotten Malays alias orang melayu yang terlupakan.

Perjanjian itu juga mengingatkan saya akan Traktat London pada awal abad ke-19. Ketika itu daerah Malaka dan Singapura dikolonialisasi Belanda. Sementara Bengkulu adalah wilayah Inggris. Kedua wilayah jajahan ini pada akhirnya dipertukarkan oleh para tuannya.

Semenjak masuknya Patani kedalam wilayah Thailand mulailah konflik bermunculan. Banyak pemberontakan dan kerusuhan dalam upaya merebut kembali kedaulatan Patani. Hingga kini, pergolakan yang sudah meregang banyak nyawa tersebut masih belum berhenti. Semenjak tahun 2004 saja tidak kurang dari 6500 korban tewas. Pertengahan tahun lalu terjadi lagi pengeboman salah satu pusat perbelanjaan.

Korban yang masih hidup pun tidak kurang penderitaannya. Saya sempat bertemu dengan salah seorang korban salah tembak. Saat ia kecil, kedua matanya terkena peluru saat bersembunyi ketika terjadi baku tembak. Ia terpaksa mengalami kebutaan hingga ajal menjelang.

Tentu saja dari sudut pandang pemerintahan Thailand, usaha yang mereka lakukan adalah untuk menjaga teritorial mereka supaya tidak berkurang. Sementara dalam pandangan Patani, usaha yang mereka lakukan adalah sebuah perjuangan. Akan tetapi, seperti banyak ditemukan  di daerah konflik lainnya, di Patani pun muncul banyak kelompok pejuang.

Kalau di Palestina bisa ditemukan Hamas dan Fatah, atau di Suriah terdapat Free Syrian Army (FSA) dan Jabhah Nusrah begitu juga halnya di Patani. Misalnya ada Barisan Revolusi Nasional (BRN), Patani United Liberation Organization, Islamic Liberation Front of Patani dan Islamic Mujahideen Movement of Patani.

Banyaknya kelompok ini tentu menyulitkan perjuangan yang dilakukan. Ini belum lagi termasuk pihak yang berbeda pendapat karena penderitaan konflik yang begitu panjang. Sebagaimana yang diutarakan Pak Narong, salah seorang akademisi Patani yang melawat ke Jakarta beberapa waktu lalu, beberapa pihak sudah merubah pandangannya. Ada orang-orang yang hanya ingin konflik selesai dan hidup damai meski mereka masih dibawah pemerintahan kerajaan Thailand.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

M Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

Apa Kabar Abraham Samad?

Next post

Menjinakkan Harimau Kata-Kata