Locita

Di Balik Buku AM Fatwa dan Rahasia Supersemar Memoar Bersama AM Fatwa

SAYA bersyukur pernah berkenalan, dekat dan bekerja sama Bapak AM Fatwa. Perkenalan itu membekas dan memiliki “kisah sedikit” tentang sosok Almarhum AM Fatwa.

Sebelumnya. saya pernah membaca, mendengar pengakuan dan segar dalam ingatan saya, perjalanan, perjuangan dan karier politik seorang legislator bernama AM Fatwa, kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 12 Februari 1939 dan wafat, 14 Desember 2017, sepak terjangnya yang terkenal saat perlawanan Tanjung Priok.

Selama menjabat Wakil Ketua DPR RI, AM Fatwa merangkul beberapa staf profesional dan yang berbakat menulis. AM Fatwa telah menerbitkan dan meluncurkan puluhan buku yang dihadiri oleh banyak orang dan diliput oleh banyak media nasional. Namanya makin terkenal. Prof. Amien Rais pernah mengakui ketekunan dan hobi inteleknya AM Fatwa menerbitkan buku, “Saya ini, seorang guru besar, kalah banyak buku oleh Pak Fatwa.”

Salah satu buku AM Fatwa yang fenomenal adalah Menggugat dari Balik Penjara (Edisi Revisi), 2003 oleh Penerbit Teraj, Grup Mizan, saya sebagai editor.

Saya membaca berulang-ulang dan mengedit ulang isi buku itu. Saya terkesan pada bab yang berisi surat-menyurat AM Fatwa ke keluarga dan teman-temannya selama di Penjara. Bab Surat-menyurat itu dinilai memiliki keistimewaan, akhirnya dipisah dan direncanakan terbit tersendiri.

Tapi bukan lagi saya yang menanganinya. Kecerobohan saya mengedit “Kata Pengantar” buku itu, tulisan Almarhum Ramadhan KH, salah satu penulis biografi Presiden Soeharto” menyebabkan saya mendapat “marah besar” dari Pak Fatwa, karena Pak Ramadhan KH keberatan, memrotes saya lewat telepon dan menyurati saya dari Afrika Selatan, tempatnya bertugas ketika itu. Tapi hubungan baik saya tetap terjaga dengan Pak Fatwa.

Kisah lain saya dengan Pak AM Fatwa: saya bisa masuk dan mendapat tempat duduk di Gedung MPR RI menghadiri pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI 2004-2009, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan M. Jusuf Kalla, 20 Oktober 2004 karena mendapat ID Card, tanda masuk dari Pak Fatwa. Saya juga pernah memayungi Pak Fatwa di TM Kalibata. Ketika upacara pemakaman Almarhum Bapak Baramuli. Turut pula pernah mendengar kisah dialog antara Pak Fatwa dengan Almarhum Jenderal M. Jusuf, ketika M. Jusuf sakit keras di Makassar.

Pak Fatwa menanyakan, “Tabe Puang, siapa yang menyimpan teks asli ‘Supersemar’ dan di mana letak kuburan Kahar Muzakkar?” Jenderal Jusuf tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Saya juga pernah mendengar kisah pernikahannya dengan seorang warga keturunan Tionghoa (Cina) yang masuk Islam (mualaf) dari Almarhum Mohammad Taha, mantan Ketua Umum BPP KKSS. Saya mengenal baik beberapa staf Pak AM Fatwa seperti Amru, Viva Yoga Muladi dan Ahmad Bakir Ihsan, teman saya di Grup Penerbitan Mizan. Dan ketika Pak Fatwa mendirikan AM Fatwa Center, saya pun dimasukkan salah satu Pengurus dan saya hadir di acara peresmiannya.

Saya di beberapa pertemuan dengan Pak Fatwa, memilih momen bersalaman ketika tidak padat orang mengelilingi Pak Fatwa. Saya biasanya ditanya, “Apa kabar, nomor HP masih tetap atau ganti?”

Saya pernah menawarkan diri untuk membantu Pak Fatwa, mengumpulkan dan menerbitkan ulang buku-bukunya, menjadi Ensiklopedi Pemikiran agar terjaga, seperti buku-buku Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, dan diiyakan. Saya pernah diajak ikut rapat bersama tim penyusunan bukunya di Puncak, Bogor. Ajudannya mengontak saya, tapi saya tidak jadi ikut karena berhalangan.

Pak Fatwa dirawat di RS MMC Jakarta karena sakit beberapa hari sebelum meninggal. Bapak M. Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI bersama rombongannya, Aksa Mahmud, Sofyan Djalil, dan kelihatan tokoh muda Arief Rosyid Hasan, Mantan Ketua Umum PB HMI melayat lebih awal ketika Pak Fatwa baru saja menghembuskan nafas terakhirnya.

Mayatnya kemudian dibawa ke rumahnya di kawasan Pejaten Pasar Minggu dan disinggahkan di Gedung MPR RI untuk dishalatkan dan diantar ke Taman Makam Kalibata. Di atasnya peti jenazahnya diletakkan bendera merah putih sebagai simbol tokoh dan pejuang bangsa dan umatnya.

Bapak Zulkifli Hasan didaulat mewakili keluarga memberikan sambutan dan permohonan maaf jika ada salah dan khilaf Almarhum Bapak AM Fatwa. Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Oesman Sapta Odang atau OSO menjadi inspektur upacara pemakaman secara militer ini. Dia menyerahkan jenazah almarhum untuk dimakamkan.

Usai itu, prosesi pemakaman secara militer pun dimulai. Bendera merah putih dibentangkan saat jenazah AM Fatwa dimasukkan ke dalam liang lahat. Tembakan juga dilepaskan ke udara sebagai tanda penghormatan terakhir bagi almarhum. Suasana haru menyelimuti lokasi.

“Kita semua kehilangan Pak AM Fatwa, kata Presiden Joko Widodo, seperti oleh dikutip media nasional; “Pak Fatwa adalah Tokoh Demokrasi,” tulis Psikolog Reza Indragiri Amriel; “Tokoh Pembebasan dan Pembela Hak-Hak Azasi Manusia, tulis Prof. Dr. Hafid Abbas, mantan Komisioner Komnas HAM RI. “Tokoh Pelanjut HOS Cokroaminoto,” tulis Dahnil Anzar Simanjutak, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah.

“Aktivis yang Tak Pernah Gentar,” tulis Taufiqulhadi, Anggota DPR RI. “AM Fatwa Politisi Superaktif”, tulis Dr. Mohammad Nasih; dan mungkin masih terdapat beberapa tulisan dan testimoni tentang sosok pribadi dan ketokohan Almarhum AM Fatwa.

Kini Pak Fatwa telah pergi selamanya. Banyak kenangan kebaikan dan buku-buku yang telah diwariskan. Semoga ada salah satu anaknya yang merawatnya atau lebih baik jika buku-buku itu dihibahkan ke lembaga pendidikan atau yayasan yang dekat Pak Fatwa untuk dikelola dengan baik agar terjaga dan berguna sesuai harapan Pak Fatwa.

Selamat Jalan Pak Fatwa. Engkau memiliki prinsip hidup, warisan keberanian terhadap suatu kebenaran, warisan karya-karya buku, pemahanan agama yang bagus, anak-anak dan cucu-cucu yang baik, junior, sahabat dan pengikut yang banyak.

Kami semua merasa ikut mendoakan Bapak, bahagia di alam sana. Semoga arwah-ruhmu menemukan jalan terbaiknya menuju Tuhanmu. Amin

Saleh Mude

Tentang Penulis

Saleh Mude

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.