Esai

Defisit Kebahagiaan BPJS Kesehatan

WAJAH Badan penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan adalah wajah ketidakbahagiaan. Setidaknya itu yang saya temukan dalam wajah banyak orang yang saya kenal bekerja di BPJS bidang satu ini.

Dari mereka saya akan menceritakan tiga orang yakni Fulan, Bunga dan Nana. Salah seorang di antaranya pengambil kebijakan di BPJS pusat yaitu Fulan.

Ada perubahan mendasar dalam warna rambut kawan saya satu ini. Dulunya, dia dikenal sebagai orang yang awet muda, menginjak usia 50 tahun, rambutnya masih hitam mengkilat, namun tiga tahun bekerja di BPJS telah memutihkan dua pertiga rambutnya. Perubahan yang lain adalah selera humor yang meningkat.

Jika dulunya terkenal kalem, sekarang lebih sering membuat banyolan yang (maaf) tidak lucu. Saya yakin betul, banyolannya itu lebih ditujukan untuk menghibur diri sendiri yang kurang piknik daripada menghibur orang di sekitarnya untuk tertawa.

Yang Kedua, seorang teman namanya Bunga, tentu nama samaran. Bunga bekerja di BPJS Kesehatan nun jauh di Tengah Pulau Kalimantan. Aslinya dia orang Bekasi. Bagi dia, masalah utamanya adalah jodoh. September yang lalu, dia baru disematkan gelar bintang tiga. Gelar untuk siapapun yang menginjak usia 30 tahun. Sudah Ghalib bahwasanya di usia kepala tiga dan belum menikah adalah ketidakberuntungan.

Dia mengeluhkan, bagaimana bisa menemukan jodoh jika tiap hari ia berangkat kerja jam 6 pagi dan sampai di rumah jam 9 malam. Sehari-seharinya dia hanya berhadapan dengan layar komputer dengan deretan angka-angka yang rumit. Karena jarang bergaul dengan orang lain, maka cinta lokasi di kantor adalah harapan satu-satunya bagi dia untuk memperoleh jodoh.

Harapan itu pun juga pupus karena BPJS menganut ajaran larangan menikah sesama pegawai. Bunga pernah beberapa kali jatuh cinta dengan orang satu kantor. Namun, cinta mereka dipisahkan jarak ketidakmungkinan yang bernama pekerjaan.

Pekerjaan yang membatasi cinta menjadi ikatan pernikahan. Menerabas itu artinya siap-siap untuk kehilangan pekerjaan dan Bunga mengaku tidak berani mengambil resiko itu karena masih ada cicilan rumah di perbatasan Jakarta Bekasi yang menguras isi dompet.

Yang ketiga, adalah Nana. Ia dan suaminya adalah teman karib saya. Nana Bekerja di BPJS di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Ia mengaku berangkat dari rumah yang jaraknya puluhan kilometer ke kantor sangat menyita energi.

Masalah yang dihadapi keduany kini kian rumit karena program kehamilan selama ini yang tidak kunjung sukses. Ini disebabkan karena kelelahan kronis yang dialaminya di kantor dan di perjalanan. Kata suaminya, jika pulang di rumah istrinya memiliki mood yang sulit dikompromikan.

Karena itu, suaminya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menemani menempuh puluhan kilometer ke kantor dan menemani istri saat pulang ke rumah. Walhasil, kami pun kehilangan teman karib.

Penyebab utama ketidakbahagiaan mereka adalah karena defisit BPJS Kesehatan. Ringkasnya, defisit BPJS ini bisa diartikan bahwa BPJS kesehatan melakukan aktivitas belanja “lebih besar pasak daripada tiang”.

Sejak tahun 2014 angka defisit terus meningkat seiring bertambahnya kepesertaan BPJS Kesehatan. Perbandingannya, 2014 angka defisit sekitar 3,3 Triliun, tahun 2015 meningkat menjadi 5,7 Triliun, dan tahun 2016 angka defisit menjadi sekitar 9,7 Triliun. Untuk tahun 2017, defisit BPJS Kesehatan diprediksi sekitar 9 Triliun bahkan bisa lebih.

Tentang defisit ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Semua pakar menyatakan dengan postur pembiayaan seperti sekarang ini BPJS Kesehatan akan tetap defisit. Mulai dari subsidi pemerintah untuk penerima bantuan iuran (PBI) yang tidak cukup hingga tunggakan peserta mandiri.

Penyebab defisit lainnya adalah meningkatnya pengeluaran untuk penyakit tidak menular yang sangat besar. Pada tahun 2016, tiga besar, penyakit jantung menghabiskan 7,4 Triliun, Gagal Ginjal menghabiskan 2,6 T, dan kanker menghabiskan 2,3 T. angka yang fantastik.

Keadaan ini diperparah dengan meningkatnya angka kunjungan ke fasilitas kesehatan setiap tahunnya. Tahun 2014 angka pemanfaatan fasilitas kesehatan sekitar 92,3 juta jiwa, tahun 2015 meningkat sekitar 146,7 juta jiwa, dan pada tahun 2016 meningkat menjadi 192,9 juta jiwa.

Peningkatan ini bukanlah prestasi karena itu tidak perlu tepuk tangan. Jika dicermati secara seksama, justru ini kegagalan utamanya Kementerian Kesehatan dalam mencegah orang menjadi sakit.

Apa yang mesti dilakukan oleh pemerintah? Dalam jangka panjang pemerintah secara pasti menggunakan rumus baku investasi besar-besaran dalam sektor promotif preventif. Ini sekaligus untuk mengurangi angka kunjungan ke fasilitas kesehatan. Cara yang lain untuk mengurangi angka kunjungan ini adalah dengan menerapkan self care.

Dari semua yang datang ke fasilitas kesehatan, sebenarnya banyak diantaranya yang belum waktunya untuk ke Fasilitas Kesehatan atau sudah dalam keadaan butuh pertolongan cepat (emergensi) tapi masih dibawa ke poliklinik sehingga terlambat menerima pertolongan.

Di sinilah perlu ada Self Care, setiap orang memiliki kemampuan menyadari kapan dia harus ke fasilitas kesehatan. Setiap orang bisa memilah mana yang perlu untuk dibawa ke UGD, mana yang bisa diobati ke poliklinik rawat jalan, dan mana yang tidak perlu ke fasilitas kesehatan. Juga memiliki kemampuan pada titik tertentu untuk mengobati dirinya sendiri.

Misalnya, secara mandiri mampu melakukan perawatan luka ringan atau jika hanya sakit kepala biasa cukup dengan paracetamol.

Iswanto Uncisferov

Iswanto Uncisferov

Koordinator divisi isu dan analisis kebijakan Lembaga Kajian dan Konsultasi Pembangunan Kesehatan (LK2PK).

Previous post

Menyimak Kisah di Balik Ukiran

Next post

Pabrik Kembang Api