Locita

Deddy Mizwar di Atas Rata-Rata

JAWA Barat tidak hanya dikenal karena gadisnya yang cantik dan memikat. Jabar merupakan jalur yang “keramat” bagi peta politik Tanah Air. Jika Jawa adalah kunci, maka Jabar adalah tuas untuk membuka pintu yang tertutup itu. Dengan jumlah daftar pemilih tetap sebanyak 32,8 juta pada 2018. Provinsi ini menduduki posisi teratas pemilih nasional, dengan jumlah pemilih pemudanya 30%.

Provinsi ini tentu sangat menentukan pada Pilpres 2019 mendatang. Sangat rugi, kalau orang politik melewatkan pilkada ini. Sejatinya ada empat kandidat yang akan berebut menjadi Kahiji Jabar. Tapi, saya mengerucutkannya pada dua orang saja, Deddy Mizwar yang menggandeng Dedi Mulyadi dengan dukungan partai Demokrat serta Golkar atau Ridwan Kamil yang menggaet Uu Ruzhanul Ulum yang didukung PPP, PKB, Hanura dan Nasdem.
Kendati menjadi rebutan, tanah Pasundan juga menyimpan cukup banyak masalah dan kejutan. Siapakah yang akan memenangi tanah keramat ini?
Saya pikir, pasangan yang saya sebut pertama tadi memiliki peluang paling besar.
***
EPISODE Mata Najwa yang bertajuk “Perebutan Tahta Jawa” beberapa hari lalu setidaknya menggambarkan sesuatu hal di Pilkada Jabar. Kontestasi politik di tanah Pasundan ini hanya akan diikuti oleh dua pasang calon saja. Yakni Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi berhadapan dengan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum.

Adapun pasangan Sudrajat – Ahmad Syaikhu tidak akan terlalu signifikan untuk memperoleh suara di Jabar. Sama halnya dengan TB Hasanuddin – Anton Charliyan yang hanya akan pemanis Pilgub saja.

Kedua pasangan yang terakhir dari berbagai survei yang ada, memang ditempatkan di urutan terendah. Bahkan pasangan TB Hasanuddin – Anton sedang menghadapi sorotan tajam karena Hasanuddin diduga terlibat pada proyek korupsi satelit di Badan Keamanan Laut (Bakamla).

Pada episode Mata Najwa kali itu, mengulas Pilkada Jawa dan Jabar salah satunya. Palagan Jabar menyajikan pertarungan dua pasangan yang sama-sama berpengalaman di pemerintahan. Berbagai pertanyaan Najwa seputar politik dan dunia pemerintahan Jabar,  tempat dimana kedua pasangan Deddy Mizwar dan lawannya Ridwan Kamil menjalani satu periode kepemimpinan.

Pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi yang menggunakan akronim D2 serta Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum alias Rindu ini memang masing-masing punya kelebihan dan kesamaan.

Deddy Mizwar alias Demiz sangat populer, karena telah melakoni berbagai film, pun dengan Ridwan Kamil di media sosial baik Instagram maupun Facebook. Bahkan Walikota Bandung yang akrab disapa Kang Emil ini bermain film pula dengan turut berperan di film “Dilan” yang sudah ditonton 2,5 juta orang.

Sementara masing-masing wakil mereka berpengalaman di tingkat kabupaten. Wakil Kang Emil, Uu Ruzhanul Ulum merupakan Bupati dua periode Tasikmalaya, sama seperti Dedi Mulyadi di Purwakarta.

Calon pemimpin Jabar yang mengerucut pada dua pasang ini,  juga menjalar ke lembaga survei. Hasil survei dari Cyrus Network Indonesia yang diumumkan Senin 5 Januari 2018,  menghasilkan temuan yang sangat menarik.

Hasil survei dengan margin error 3,1% ini menyimpulkan elektabilitas Rindu di posisi pertama dengan persentase 45,9% sementara D2, di posisi kedua sebesar 40,9%. Survei ini mereka lakukan pada tanggal 16-22 Januari di hampir seluruh kabupaten/kota Jabar.

Hasilnya menurut saya cukup wajar, tingkat kepopuleran mereka menyebabkan elektabilitas kedua pasangan tinggi. Meski mengesampingkan fakta bahwa pasangan Sudrajat-Syaikhu yang hanya meraih 5% didukung oleh PKS yang punya basis massa kuat di Jabar. Melihat kondisi sekarang masyarakat tidak lagi loyal pada partai, figur masih menjadi pertimbangan utama mereka. Survei tersebut masih layak diterima.

Kembali kepada dua pasangan tadi, dari survei ini juga terlihat kalau UU Ruzhanul Ulum belum memberikan tambahan signifikan bagi pasangannya. Seingat saya,  survei yang dilakukan beberapa lembaga sebelum Ridwan Kamil mengumumkan calon wakilnya,  posisi keterpilihan dia sudah di atas 40%. Artinya masyarakat tidak mengenal Uu dan tidak “menghitungnya”. Setelah pengumuman calon, keterpilihan Ridwan Kamil ternyata tidak menanjak, cenderung flat alias datar-datar saja. Ini tentu berbahaya bagi pasangan yang meyakini menang satu putaran ini.

Pada survei Indobarometer November 2017 lalu, Ridwan kamil memiliki elektabilitas sebesar 46%, sementara Demiz di angka 16% sementara Dedi Mulyadi yang juga berniat jadi Cagub sebesar 19%. Ini berarti terjadi kenaikan tajam pada D2.

Kesimpulannya ialah masyarakat lebih menerima pasangan D2 ketimbang Rindu. Disokong Golkar dan Demokrat saya rasa bukan hal sulit bisa menaklukkan Rindu, mesin kedua partai terbukti selama ini efektif. Demokrat adalah partai yang berpengalaman baik saat SBY Presiden maupun tidak. Pilkada DKI Jakarta yang menjadikan Agus Harimurti populer di seantero Indonesia adalah salah satu kelihaian mantan presiden ini. Sementara Golkar, masih memiliki basis massa yang kuat di pedesaan, termasuk di Jabar dimana hampir 50% masyarakat Jabar hidup di desa.

Demiz – Dedi Berpeluang Besar  

Jelang beberapa bulan pemilihan mereka bisa menyalip Rindu, kendati saat ini selang lima bulan pemilihan mereka terpaut 5%.  Saya sih memang sejak awal memperkirakan D2 akan memenangkan Pilkada ini bahkan satu putaran. Mengapa demikian? Ini beberapa alasan saya :

Pertama, pasangan ini telah terbukti berhasil memimpin sebuah daerah. Demiz misalnya selama menjabat Wagub sangat kompak bersama Gubernur Ahmad Heryawan, sehingga visi pemerintahan berjalan efektif, buktinya Demiz sebagai Wagub pun memperoleh berbagai penghargaan, seperti mendapatkan Tanda Kehormatan dan Tanda Penghargaan Manggala Karya Kencana Bidang Kependudukan Keluarga Berenca dan Pemberdayaan Keluarga (KKBPK) Tahun 2016. Penghargaan tersebut diberikan karena dinilai telah berperan besar dalam mendukung program kependudukan di Jawa Barat.

Kedua, selama ini Demiz dianggap pemimpin yang sangat concern pada isu lingkungan. Itu dibuktikan pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2016 di Riau. Ia menerima penghargaan sebagai Kepala Daerah yang memiliki kepemimpinan cakap merumuskan serta menerapkan kebijakan berbasis pembangunan berkelanjutan bidang lingkungan. Ini salah satu poin yang disukai masyarakat Jabar.

Ketiga, di dunia kebudayaan, Demiz juga “dihormati”. Selain pernah dinobatkan sebagai bapak komunitas seni dan budaya di Jawa Barat dia juga mendapat penghargaan Anugerah Budayawan Religius dari seniman tradisional Sunda di Kota Cimahi. Jenderal Naga Bonar ini dinilai berdedikasi mendukung berbagai kegiatan komunitas seni dan budaya di wilayah kerjanya selama menjabat.

Keempat, saya kutip dari Humas Jabar, penghargaan yang diraih Aher selama sembilan tahun memimpin Jabar sebanyak 255 penghargaan, hampir separuhnya diraih bersama Demiz. Jadi tidak meragukan lagi Demiz mampu melanjutkan capaian-capaian serta program dari pendahulunya.

Paling fenomenal tentunya serapan atau realisasi anggaran Jabar yang tahun lalu tertinggi di nasional. Sesuatu yang diakui Aher sebagai prestasi terbaiknya menjabat.

Sementara itu calon wakil Demiz, Dedi Mulyadi adalah sosok bupati yang fenomenal. Ia the rising star Pasundan, muda, berkarakter dan penuh inovasi. Dengan APBD paling kecil di Jawa Barat saja, ia bisa membangun wilayah yang sebelumnya dianggap tertinggal itu menjadi kabupaten yang menjadi rujukan untuk belajar pemerintahan oleh kabupaten lain. Sebelum ramai full day school, di Purwakarta sejak 2015 sudah menerapkan sistem belajar delapan jam yang fokus pada penanaman karakter budi luhur bangsa.

Dedi Mulyadi memang dikenal sebagai seorang yang lekat dengan kultur Sunda, terlihat dari penampilan serta kebijakannya di Pemkab Purwakarta. Sosok yang dekat dengan masyarakat dan sangat sederhana.

Kekuatan inilah yang membuat pasangan D2 menurut saya beda daripada yang lain. Sosok Demiz dan Dedi akan menjadi pililhan tepat bagi pemilih Jawa Barat yang 55% merupakan desa  dan memiliki keterikatan kuat dengan budayanya. Jika Demiz dikenal sosok yang religius dan populer, serta keberpihakannya pada masyarakat kecil maka Dedi dikenal sebagai sosok yang konsen pada kultur dan pembentukan karakter anak di daerahnya, isu yang kini jadi perhatian nasional.

Namun, siapapun yang terpilih tentunya memiliki pekerjaan rumah di Jawa Barat seperti kemiskinan, minimnya lapangan kerja hingga eksploitasi sumber daya alam.  Demikian juga izin – izin pembangunan yang sampai saat ini gigih diperjuangkan. Termasuk penolakan Demiz terhadap pembangunan Meikarta.

Berbekal pengalaman menjadi Wagub, rasanya Demiz tinggal meningkatkan kinerjanya saja. Namun tergantung masyarakat, apakah masih mempercayainya atau menyerahkan pada pemimpin lain. Saya berharap, dengan Demiz, Jabar bisa berlari cepat. Jika berpindah, alih-alih bergerak kencang malah akan mundur ke belakang.

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Add comment

Tentang Penulis

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.