Locita

Darurat Pelecehan Seksual, Dari Jakarta, Hollywood Hingga Angelina Jolie

KASUS pelecehan seksual seolah tak pernah beranjak dari negeri ini. Belakangan kasus pelecehan terhadap  perempuan statistiknya meningkat tajam. Di awal tahun ini saja, kita sudah dikejutkan dengan beredarnya video seorang wanita yang diraba ketika tengah berjalan. Pelecehan atau kekerasan seksual bisa dibilang seperti fenomena gunung es, yang terungkap hanya bagian kecilnya saja.

Korban pelecehan seksual umumnya tidak mau melaporkan kejadian yang menimpanya, terutama ketika pelakunya orang dekat, anggota keluarga atau atasan di tempat kerja. Keengganan atau ketakutan melapor biasanya karena budaya yang berkembang di keluarga dan masyarakat. Beberapa ada yang malu, takut hingga enggan untuk disalahkan.

“Korban pelecehan seksual umumnya tidak mau melaporkan kejadian yang menimpanya,terutama ketika pelakunya orang dekat, anggota keluarga atau atasan di tempat kerja. Keengganan atau ketakutan melapor biasanya karena budaya yang berkembang.”

Di Depok, wanita bernama Amanda (22) sedang berjalan kaki menuju rumahnya, ketika tiba-tiba seorang laki-laki mengendarai motor meremas payudaranya. Aksi pelaku tertangkap kamera, ia melarikan diri ke arah Jalan Raya Margonda.

Kejadian ini sontak membuat Amanda gemetar dan ketakutan, dengan setengah teriak ia menunjuk pelaku. Menurut laporan, kasus pelecehan seksual atau street harassment di tempat umum seperti ini di Depok adalah yang kelima kalinya.

Amanda tidak sendiri

Kasus yang dialami Amanda adalah contoh kecil peristiwa pelecehan yang menimpa perempuan Indonesia. Komnas Perempuan mencatat, pada tahun 2014, terjadi 4.475 kasus kekerasan seksual, di tahun 2015 tercatat 6.499 kasus dan tahun 2016 telah terjadi 5.785 kasus.

Tejadi peningkatan pelecehan maupun kekerasan seksual dari tahun ke tahun. Harus diingat bahwa jumlah tersebut hanya yang dilaporkan ke berbagai instansi seperti kepolisian dan lembaga hukum. Tapi bagaimana dengan mereka yang enggan melapor? Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data yang mencengangkan, sebanyak 28 juta perempuan sepanjang 2016 telah mengalami pelecehan seksual di Indonesia.

Artinya, sebanyak 27 juta lebih perempuan yang mengalami kekerasan seksual tidak melapor karena berbagai alasan. Dari data tersebut terungkap bahwa 1 dari 3 perempuan rentang usia 15-64 tahun mengalaminya. Perempuan yang tinggal di daerah perkotaan paling sering mengalami yakni sebesar 36,3 persen, sementara di pedesaan hanya sebanyak 29,8 persen.

Selanjutnya, kejadian kekerasan seksual terjadi paling banyak di lingkungan rumah sebesar 37 persen. 11 persen terjadi di sekolah, 10 persen terjadi di hotel dan sisanya di tempat lain.

Jika ditinjau lebih jauh, kekerasan seksual di Indonesia memang lebih banyak menimpa perempuan. Tetapi, ada pula kaum pria yang mengalami nasib serupa. Dimana hampir 100 persennya adalah anak-anak.

Laporkan di Hollaback! Jakarta.

Aksi kekerasan seksual terhadap perempuan di kota-kota besar dibandingkan daerah jauh lebih sadis. Di perkotaan tindak kekerasan seksual ini bisa terjadi di tempat yang ramai. Beberapa bulan lalu seorang di medsos menceritakan pengalamannya melihat aksi pelecehan di KRL Jakarta.

Chrisna nama wanita itu. Ia berkisah Seorang pria menggesekkan kemaluannya ke badan perempuan di gerbong kereta yang padat penumpang. Namun sang korban tidak bereaksi, ia hanya menunggu hingga kereta berhenti di stasiun terdekat. Begitupun wanita kedua.

“Saya melihat dia mulai mendekati wanita dan mulai menggesekan penisnya ke arah tersebut […] korban hanya diam dan hanya bisa mengganti posisi, kemudian turun begitupun korban kedua,” tulisnya.

Apa yang dialami Chrisna rupanya dialami oleh banyak perempuan lain. Sejumlah orang yang membaca unggahan tersebut pun bercerita tentang pengalaman mereka, baik yang melihat atau bahkan mengalami sendiri pelecehan itu. Tapi, banyak di antara mereka yang enggan mengambil sikap, karena takut oleh pelaku atau menganggap itu bukan urusan dia.

Berbicara tentang keberanian dalam menentang perilaku pelecehan seksual di tempat umum. Saat ini sudah ada website yang bisa menampung curhatan dari korban dan mendorong mereka untuk melawan. Website ini bisa memberi solusi street harassment tersebut. Seperti membantu mengumpulkan orang yang mengalami hal serupa untuk bersama melaporkan kejadian pada pihak berwajib. Seperti dalam slogan mereka:

“Jika Anda dilecehkan secara seksual di jalan, Hollaback menginginkan agar Anda ingat bahwa: Pelecehan itu bukan kesalahan Anda, justru Anda adalah korban mereka.

Utamakan keselamatan diri. Kalau mau memprotes kepada pelakunya, sebaiknya secara jelas, singkat, dan tegas.

Berbagi cerita bisa membantu mengurangi trauma Anda.”

***

Saya berlanjut dengan mengecek pilihan tombol pada website ini, beberapa pilihan perlawanan kepada  street harassment ternyata cukup banyak. Selain memuat artikel tentang pelecehan dan kesetaraan gender, perempuan yang mengalami pelecehan juga bisa berbagi kisahnya di forum ini. Pengunjung dapat memberi komentar semacam motivasi untuk menghindari trauma atau bahkan memompa semangatnya untuk melawan jika hal tersebut kemudian terulang.

Seperti Anda dapat melaporkan kejadian yang dialami dengan memilih lokasinya terlebih dahulu. Jika di lokasi tersebut pernah terjadi hal serupa dalam bentuk apapun baik kekerasan verbal ataupun catcall (siulan, teriakan, atau komentar yang bersifat seksual).  Pihak Hollaback akan mengidentifikasi tempat tersebut sebagai wilayah yang rawan bagi perempuan.

Tujuan website ini sendiri nampaknya untuk menyadarkan publik tentang bentuk-bentuk pelecehan. Selain strategi di atas untuk memastikan bahwa siapapun memiliki hak yang sama atas ruang publik.

Dari profil website yang saya baca tersebut. Hollaback adalah sebuah gerakan global melawan berbagai bentuk kekerasan pada perempuan. Gerakan ini sudah ada di 70 kota dan 25 negara di dunia. Gerakan hollaback pertama kali hadir di New York, AS. Di negara asalnya sana, Hollaback menjadi wadah bagi perempuan menceritakan pengalamannya kemudian berkembang hingga dijadikan bahan untuk membuat kebijakan melindungi perempuan dari pelecehan.

Di belahan dunia lain, isu ini ternyata juga menjadi sesuatu yang sedang menggejala. Di Amerika Serikat ada gerakan #MeToo. Gerakan yang mendorong para perempuan korban kekerasan seksual untuk berani menyuarakan haknya seperti melapor pada kepolisian serta perlawanan terhadap segala bentuk pelecehan. Gerakan ini bermula dari kasus pelecehan yang terjadi kepada para aktris Hollywood oleh sang produser. Jennifer Lawrence, Angelina Jolie, Gwyneth Paltrow, Cara Delevigne adalah sebaris aktris yang baru-baru ini turut mengaku pernah pula dilecehkan.

“Gerakan ini bermula dari kasus pelecehan yang terjadi kepada para aktris Hollywood oleh sang produser. Jennifer Lawrence, Angelina Jolie, Gwyneth Paltrow, Cara Delevigne adalah sebaris aktris yang baru-baru ini turut mengaku pernah pula dilecehkan.”

Baru-baru ini Angelina Jolie mengaku pernah dilecehkan secara seksual oleh produsernya beberapa tahun lalu. Hal itu membuat dia tak pernah mau bekerjsama lagi dengan produser tersebut. (sumber foto: Gettyimages)

PBB sendiri menyatakan pada 2016 sebanyak 35 persen perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan secara fisik dan seksual. Dimana 120 juta perempuan tersebut pernah dipaksa untuk melakukan hubungan seksual dan tindakan seksual lainnya. Sementara itu terdapat 750 juta perempuan, menikah sebelum usianya 18 tahun dengan berbagai macam alasan.

Negara-negara yang masyarakatnya paling sering dilecehkan ialah Denmark dengan presentase 52 presen wanita yang telah menderita kekerasan seksual, kemudian zimbabwe dengan pemerkosaan satu wanita setiap 90 menit, selanjutnya Australia sekitar 51.200 warga Australia telah menjadi korban pemerkosaan.

Dilansir news.com  1 dari 6 wanita Australia harus menghadapi penyiksaan pemerkosaan oleh pasangan atau bukan pasangannya. Selanjutnya ada Kanada dilansir huffingtonpost, ada 460.000 kekerasan seksual setiap tahun. Berikutnya Selandia Baru, setiap dua jam sekali terjadi serangan seksual. Di India, seorang wanita diperkosa setiap 20 menit dan di Inggris terdapat kasus pemerkosaan sekitar 85.000 tiap tahunnya.

Secara berurutan peringkat tiga teratas diduduki oleh Amerika Serikat, Swedia dan Afrika Selatan dimana 1 dari 3 wanita Amerika akan dilecehkan secara seksual selama masa hidup mereka. Swedia menjadi negara Eropa yang paling sering mengalami pelecehan seksual, tiap 1 dari 3 wanita dilecehkan setelah berusia 18 tahun.

Juara kekerasan seksual ini di dunia, disandang oleh Afrika Selatan dimana diperkiraan 500.000 pemerkosaan terjadi setiap tahunnya. Menurut laporan kepolisian nasional negara kaya berlian ini, pelecehan hingga pemerkosaan tak hanya menimpa perempuan. Sebanyak 4 persen pria dipaksa untuk berhubungan seks dengan pria lain.  Sekitar 15% korban adalah anak-anak di bawah usia 11 tahun.

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Add comment

Tentang Penulis

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.