Locita

Cukupkah Gaji Guru 20 juta ?

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo

Saya menyimpan pesan dari salah seorang guru yang baru-baru ini saya temui. Seorang guru yang tak pernah berhenti mengajari saya untuk tetap belajar. Kami bertemu di sebuah hotel dalam satu kegiatan. Sebelum pamit pulang dari pertemuan itu, dia melangkah dengan pincang dan berjalan menuju kamarnya dengan menahan rasa sakit dalam tubuhnya. Terakhir kali saya bertemu dengan beliau saat dirinya harus menjalani sebuah operasi di Makassar tahun 2010. Di tahun itu juga, beliau sebenarnya masih menempuh studi S3 di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Diceritakanlah usahanya untuk tetap berjuang dan melewati berbagai proses yang harus ditempuh di negeri tetangga. Akhirnya, beliau tetap kuat dan berhasil menyelesaikan studinya.

Malam itu, beliau baru saja membawakan sebuah pelatihan. Sejak beberapa tahun lalu, beliau tak lagi bertugas menjadi seorang guru, tapi kini ditugaskan bekerja di tingkat provinsi. Setelah pindah di tingkat provinsi, tugasnya untuk memberi pelatihan pada guru-guru pun semakin padat. Saat itu juga, setelah menaiki anak tangga hingga lantai tiga, saya langsung berada di tengah para peserta pelatihan yang tengah berisitrahat. Beberapa peserta mulai kembali ke kamar masing-masing, beberapa lagi menikmati the atau kopi di meja lingkaran sambil berbincang dan bermain handphone.

Di tengah kerumunan itu juga, saya mulai mencari guru saya. Saya tak melihatnya sama sekali di tengah keurmumanan peserta, mungkin beliau masih di dalam ruangan, batinku. Hingga saya mendengar seseorang memanggil nama saya. Saat itulah saya sadar ternyata guru saya ada di tengah kerumunan para peserta. Tampak ada yang berbeda dari beliau. Setelah berbincang bersama beliau, saya pun mendengar cerita jikalau sakit yang menyerangnya membuat berat badannya yang dulu sekitar 80-an kg kini menjadi 50-an kg. Pergelangan tangannya jelas tak lagi seperti dulu. Wajahnya agak berbeda dengan berat badan yang turun drastis.

Setelah itu kami berbincang tentang kegiatan serta usaha penyembuhan yang dilakukan beliau. Beliau bercerita panjang tentang guru, buku dan usahanya untuk kembali menulis. Dari ceritanya, saya pun mendengar betapa sulitnya dia mengajak guru-guru untuk mencintai buku dan membaca. Meskipun harus mengikuti pelatihan demi pelatihan, para guru seringkali tak bisa menulis dengan baik lantaran kegemaran membaca tak ada sama sekali. Kami sepakat bahwa menjadi pengajar atau guru adalah ruang untuk tetap belajar tanpa henti. Masalahnya, tidak semua guru merasakan hal serupa. Kegemaran membaca menjadi sesuatu yang mencemaskan. Para guru cenderung tak mengembangkan diri dengan baik.

Mendengar cerita sekaligus pandangan dari guru saya itu, bukan hal yang mencengangkan bila hasil uji kompetensi guru di Indonesia tergolong rendah. Hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2015, rata-rata nasional hanya 44,5, jauh di bawah nilai standar 75. Tentu saja ini menjadi cermin bagaimana dunia pendidikan kita masih perlu berbenah dan bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan ini. UNESCO bahkan merilis temuan dalam Global Education Monitoring (GEM) Report 2016 yang menggambarkan bahwa, pendidikan Indonesia menempati peringkat ke-10 dari 14 negara berkembang. Sedangkan guru, sebagain inti dari pendidikan menempati urutan ke-14 dari 14 negara berkembang di dunia. Jumlah guru saat ini pun mengalami peningkatan sebanyak 382% dari tahun 1999/2000 menjadi sebanyak 3 juta orang lebih. Dari 3.9 juta guru yang ada, masih terdapat 25% guru yang belum memenuhi syarat kualifikasi akademik dan 52% di antaranya belum memiliki sertifikat profesi. Apakah guru belum menjadi perhatian utama pemerintah?

Selama ini ada beberapa kebijakan seperti sertifikasi guru atau TPP (Tambahan Penghasilan Pegawai) yang diterima oleh beberapa guru. Namun, semua itu tak cukup untuk membawa kualitas pendidikan menjadi lebih baik. “Banyak yang dapat uang sertifikasi Wan, tapi cuma beli mobil, pakaian, perhiasan, tapi sedikit – mungkin tidak ada yang beli buku” seperti itulah yang diungkapkan beliau kepada saya.

Sayang rasanya bila dana yang mestinya digunakan untuk peningkatan keterampilan hanya jadi dana mempercantik penampilan semata. Kapan para pengajar mulai menjadikan membeli buku sebagai prioritas? Beberapa waktu lalu, salah satu pasangan capres dan cawapres memunculkan isu gaji 20 juta untuk guru. Dari bentuk apresiasi, itu menjadi hal yang penting. Hanya saja, patut diperhitungkan pula terkait peningkatan kualitas guru yang tidak semata dinilai dari kenaikan gaji.

Selain gaji, peningkatan kapasitas guru serta perannya dalam mengembangkan siswa penting untuk diperhatikan. Beberapa negara yang terhitung dengan gaji guru besar seperti Singapura dengan kisaran gaji $ 45.755. Korea Selatan, AS, Jerman, dan Jepang semuanya di atas $ 40.000. UK berada pada kisaran $ 33.377. Lalu, apakah mungkin gaji guru bisa 20 Juta?

Beliau sempat bercerita tentang pengalamannya sewaktu kuliah di Malaysia. Saat beliau datang untuk membeli buku di sebuah pameran buku. Beberapa orang yang dia temui tampak membawa keranjang dan memborong banyak buku, sedangkan dirinya hanya membeli tiga buah. Beliau merasa malu dan kembalilah beliau menceritakan keresahannya akan kondisi guru di Indonesia. Berangkat dari sana, beliau merasa pesimis dengan kemampuan guru untuk menulis dengan baik.

Dulu, sebelum pergi ke Malaysia, beliau rutin menulis cerpen dan puisi. Karena cerita-cerita beliau pulalah saya mencoba untuk belajar menulis dan giat membaca. Saya membayangkan jika saja ada lebih banyak guru yang sadar dan paham akan pentingnya membaca seperti beliau, pendidikan di Indonesia mungkin lebih baik. Dengan menulis pula, beliau pernah meraih penghargaan guru terbaik hingga tingkat nasional. Sekarang, beliau rutin menulis jurnal dan diundang menjadi pembicara untuk para guru.

Hanya saja, negara tersebut tidak sekadar berfokus pada gaji, melainkan pengembangan khusus untuk kapasitas guru dan evaluasi kinerja yang terlihat dari siswa atau peserta didik.

Di dalam buku Teach Like Finland karya Timothy D.Walker. Timothy, saya belajar bahwa guru semestinya dapat lebih membuka ruang untuk mendukung siswanya membentuk pola pikir dan menghidupkan semangat berkarya seorang siswa dengan lebih baik. Atau seperti yang disampaikan C. S. Lewis, bahwa “tugas pendidik modern bukanlah untuk menebang hutan, tapi untuk mengairi sebuah gurun pasir”.

Wawan Kurniawan

Alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wkhatulistiwa

Add comment

Tentang Penulis

Wawan Kurniawan

Alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wkhatulistiwa

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.