Locita

Corona dan Keberanian yang Tolol Tidak cukup hanya beragama tetapi juga harus berilmu

Di Bandara Pattimura Ambon per hari Rabu lalu, mungkin ada 10 orang –saya tidak menghitungnya—yang dari penampilannya saya meyakini mereka adalah jamaah tabligh. Dari wajah mereka, tidak ada tampak kekhawatiran atau ketakukan sedikit pun.

Mereka seperti tampak menyongsong hari cerah yang penuh dengan kemenangan.

Dalam hati saya, saya mengagumi keteguhan mereka di jalan yang saya yakini tidak mudah itu. Tidak mudah menjadi berbeda di negeri ini. Apalagi mereka dengan gagah berani melakukannya di Ambon, yang sepanjang jalan menuju bandara berdiri tanda salib di pinggir jalan.

Saya menaruh hormat kepada mereka yang rela meninggalkan keluarga, mengorbankan waktu dan materi untuk perjuangan yang tentu mereka yakini sebagai jalan memperjuangkan Islam. Anda tidak harus setuju dengan ini. Tetapi mereka tentu berhak meyakini apa yang mereka yakini. Sebagaimana kita.

Dalam pikiran dan perasaan saya yang lunglai karena sedang berduka –kakak saya baru saja meninggal dan sedang membawa jenazahnya menuju Makassar—saya sempat berpikir tentang jemaah tabligh ini. Saya sering berpikir kekuatan macam apa yang menguatkan dan meneguhkan hati mereka.

Di pesawat, mereka tepat berada di belakang saya, saya menyaksikannya membuka Al-Quran kecil dan membacanya. Ia seperti tidak terusik dengan segala jenis suara di sekitarnya. Suara pramugari yang sedang menjelaskan SOP atau prosedur selama penerbangan tidak mengganggunya sama sekali. Mungkin mereka sudah terbiasa dengan pengumuman seperti ini dan tidak perlu lagi mendengarnya.

Hari memagi dan kami tiba di Makassar. Kami turun bersama. Menaiki bus ke pintu kedatangan lalu masuk. Dan ternyata mereka tidak hanya dari Ambon. Di bandara sudah ada beberapa dari mereka yang lebih dahulu sampai. Mereka bertukar sapa dengan ledakan semangat tertentu. Sungguh mereka bersiap menyambut sebuah kemenangan. Barangkali sebuah pertemuan penting antar mereka.

Dan benar saja, keesokan hari setelah jenazah kakak saya dikebumikan, saya membuka gawai dan sejenak berselancar di sosial media, melihat-lihat pesan-pesan duka cita dan dukungan. Tetapi bukan hanya itu yang saya temui, saya mendapati berita jika ada pertemuan jemaah tabligh zona Asia di Gowa. Sebuah hajatan besar karena dihadiri tak kurang dari 9000 peserta. Bukan hanya dari Indonesia tetapi juga dari beberapa negara lain seperti Malaysia dan Arab Saudi.

Hajatan ini terjadi ketika pemerintah dan dunia sedang menyerukan social distancing. Sebuah seruan untuk membatasi diri dari keramaian. Dan sudah tentu, menghindari apalagi mengadakan keramaian. Semua itu untuk membatasi dan upaya menanggulangi virus corona. Sebuah virus yang telah mengkhawatirkan seluruh dunia.

Acara-acara besar, bukan hanya skala lokal tetapi juga skala internasional ditunda atau bahkan dibatalkan. Konferensi saya pun yang merupakan sebuah acara besar di Amerika Serikat, sebuah acara tahunan dan telah dipersiapkan jauh sebelumnya juga tak urung dilaksanakan.

Padahal persiapan baik saya sebagai peserta yang telah menulis paper penelitian dan melalui proses seleksi ketat tentu membuat saya merasa sedikit menyayangkan. Namun, keselamatan bersama membuat saya memahami mengapa panitia membatalkan konferensi ini. Konferensi ini masih dapat dihelat kembali tahun depan. Sedangkan nyawa yang terlanjur tercabut tidak akan mungkin kembali.

Yang membuat saya merasa tambah geram adalah ucapan mereka ketika menyebut diri hanya takut kepada Allah. Mereka tidak takut Corona. Hanya karena mereka sedang melaksanakan ritualistik agama yang bersifat simbolis lantas mereka dengan pongah menepuk dada. Dan mereka mengucapkan dengan simbol-simbol yang seolah merepresentasikan agama. Sebuah bentuk pertunjukkan kebebalan akut.

Virus Corona memang bukan satu hal yang perlu ditakuti berlebihan tetapi menantang dan malah mendekati sumbernya adalah satu bentuk kebodohan. Sebuah keberanian yang tolol. Corona tidak akan melihat apa kegiatannya dan siapa orangnya. Ia kebal dari segala batasan-batasan itu.

Barangkali kejengkelan saya sama besarnya dengan beberapa saudara muslim yang menganggap bahwa imbauan untuk tidak salat di masjid sementara waktu adalah pengekangan. Mereka menganggap bahwa justru dengan datang berjamaah di masjid akan membuat virus Corona menjauh dan membuatnya takluk di tangan Allah.

Saya mengagumi kekukuhan hati mereka. Tetapi mereka yang meminggirkan pikiran dan nalarnya membuat saya jengkel. Andai kata jenis virus ini hanya membunuh mereka saja, saya tidak mempermasalahkan. Dunia ini memang sudah penuh dengan orang-orang yang tidak memakai otaknya dan semakin hari semakin bertambah saja.

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.