Locita

Corona Aktif Bukan Berarti Kita Tak Produktif

Iliustrasi (Foto: woop.id)

Hari ini memang bukan hari produktif sedunia, bukan pula hari karya sejagat. Tapi produktivitas tak harus menunggu perayaan-perayaan semacam itu. Apalagi sekarang Corona masih aktif menghantui. Di lain sisi, Corona tak menjadi alasan untuk menjadi tidak produktif. Justru dengan merebaknya Corona, kita bisa mencari alternatif, produktif dari rumah.

Sekarang banyak yang merasa bosan, pikiran beku, ide mandeg, tak bisa ngapa-ngapain dengan berdiam diri di rumah. Saya sendiri terkadang merasa iri jika terlalu nurut dengan aturan tetap di rumah. Sedang, orang lain di luar sana masih senang berkumpul dengan teman-temannya. Dasar jomblo suka iri pada keramaian.

Perasaan-perasaan seperti itu akan dialami jika hanya meratapi setiap kejadian tanpa melakukan apapun. Mengutip kata dari teman saya, “manusia adalah makhluk keren dalam hal beradaptasi.” Bukan tidak mungkin kita tidak bisa berada di situasi seperti ini. Akibat dari virus Corona, saat ini waktu kita paling banyak di rumah. Belajar dari rumah, bekerja dari rumah, serta menciptakan karya dari rumah.

Kemajuan Teknologi

Kemajuan teknologi cukup membantu semuanya. Banyak ruang meeting yang bisa mempertemukan manusia, baik pribadi maupun kelompok melalui media sosial. Semua serba online. Karya, ilmu, pengetahuan, semua bisa disalurkan melalui daring. Jika kita sadar melihat semua itu, tak ada ruang kosong bagi kita.

Dengan di rumah aja, sekarang banyak aktivitas-aktivitas yang bisa dilakukan meski tak kemana-mana, contohnya sharing dan discussion. Kenyamanan dan keamanan bisa dirasakan. Selama kuota dan jaringan internet memadai.

Nah, di sini kita jadi teringat lagi, apa harus membuat diri sendiri tak nyaman karena kesempitan ruang yang kita ciptakan sendiri? Seolah kita tak mampu melihat peluang yang ada. Mari kita melihat diri sendiri sebagai manusia produktif, kreatif dengan membuka kacamata peran manusia. Peran apa yang bisa manusia berikan kepada sesama manusia?

Ingat dengan pepatah ini Khairunnas Anfauhum Linnas? Salah satu yang menjadikan kita sebagai manusia yang bermanfaat adalah dengan berbagi pengetahuan. Ilmu atau pengetahuan akan terus bertambah jika kita membagikannya. Itulah kenapa sharing dan diskusi itu penting.

Membuka Diri

Demi mengerucutkan jumlah kebosanan-kebosanan. Mari kita membuka diri dengan peluang-peluang yang ada. Semakin banyak kita menunjukkan peran kita, semain kita perlihatkan bahwa kita berpotensi dan ada. Bukan sekadar menjadi pengeluh yang aktif dan menjadi pelaku pasif.

Mengeluh akan kebosanan wajar, hal itu manusiawi. Saya pun merasakannya. Tapi saya berpikir, sampai kapan kita dijajah rasa bosan? Sampai Corona pergi? Berapa bulan lagi? Berapa lama harus bertahan?

So remember! Kita tak boleh berdiam tanpa melakukan pergerakan, teruslah berkarya dan berkontribusi.

Menemukan Ruang Produktif

Tak sedikit di antara kita yang tidak produktif bukan karena tak memiliki karya. Namun, kita kurang pengetahuan bagaimana cara menyalurkan karya itu sendiri. Kak Yanuardi Syukur pernah bilang “publikasi adalah bagian penting untuk menjadi produktif”. Contohnya, desainer mempublikasikan hasil desainnya, dan penulis mencoba mengirim tulisannya untuk diterbitkan. Mungkin di antara kita punya beberapa karya tapi belum memiliki keberanian untuk memublikasikannya.

Keberanian itu redam saat takut menunjukkan kekurangan kita. Tapi yang perlu dipahami bahwa setiap kita pasti memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Tak ada yang sempurna di dunia ini. Saya termasuk orang yang tidak mengetahui subject masteri saya. Siapa saya dan apa kontribusi saya terhadap negeri ini. itulah kekurangan saya. Nah, orang seperti saya-lah yang harus disadarkan. Banyak tulisan saya yang menjadi milik pribadi, tapi rupanya itu tak menjadikan kita produktif melainkan akan terus minder terhadap diri sendiri. Sedang penulis itu harus berani.

Rumah produktif Indonesia (RPI) adalah salah satu tempat saya belajar dan mengasah kemampuan. Utamanya kemampuan untuk percaya pada diri sendiri. Saya bersyukur bisa bergabung di sana. Bertemu dengan orang-orang hebat yang siap berbagi ilmu dan pengalaman. Selalu ada isu yang dibahas untuk memancing nalar kita bekerja.

Kini, menulis tentang RPI bukan karena perintah dari presidennya, kak Yanuardi Syukur atau saran dari anggota. Melainkan, ini adalah sebagai upaya untuk memberi ingatan pada diri sendiri, bahwa ada hal yang patut saya syukuri sesederhana apapun itu.

Siti Maryam Mahmud

Siti Maryam Mahmud

Pegiat Literasi di Forum Lingkar Pena Makassar. Alumni Bahasa dan Sastra Inggris di UIN Alauddin Makassar.

Tentang Penulis

Siti Maryam Mahmud

Siti Maryam Mahmud

Pegiat Literasi di Forum Lingkar Pena Makassar. Alumni Bahasa dan Sastra Inggris di UIN Alauddin Makassar.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.