Locita

Contohlah Peran Ulama Nusantara

Ilustrasi (sumber foto: https://kelakarhuruhara.wordpress.com)
Ilustrasi (sumber foto: https://kelakarhuruhara.wordpress.com)

Al-‘ulama warasatul anbiya (ulama pewaris para nabi). Demikian nabi mendudukkan ulama sebagai penyambung “kenabian”.

Terlepas dari perbedaan muhaddis mengenai status sahih atau tidaknya. Hadis ini masyhur dan jadi salah satu dalil untuk berdiri di belakang beliau-beliau ini.

Mengawetkan ingatan tentang risalah kenabian yang sejuk dengan nilai-nilai spiritual tanpa harus mengabaikan humanisme, moralitas, dan kebudayaan manusia. Tentunya, dalam bentuk teladan dan penyampaian yang ramah, serta sedikit senyum simpul. Merekalah ulama.

Terus, bagaimana dengan ulama yang sering marah-marah, membid’ahkan, dan anti budaya?

Entahlah! Setiap orang punya pandangan sendiri tentang ulama, dan sepertinya penting untuk membatasi cakupan dari term “ulama”.

Mengingat fenomena penyandangan “ulama” dalam kacamata saya, terkadang kurang tepat dan tidak koheren dengan sifat individu tertentu.

Berkaca Kepada Ulama Nusantara

Indonesia sebagai basis Islam yang pro terhadap pluralitas etnis, budaya, dan agama (dalam arti menghargai, bukan membenarkan), dipercaya menciptakan berbagai macam karakter ulama yang dipertemukan dalam satu misi, mewujudkan islam rahmatan lil alamin.

Membuka kacamata hitam supaya tampak jelas, alhamdulillah,, media baru-baru ini memperlihatkan bagaimana ketua PBNU Said Aqil Siradj dan Ketua Umum PP Muhammadiyah bergandengan tangan mewujudkan Indonesia damai.

Apalagi di tahun politik yang kerap kali menjadi awal munculnya kegaduhan yang mengharubirukan stabilitas kerukunan masyarakat. Ujaran kebencian, hoax yang ditujukan kepada tokoh tertentu harus terus dipandang dengan sudut pandang yang objektif.

Kita berharap, lewat silaturahmi kedua ulama dan pembesar ormas Islam di Indonesia ini, setidaknya menihilkan dan mengurangi kesenjangan antara NU dan Muhammadiyah, khususnya di kalangan bawah.

Dan lewat pesan-pesan damai kedua ulama tersebut, sebagai masyarakat, wajib kiranya bagi kita untuk mengawal Ibu pertiwi tetap baik-baik saja, terutama lewat konflik atas nama agama.

Selain dua tokoh ulama di atas, mari sejenak melirik ke bagian timur Nusantara. Sekaligus berterima kasih untuk sifat feminim media dengan informasi yang menyejukkan hati.

Tuan Guru Bajang gubernur NTB bertandang ke Sulawesi Selatan, sekaligus bersilaturahmi dan menjenguk AG. Sanusi Baco yang tengah sakit.

Dalam satu kesempatan sebagaimana yang diposting oleh guru saya melalui akun Facebooknya, seorang tokoh Sul-Sel meminta Gurutta Sanusi Baco mendoakan TGB agar kiranya menjadi pemimpin nasional. Dengan terbata-bata Gurutta mengatakan “Kita mi dulu doakanka pak gubernur”

Serentak seisi kamar mendoakan beliau yang dipimpin oleh TGB. Gurutta kemudian bergantian mendoakan TGB, berbaring dan tetap mengangkat tangannya kendati dalam keadaan sakit sebagaimana yang terlihat dalam postingan tersebut.

Demikian akhlak dan bentuk penghormatan Gurutta’ terhadap seorang tokoh masyarakat, sekaligus ulama yang juga berasal dari sekolah yang sama.

Kendati belakangan kemudian ada komentar negatif, tetapi sepertinya akan lebih baik jika kita melihat dengan sudut pandang positif atau khusnuzhon.

Setidaknya, ulama kita sedang berusaha berdakwa bi al-fi’li, berdakwah dengan teladan untuk saling memuliakan, untuk saling merangkul, dan bekerja sama mewujudkan islam rahmatan lil alamin layaknya nabi bersama sahabatnya, mewujudkan islam cinta kasih dalam masyarakat yang heterogen di Madinah.

Ambil Hikmah dan Teladani

Tidak dengan omongan besar, akhlak lebih dari cukup merepresentasikan dakwah bi al-fi’li. Namun demikian Gurutta lebih dari itu, di banyak kesempatan ia menjadi pembicara sekaligus menampilkan keteladanan sebagai seorang ulama.

Masih hangat dalam ingatan saya, Gurutta terekam berceramah tentang perbedaan sosok pemimpin atau pejabat negara dengan ulama dalam konteks konten pembicaraan.

“Pejabat negara menyampaikan ilmu, dan ulama itu menyampaikan hikmah. Perbedaannya, ilmu singgah to’ di kepala, sedang hikmah lebih dan melampaui akal, ia menyentuh hati, sekaligus menjadi penggerak untuk mengaktualisasikan ilmu tersebut,” jelasnya suatu waktu.

Demikian lebih kurang potongan ceramah beliau, meskipun sebenarnya sudah mengalami sedikit improvisasi dari saya.

Dari sini, sesungguhnya Gurutta’ hendak berkata tentang pengembaraan intelektual yang tidak sekedar duduk dan belajar, lebih jauh dari itu, liriklah apa yang ada di balik ilmu itu. Bukan antara rasional atau tidak? Pandang bagaimana ia mampu membimbing menuju Tuhan yang Maha Damai dan meminjamkan sifat damaiNya kepada manusia.

Betapa Gurutta’ damai bersama ilmu, hikmah dan Tuhan.

Semestinya kita meneladani Gurutta’ dan ulama-ulama yang ramah santun dalam penyampaiannya, meskipun tidak secara keseluruhan.

Cukup sikap santunnya, sikap ramahnya, sifat nasionalisnya, penghormatannya, dan mengambil barakka’ (berkah) serta hikmah sebanyak-banyaknya.

Demikian akan terwujud cita-cita bangsa yang aman dari ketidakharmonisan dan pelecehan terhadap isu-isu SARA.

Sekali lagi, sebagai pewaris nabi, ulama patut untuk dijadikan kiblat akhlak dan pendapatnya selagi masih mempertimbangkan realitas dan kemaslahatan.

Itulah kenapa disebut pewaris, karena ia seakan menggantikan “posisi” nabi untuk diikuti dalam dakwahnya membumikan ayat-ayat cinta Tuhan.

Terakhir, menutup tulisan ini, saya mengutip pendapat seorang ulama bugis asal Sidrap. Kiranya bisa menjadi renungan, bagaimana pun kita menginterpretasikannya.

Accamali mali ko, naikiya aja mu mali, acciori leko’na saloe.”  yang artinya tentu boleh bagimu bermain bersama arus sungai, tapi ingat, jangan tenggelam! kata AG. KH. Abd Muin Yusuf.

Allahu a’lam.

Ahmad Tri Muslim HD

Alumni Tafsir Hadis Khusus UIN Alauddun Makassar dan PP Al Urwatul Wutsqaa, Benteng, SIDRAP

Add comment

Tentang Penulis

Ahmad Tri Muslim HD

Alumni Tafsir Hadis Khusus UIN Alauddun Makassar dan PP Al Urwatul Wutsqaa, Benteng, SIDRAP

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.