Locita

Cinta, Santet, dan Perempuan

MATAHARI menggelinding. Maghrib pun tiba. Sesosok bayangan hitam yang besar menyerupai raksasa kembali datang mengganggunya. Ia mengikuti Linda dari belakang ke manapun pergi. Lalu kepala Linda terasa memberat dan sakit seperti tertusuk-tusuk jarum. Tubuhnya terasa panas dingin.

Setidaknya itulah yang sempat dirasakan Linda selama hampir setahun. Hampir setiap hari. Berkali-kali ia ke dokter namun semua dokter mengatakan tak ada apa-apa. Hanya sakit kepala biasa. Ibunya kemudian membawanya ke ustadz. Konon ia mampu mengobati penyakit-penyakit yang tak dapat disembuhkan medis. Bukan cuma mampu, ia juga tahu siapa yang melakukannya.

Diambilnya sebotol besar air yang telah disediakan. Mulutnya berkomat-kamit. Terdengar ayat-ayat Al-Quran diucapkan pelan. Sesekali cepat tak bersuara. Sebotol air lalu diberikan kepada Linda untuk diminum setiap hari.

“Bukan orang jauh. Temannya sendiri. Ada pernah yang mau sama kita’ dan kita’ tolak toh?” tanya Ustad itu dengan jawaban yang sudah ia tahu sendiri.

Dan benar saja. Setidaknya ada dua lelaki yang pernah menyatakan perasaan padanya. Tetapi Linda tidak suka perangainya sehingga ia menolak. Sayang sebab keduanya, seorang mantan teman SMA-nya dan seorang lagi dosennya sendiri, tidak terima dan hendak menuntut balas atas sakit hatinya. Maka dukun bertindak. Santet jadi jalan pembalasan.

Linda bukan satu-satunya perempuan yang pernah mengalaminya dan pernah bercerita kepada saya. Erni misalnya, ia pernah menolak cinta teman sesama mahasiswa saat Kuliah Kerja Nyata atau KKN. Lelaki itu juga tidak terima. Selama tiga tahun lamanya, Erni tak dapat menyelesaikan skripsinya. Ia tak ada kekuatan ke kampusnya. Tak ada nafsu makan dan tubuhnya kurus kering. Kepalanya sering tiba-tiba sakit. Bola matanya terbelalak seperti hendak meloncat keluar. Separuh badannya sering kaku. Tak dapat merasakan apa-apa. Pada tingkat tertentu, ia akan terjatuh terhempas dan pingsan. Berjam-jam.

Pung Suri, ibu teman saya, meski sudah beranak pinak masih merasakan hal-hal gaib mengganggunya. Sekujur tubuh seperti diiris-iris dan ditusuk-tusuk jarum. Rambutnya seperti ditarik-tarik paksa dengan sakit tak tertahankan. Ia telah mendatangi seluruh rumah sakit di Makassar dan tak ada perubahan. Ia pernah mendatangi seorang orang pintar. Dandi, anaknya, juga teman saya, menyaksikan dengan kepala matanya sendiri. Berbelas-belas benda aneh seperti jarum kelar dari dahinya.

Santet atau guna-guna atau dalam istilah Bugis-Makassar sering disebut doti masih sering diperdebatkan. Ada yang meragukan sebab tidak dapat dibuktikan secara ilmiah namun tak sedikit yang telah menjadi korban. Seperti beberapa korban yang disebutkan di atas dengan nama samaran sebagai bagian dari menjaga privasi.

Santet adalah penggunaan makhluk halus atau jin dengan tujuan tertentu. Salah satunya adalah untuk membalaskan dendam dan sakit hati. Sakit hati karena cinta atau lamaran ditolak, ditinggal nikah atau pasangannya berselingkuh. Santet dapat pula dilakukan untuk menarik hati seseorang. Santet dapat dilakukan oleh laki-laki atau perempuan meski dalam tulisan ini lebih banyak berfokus pada perempuan. Sebab sejauh ini, saya lebih banyak mengenal korban dari perempuan daripada lelaki. Barangkali sebab perempuan dalam budaya kita seringkali menjadi pihak yang menolak.

Cinta pada dasarnya dilandasi niat luhur. Tetapi niat baik tak selalu sesuai harapan. Dan selalu ada orang-orang yang tidak bersedia berdamai dengan kenyataan. Mereka yang sakit hati memakai santet untuk membalaskan lukanya. Entah santet tersebut bertujuan agar ia berpaling kepadanya atau sekedar membuatnya menderita atau agar tidak ada lagi yang tertarik padanya.

Ilmu hitam baik disebut santet, guna-guna atau doti selain bertujuan untuk memberi rasa sakit pada korban, juga dapat membuat korban berpaling mencintainya setengah mati. Logikanya lumpuh dan tidak akan bekerja. Perempuan akan merasa tidak tenang jika tidak melihat wajah si lelaki dan ia akan dibuat menurut apapun yang diminta.

Perempuan juga dapat dibuat melihat si lelaki sempurna seolah tanpa celah sedikitpun meskipun ia disakiti, dicambuk dan sebagainya. Hatinya akan gelisah jika tak melihat wajahnya sehari saja.

Dalam prakteknya, santet dapat menggunakan media boneka dengan silet atau jarum lalu korban akan kesakitan. Santet dapat pula berupa makhluk halusnya sendiri yang mempengaruhi si korban seperti menjelma dengan bentuk tertentu atau menakut-nakuti dengan berbagai cara.

Cara kerjanya berbeda-beda pada tiap perempuan. Ada yang dengan mudah terkena pengaruhnya. Ada pula yang tidak. Ada yang terkena pada hari tertentu dan ada pula sepanjang waktu. Medianya pun dapat beragam. Ada melalui foto, makanan dan minuman, tatapan, sampai ada dengan meludahi sandal target.

Sebagai ilmu hitam, tentu saja santet tidak sesuai dengan agama. Ilmu santet adalah kebalikan agama sebab memakai jin kafir untuk melancarkan aksinya. Cara-cara yang ditempuh adalah cara-cara yang bertentangan dengan kaidah-kaidah agama.

Maka ketika ia berhadapan dengan korban yang beriman kuat, santet tidak akan mudah bekerja atau tidak akan bekerja. Energi positif yang dimiliki akan menghancurkan energi negatif santet yang dikirimkan pelaku. Tak heran jika pengobatan biasanya memakai bantuan ustad melalui ruqyah dengan ayat-ayat Al-Quran.

Menggunakan santet untuk membalaskan dendam sesungguhnya adalah perbuatan sia-sia. Jika ia digunakan untuk memikat hati perempuan maka hubungan tidak akan berberkah. Jika ia digunakan untuk membuat korban menderita, lalu apa untungnya? Beruntung jika target korban dapat dirasuki santet, jika keliru, santet bisa berbalik mengenai diri sendiri. Alih-alih membuat korban menderita, santet bisa menjadi senjata makan tuan.
Perempuan (dan juga lelaki) untuk lebih berhati-hati ketika memperlakukan orang lain. Sering kali santet digunakan juga sebagai balasan karena kata-kata yang melukai perasaan. Jika tak suka, tak perlu menggunakan kata-kata yang menghina.

Selalu berbismillah ketika hendak makan dan minum sebab sangat jamak santet melalui media makanan. Lebih mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa. Salat diperbaiki, dzikir dikencangkan, iman dikuatkan sehingga ketika santet datang, ia akan berhadapan dengan Pemilik Segala Kuasa. Jin bisa apa jika berhadapan dengan Penciptanya.

Dan untuk yang sedang berencana menggunakan santet untuk membalas dendam atau memikat perempuan, sudahilah. Tak ada untungnya. Jika ia memikat, maka hubungan tak akan diridhoi wong caranya sudah salah sejak awal. Jika untuk menderita, derita itu akan kembali kepada diri sendiri dan akan menyiksa diri sendiri entah di dunia atau di akhirat.

Mintalah pada Sang Penguasa. Pikatlah ia dengan akhlak baik dan prestasi. Dengarkan baik-baik pesan Bang Zainuddin. “Jika seseorang membuatmu sakit hati, ambillah jalan lain (yang baik sesuai agama) menuju puncak sehingga nanti ia harus melihatmu dengan cara menengadah ke atas.”

Tetaplah waspada. Ia bisa datang dengan cara apa saja. Pada siapa saja.
Termasuk atas nama cinta.

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

1 comment

Tentang Penulis

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.