Locita

Cerita tentang Sepi di Hari Reuni 212

STASIUN Gondangdia pukul 23.00 masih ramai. Saat keluar dari Menteng Raya 58, saya bertemu orang-orang berbaju koko, peci, dan bersorban. Stasiun tidak seramai ini biasanya. Toilet perempuan dipenuhi ibu-ibu yang mengantri masuk. Mereka berpakaian hitam-hitam, seperti sebuah jamaah tertentu. Oh, besok pale di  Aksi Bela Islam 212 akan melakukan reuni.

Saya tidak tahu apakah mereka datang dari tempat yang jauh, pulau yang berbeda. Saya bisa melihat semangat dan keceriaan mereka menyambut reuni 212 yang katanya akan dimulai pada pukul 02.00 subuh hari di Monumen Nasional (Monas), Jakarta.

Episode demi episode telah terlewati. Kita sulit memprediksi akan ke mana arah dan tujuan aksi bela Islam ini selanjutnya. Tapi rumor bahwa reuni 212 sebagai acara yang bermuatan politik santer terdengar belakangan ini.

Hal ini dipertegas oleh Pembina Presidium Alumni 212 yang juga menjadi anggota tim advokasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI, Kapita Ampera. Dia mengungkapkan bahwa reuni 212 adalah kegiatan politik yang bertujuan mengkonsolidasikan umat Islam agar memiliki kesadaran untuk memilih pemimpin yang memilih umat Islam yang berkualitas di republik ini.

Meski demikian, reuni 212 yang telah melewati beberapa babak ini tidak didukung  oleh semua pemuka dan tokoh agama. Cukup banyak ulama yang tidak sepakat bahkan memprotes kelompok 212 ini, terlebih saat akan melakukan reuni. Sebut saja mereka yang berada dalam garis dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdathul Ulama (NU).

Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat sekaligus Mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsuddin menegaskan dirinya tidak ikut dalam reuni 212 karena bukan alumni. Namun Din juga menegaskan, bahwa hal itu adalah hak konsitusional semua orang dan kelompok demi mengekspresikan pendapatnya. Itu sah-sah saja.

Bagi Din, permasalahan ummat Islam saat ini berada pada infrastuktur kebudayaan umat. Makanya, diperlukan karya-karya nyata dan strategi yang lebih menekankan praksisme keagamaan daripada menampilkan mob populisme keagamaan.

Saya pikir, umat Islam sebagai pemegang saham populasi terbesar di Indonesia harus turut mengambil andil dalam wajah perpolitikan Indonesia. Hanya saja, menjelang pilpres dan pilkada, tujuan-tujuan yang memabawa misi keagamaan sangat berpotensi sebagai alat politik. Saya pikir, cara yang demikian bukanlah satu-satunya.

Saya sepakat dengan pernyataan Qasim Mathar, intelektual Muslim di Makassar,  yang mengatakan bagaimanapun dalam kehidupan politik di Indonesia, Islam dan politik tampaknya tidak bisa dipisahkan sedemikian rupa. Akan teapi Islam dan Indonesia juga kita kenal tidak hanya satu pola, yaitu pola demo. Ada pola-pola yang seperti Nahdathul Ulama, Muhammadiyah dan lain-lain yang tidak berpola demikian.

Sebagai pemuda yang sedari awal tidak turut campur dan mengambil andil dalam bentuk apapun kecuali membuat dan membaca tulisan seperti ini, ada baiknya memikirkan ulang cara perjuangan yang demikian. Anak muda di era milenial butuh alat perjuangan yang lebih koperatif dengan zamannya. Berdemo dengan aksi bela Islam hanyalah penyintas yang amat sia-sia dan tidak mengubah apapun selain terselenggaranya kegiatan-kegiatan politik yang buas sekaligus bius.

Kata Din Syamsuddin, kelemahan insfrastruktur kebudayaan Indonesia ada di berbagai bidang seperti ekonomi, pendidikan, dan informasi. Maka perjuangan yang relevan saat ini adalah mengatasi permasalahan tersebut. Cukuplah kita memahami jika aksi bela islam dengan turun ke jalan atau demo adalah bentuk aspirasi masyarakat.

Tanpa  ikut dalam aksi maupun reuni tersebut utamanya bagi kita para pemuda Indonesia, masih bisa mengimani  banyak ajaran-ajaran Rasulullah. Yang paling pertama dan utama adalah aktualisasi visi Islam rahmatan lil alamin (agama cinta dan kasih sayang bagi semesta raya).

Umat Islam tidak hanya memiliki tugas memperbaiki sesama manusia, tapi juga seluruh alam. Bencana alam, longsor, banjir, dan gunung meletus adalah akibat dari ketidakseimbangan alam dan aktivitas manusia dalam memanfaatkan bahkan mengeksloitasinya.

Kita, ummat Islam dan pemuda Indonesia, harus menyusun misi kemaslahatan bagi segenap alam. Aksi Bela Islam dengan agenda politik di dalamnya membuat saya tidak habis pikir bagaimana kita mempertahankan keutuhan negeri dan agama ini.

***

Kereta Api Lewat (KRL) melaju dari stasiun gondangdia menuju arah Bogor. Matahari telah beranjak tenggelam saat saya sampai di Stasiun Universitas Indonesia. Dua jam lagi reuni 212 akan dimulai, sembari menunggu ojek online saya datang. Saya mengambil satu buku dari ransel saya, di halaman 10 saya membaca sebuah puisi dari Chairil Anwar.

Sepi di luar, sepi mendesak-desak

Lurus-kaku pohonan. Tak bergerak

Sampai ke puncak

Sepi memagut

Tak satu kuasa-berani melepaskan diri

Segala menanti. Menanti-menanti.

Sepi.

Dan ini menanti penghabisan mencekik

Memberat-mencengkung pundak

Udara bertuba

Rontok-gugur segala. Setan bertampik

Ini sepi terus ada. Menanti. Menanti.

Maret 1943

Depok, 02 Desember 2017

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.