Locita

Cemburu Bu Dendy dan Para Istri Nabi

NYLLA hanya diam saat dimaki-maki dan dihujani ratusan lembar seratus ribuan Bu Dendy (Ovie). Sesekali saja tangan dan kakinya menyingkirkan uang yang tercecer di dekat tubuhnya.

Bu Dendy sangat berang karena merasa  ditusuk dari belakang oleh Nylla, karibnya. Nylla dianggap telah merebut suaminya. Padahal menurut Nylla, situasinya tidaklah sesederhana itu.

Dalam video yang sempat viral di sosial media, kecemburuan Ovie begitu mengganas hingga tega memperlakukan Nylla seperti itu. Siapa yang salah? Tulisan ini tidak hendak mencari tahu hal itu. Biarlah netizen sendiri yang memutuskan.

Fokus tulisan ini hendak mengeksplorasi betapa peliknya romantika manakala tersandung asmara dengan orang lain –baik sebagai selingkuhan ataupun yang diresmikan. Kecemburuan pelik ini juga tergambar dalam berbagai fragmen rumah tangga nabi bersama para istrinya. Kisah ini terpotret abadi dalam hadis, Al-Quran, maupun sirah –biografi Nabi.

Bagi umat islam, Nabi diyakini sebagai model ideal dalam semua hal, termasuk ketik mengatur keluarganya. Namun hidup satu biduk dengan banyak cinta sungguhlah tidak mudah. Perasaan cinta, kekuatiran, kecemburuan dan rivalitas selalu turut mewarnai dinamikanya

Sebagai istri pertama yang dinikahi Nabi pasca wafatnya Khadija, Sawda binti Zam’ah pernah terekam menyerahkan “jatah gilirannya” kepada istri yang lain. Diduga kuat, Sawdah yang beranjak tua melakukan hal itu karena kuatir diceraikan Nabi, sebagaimana diceritakan Ibn Abbas dalam Jami’ al-Tirmidhi (Vol.5 Book 44, hadith 3040).

Perlu dicatat, sebelum berpoligami, Khadijah bisa dikatakan cinta mati Nabi. Bersama perempuan aristokrat ini, Nabi menghabiskan sebagian besar hidupnya secara monogami, sekitar 25 tahun, sampai Khadijah meninggal dunia pada 620 M. Ada cerita menarik sebagaimana Ibn Saad dan Ibn Jarir al-Tabari  menyangkut bagaimana dua orang ini meminta restu ayah Khadijah. Penuh liku-liku dan berstrategi.

Belakangan kecintaan Nabi terhadap mendiang Khadijah tak pelak membuat Aisyah bint Abu Bakar cemburu berat. “Nggak pernah aku merasa secemburu kepada istri-istri Nabi kecuali kepada Khadijah,” katanya. Mendengar hal itu, Nabi menjawabnya, “Allah sendiri yang langsung merawat cinta Khadijah dalam hatiku.” Percakapan ini terekam dalam  Sahih Muslim (hadis nomor 2435).

Perjalanan cinta Nabi bersama para istrinya berjalan penuh dinamika.  Salah satunya ditandai dengan rivalitas antaristri. Yang paling mencolok adalah dinamika antara Aisyah binti Abu Bakar dan Zaynab binti Jahsy. Keduanya diketahui saling membanggakan diri sesuai dengan keutamaan yang mereka yakini bersifat ilahiah. Aisyah merasa dirinya adalah perempuan yang dipilih Allah melalui Jibril untuk mendampingi Nabi, sebagaimana yang tercatat dalam Sahih Bukhari (vol. 7, book 62, number 15).

Selain itu, Aisyah juga merasa sangat spesial karena dialah satu-satunya istri yang mendampingi Nabi saat Jibril menyampaikan wahyu di tempat tidur. Keunggulan Aisyah pernah ditegaskan Nabi dihadapan Ummu Salamah. “The superiority of ‘Aishah to other women is like the superiority of Tharid to other kinds of food,” kata Nabi sebagaimana hadits 3947 di kitab Sunan al-Nasai. Tharid adalah semacam sup kambing muda dicampur roti.

Mungkin karena itu, Aisyah terlihat dominan di antara para istri. Ia tidak segan-segan mengungkapkan kecemburuannya di hadapan Nabi dan istri-istri lainnya.

Ummu Salamah pernah cerita, suatu ketika ia membawakan makanan untuk nabi dan para sahabatnya. Saat Aisyah tahu, makanan itu langsung dibungkus kain dan dihancurkan dengan alat penumbuk. “Eat your food, it is just the jealousy of your mother,” kata Nabi kepada sahabat menenangkan suasana. Nabi lantas memberikan masakan Aisyah ke Ummu Salamah dan sebaliknya (Al-Nasai, 3956).

Tidak hanya terhadap Ummu Salamah, Aisyah juga begitu ekspresif menunjukkan kecemburuannya terhadap masakan  Safiyyah, istri Nabi yang lain, “Aku tidak pernah melihat perempuan yang lebih jago masak ketimbang Safiyyah. Saat ia mengirimkannya ke Nabi, aku tidak kuasa untuk tidak menghancurkannya karena cemburu,” katanya seperti terekam di Al-Nasa’i 3957.

Namun demikian, tidak ada rival istri setara di mata Aisyah kecuali Zaynab bint Jahsy. Perempuan berstatus janda ini, menurut Al-Qurtubi dan Ibn Saad,  tidak hanya cantik, berkulit halus, dan ramping (diminutive size) namun juga pekerja keras dan temperamental seperti Aishah. Dia juga ahli menyamak kulit dan punya bisnis di bidang itu.

Dalam aspek campur tangan Tuhan atas perjodohannya dengan Nabi, Zaynab tidaklah kalah dengan Aisyah. “Kalau istri-istri lain diberikan oleh keluarga mereka kepada Nabi, Aku dinikahkan Allah langsung dari surga ketujuh,” kata Anas bin Malik sebagaimana terekam Sahih Bukhari 7420. Perkawinannya dengan Nabi memang menjadi satu-satunya perkawinan yang kabarnya menjadi sebab turunnya QS. 33:37.

Dengan kualifikasi seperti ini, agak sulit untuk tidak mengatakan Aisyah tidak cukup terintimidasi dengan kehadiran Zaynab. Aisyah secara jujur pernah berkata menyangkut sosok Zaynab, “She was somewhat my equal among the wives of the Prophet,“ sebagaimana dicatat dalam Al-Nasa’I 3946. Ibarat liga sepak bola Spanyol, keduanya adalah dua raksasa; Barcelona dan Real Madrid.

Suatu ketika, dengan beraninya, Zaynab mencari suaminya, Nabi, yang saat itu ada di rumah Aisyah. Begitu melihat Zaynab datang, nabi menyodorkan tangannya, ingin menyongsong Zaynab. “Dia Zaynab binti Jahsy,” kata Aisyah memperingatkan Nabi. Nabi pun langsung menarik tangannya kembali. Entah terkait soal apa, namun Zaynab dan Aisyah langsung terlibat adu mulut dengan intonasi tinggi. Nabi hanya diam saja. Saat Abu Bakar lewat depan rumah Aisyah, ia berkata, “Nabi mari kita shalat saja, (biar nanti saya) lempari debu mulut keduanya,”

Abu Bakar begitu malu atas sikap putrinya terhadap Nabi, “Do you behave like this?” damprat Abu Bakar pada Aisyah.

Ini bukan adu mulut pertama antara Aisyah dan Zaynab. Pada kesempatan lain di mana para istri merasa Nabi terlalu mengistriemaskan Aishah, mereka bersepakat meminta Fatimah, putri Nabi, untuk menyampaikan aspirasi mereka.

Sayangnya Fatimah gagal meyakinkan ayahnya. Lalu mereka meminta Zaynab bint Jahsy bertemu Nabi, sebagai wakil mereka. Zaynab pun menemui Nabi, saat itu ada Aisyah di samping Nabi. Saat Zaynab menyampaikan aspirasi para istri, Aisha merasa perempuan itu telah melewati batas.

Karena tak kuat dipojokkan terus-menerus, Aisyah pun melakukan perlawanan. Cekcok sengit terjadi di hadapan Nabi. Cerita ini dituturkan sendiri oleh Aisyah.

Aisyah kabarnya juga sangat cemburu kepada Zaynab karena Nabi pernah berlama-lama mengunjungi rumah Zaynab. Ia dan Hafsa kemudian mengatur strategi untuk memprotes Nabi. Peristiwa ini dikenal dengan kasus maghafir, sebagaimana direkam Sahih Bukhari Vol.6/60/434, Al-Nasa’i 3795 dan Abu Dawud 3714.

Saking runcingnya rivalitas di antara mereka, kabarnya para istri terbelah menjadi dua kubu; Aisyha, Hafsa, Safiyyah, dan Sawda berhadapan dengan kelompok Ummu Salamah, Zaynab binti Jahsy dan yang lain, seperti dicatat Sahih Bukhari 2581.

Biduk keluarga Nabi juga pernah diterpa isu keretakan rumah tangga. Suatu ketika Nabi memutuskan tetirah selama sebulan, menjauhi istri-istrinya. Kejadian yang dikenal dengan “Mashraba” ini kontan membikin gempar Madinah. Desas-desusnya, Nabi akan menceraikan semua istrinya karena mereka mencoba menuntut kehidupan yang lebih baik. Kisah ini ditulis dalam berbagai kitab hadits seperti Bukhari, Muslim, Musnad Ahmad maupun Tirmidzi.

Masih ada beberapa kisah lain seputar dinamika di antara istri Nabi, misalnya, antara Hafsah dan Maria Qibtiyah, atau kecemburuan Aisyah terhadap Maria terkait bayi laki-laki yang dilahirkannya.

Barangkali cerita-cerita di atas akan menjadi pelajaran penting untuk merefleksikan kembali idealitas relasi dalam membangun rumah tangga. Jika tidak sedikit Muslim memaknai poligami Nabi sebagai tanda kebolehan melakukan hal yang sama, saya justru sebaliknya.

Dalam perspektif suffering-theology, Nabi telah dengan benderang mendemonstrasikan peliknya berbagi cinta. Apalagi, junjungan umat Islam ini pernah menolak putrinya dipoligami Ali bin abi Talib.

Sangat mungkin Nabi tidak ingin Fatimah disakiti, “Sungguh, Fatimah adalah bagian dari diriku. Aku sungguh tidak suka jika ia menderita,” kata Nabi sebagaimana dikutip dari Sahih Bukhari 3729.

Meski mungking pendukung poligami meyakini ketidaksetujuan Nabi disebabkan Ali akan mempersunting anak Abu Jahl (musuh Nabi), namun sepanjang hidup Fatima, Ali tidak pernah memadunya bahkan dengan perempuan muslim sekalipun.  Ali baru melakukan poligami saat Fatimah wafat.

Membagi hati dan cinta memang berat, seberat yang dirasakan Bu Dendy dan Nylla. Wallahu a’lam.

Aan Anshori

Kordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), tengah nyantri di S2 Hukum Keluarga Islam Univ. Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang, twitter @aananshori

Add comment

Tentang Penulis

Aan Anshori

Kordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), tengah nyantri di S2 Hukum Keluarga Islam Univ. Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang, twitter @aananshori

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.