Locita

Cadar di UIN Sunan Kalijaga dan Kompleksitas Masalah yang Mengelilinginya

Ilustrasi (sumber foto: https://amirahparker.wordpress.com)

ADAGIUM “tidak semudah membalikkan telapak tangan”, kiranya tepat disematkan, jika merespon permasalahan penggunan cadar di salah satu perguruan tinggi Indonesia, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang banyak menyita perhatian khalayak ramai.

Menjawab pertanyaan tersebut bukanlah “semudah membalikkan telapak tangan”, mengingat keruwetan berbagai macam masalah lainnya yang pula turut terseret “menyempurnakan” kekalutan wacana penggunaan cadar ini.

Ajaran Agamakah, atau Hanya Budaya?

Permasalahan pertama yang perlu dituntaskan sebelum menjawab apakah cadar layak untuk tetap eksis di UIN SUKA atau tidak, ialah sebuah problem krusial yang bila mau dikaji kembali, justru malah akan menambah kerumitan persoalan cadar di atas.

Cadar itu kira-kira bagian dari syariat Islam, atau hanya sekedar budaya? Topik ini sebenarnya panjang lebar telah diuraikan oleh para pakar agama, mulai dari yang klasik sampai modern.

Singkatnya para ulama sebenarnya mengakui bahwa budaya juga turut mengambil sumbangsih dalam pembentukan hukum syarak. Dalil yang digunakan menilik historisitas dialektika antara Al-Quran dan kebudayaan bangsa Arab pada masa turunnya kitab suci umat Islam ini.

Dijelaskan bahwa Al-Quran ketika berhadapan dengan tradisi masyarakat Arab pada waktu itu, tidak serta-merta begitu saja membombardir nilai-nilai adat yang diperpegangi masyarakat Arab kemudian mengklaim dirinya sebagai satu-satunya sumber nilai.

Akan tetapi dalam interaksinya Al-Quran dengan bijaknya memilih serta memilah mana tradisi yang bisa “dipertahankan” kemudian diadopsinya dan mana yang harus “dibuang”.

Dari sini kemudian dikenal kaidah yang menyebutkan bahwa tradisi juga dapat menjadi sumber hukum, selama ia tidak dianggap bertentangan dengan nas-nas keagamaan lainnya.

Tidak hanya sampai di sini, permasalahan berikutnya muncul menyangkut bagaimana para ulama menginterpretasikan nas-nas keagamaan serta budaya cadar, kemudian dielaborasikan untuk menghasilkan hukum.

Walhasil sampai pada titik inilah pakar kemudian berbeda pendapat sehingga varian hukum yang lahir tentang cadar ini begitu beragam, bisa wajib, sunah, mubah, makruh, bahkan dianggap bidah-menurut sebagian ulama-bila dengannya justru malah memicu lahirnya kemudaratan lain yang lebih besar.

Lagi-lagi varian hukum di atas muncul dari perbedaan pandangan ulama tentang cadar itu sendiri, apakah ia menjadi bagian dari syariat yang terlebih dahulu mengadopsi tradisi penggunaan cadar, ataukah ia masih tetap berupa budaya tulen yang tidak “diapa-apakan” oleh agama?

Dari Administrasi, Hingga “Phobia” Radikalisme

Pihak kampus bisa saja bersikukuh dengan argumentasi pedagogisnya, akan tetapi ini bukan berarti bahwa alasan-alasan yang dikemukakan mereka bisa diterima nalar masing-masing kepala yang berbeda-beda.

Jika pemakaian cadar di kampus coba ditertibkan demi kelancaran pengurusan administrasi, spesifiknya menyangkut demi terpenuhinya komunikasi yang lebih efektif saat proses perkuliahan, maka sebagian saudara kita di luar sana, menganggap bahwa diberhentikannya seorang mahasiswi ditengarai oleh alasan tersebut dinilai masih terlalu kejam.

Bila selanjutnya pihak kampus berdalih bahwa penertiban penggunaan cadar ini diperuntukkan sebagai tindakan preventif akar paham radilkalisme yang dianggap merongrong kesehatan kehidupan keberagamaan masyarakat.

Lantas bukti apa yang dimiliki untuk mengklaim bahwa setiap yang bercadar sudah pasti menganut paham ekstrim? Boleh jadi seseorang secara kasatmata nampak biasa-biasa saja, tapi justru dibalik penampilannya itu ia berwatak bengis tidak segan mengafirkan pihak lain yang dianggap bersebrangan dengannya.

Kalaupun kita mau menerima prasangka bahwa pengguna cadar dilatarbelakangi oleh ideologi fundamental yang dianut olehnya, sekali lagi hal tersebut bisa jadi hanya bersifat kasuistik.

Menjadi sebuah kekeliruan apabila kita hanya mengacu pada peristiwa-peristiwa kasuistik, untuk kemudian selanjutnya menarik sebuah kesimpulan yang bersifat umum, bahwa semua pengguna cadar sudah pasti menganut paham radikalisme.

Hal seperti ini dalam teori logika dasar dikategorikan sebagai suatu “kesesatan berpikir/fallacy” yang dinamai dengan sebutan over generalization.

Bila di kemudian hari hipotesis petinggi-petinggi kampus ini lalu terbukti ditunjang riset yang memang dapat dipertanggungjawabkan, maka hal ini tentu saja bukan lagi menjadi persoalan furu dalam konteks fikih yang membuka peluang bagi kita untuk berbeda pendapat namun tetap beriringan.

Akan tetapi ia telah menyentuh ranah prinsipiil kehidupan spritual, yang membuatnya menjadi persolan urgen untuk segera ditindaklanjuti. Jika sudah begini maka “pihak luar” selanjutnya harus berlapang dada menerima keputusan atas sikap yang dipilih otoritas kampus.

Mungkin baik kiranya jika paham “melenceng” itu yang kemudian mampu “diluruskan” oleh pihak kampus melalui kerjasama setiap elemen-elemen di dalamnya, dan bukan hanya berupa “sepotong kain” pendek yang status hukumnya pun sampai sekarang tidak ada habisnya bila ingin dikaji. Wallahu Alam.

Rianto Hasan

Manusia ji saya kodong 😂

Add comment

Tentang Penulis

Rianto Hasan

Manusia ji saya kodong 😂

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.