Locita

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2017

TAHUN 2017 segera berlalu. Di jalan-jalan, trompet penanda pergantian tahun telah bermunculan. Tak lama lagi, trompet itu akan ditiup dengan keras sembari menyaksikan kembang api meledak di udara. Kalender akan segera sampai di lembar terakhir. Tahun 2018 tampak di depan mata.

Saya mencatat tahun 2017 adalah awal dari kian suramnya toko-toko buku di Indonesia. Setiap kali berkunjung ke toko buku terbesar Indonesia, saya menyaksikan bagaimana ruang-ruang untuk memajang buku kian sempit. Dahulu, semua sudut di toko itu dipenuhi hamparan buku. Kini, buku-buku makin terdesak oleh kehadiran stationary, pulpen-pulpen mahal, DVD original, hingga tas anak sekolah. Toko buku perlahan berganti menjadi ruang pamer dari beragam produk, mulai alat tulis hingga laptop.

Yang juga menyedihkan saya adalah semakin terbatasnya buku-buku bertemakan ilmu sosial dan humaniora. Entah kenapa, sepanjang tahun 2017, saya belum menemukan satu buku bagus bertemakan ilmu sosial yang terbit dalam bahasa Indonesia, dan ditulis oleh orang Indonesia. Tahun lalu, saya masih mendapatkan buku Mohammad Sobary mengenai studi atas petani tembakau di Temanggung. Masih tahun lalu, buku lain yang juga bagus ditulis para Indonesianis. Di antaranya adalah Hidup di Luar Tempurung (Benedict Anderson), Serdadu Belanda di Indonesia (Geert Oostindie), juga In Search of Middle Class in Indonesia yang ditulis Gerry Van Klinken. (BACA: Buku yang Saya Sukai di Tahun 2016)

Dua tahun lalu, lebih banyak buku bagus, termasuk yang ditulis orang Indonesia. Di antaranya buku Ariel Heryanto mengenai Identitas dan Kenikmatan, bukunya Daniel Dhakidae mengenai mereka yang melawan di masa Orde Baru, bukunya Susanto Zuhdi tentang laut dan kekuasaan, buku Lies Marcos tentang perempuan menolak tumbang. Buku bagus lainnya ditulis Indonesianis, yakni buku Tania Li tentang etnografi dan kritik wacana pembangunan, juga bukunya Aiko Kurosawa mengenai kuasa Jepang di Jawa. (BACA: Buku yang Saya Sukai di Tahun 2015)

Mungkin, pencarian saya terbatas hanya di toko-toko buku. Tahun 2017 ini, ada banyak buku yang hanya beredar di online. Beberapa penerbit seperti Ombak, Jalasutra, Marjin Kiri, juga Kobam lebih fokus berdagang di online. Mereka mulai menarik buku dari toko-toko sebab tidak memberi banyak keuntungan buat mereka.

Sayangnya, saya bukan tipe pembeli buku yang melihat katalog online. Saya masih suka datang ke toko buku, mencium