Locita

Buku yang Saya Sukai di Tahun 2017

TAHUN 2017 segera berlalu. Di jalan-jalan, trompet penanda pergantian tahun telah bermunculan. Tak lama lagi, trompet itu akan ditiup dengan keras sembari menyaksikan kembang api meledak di udara. Kalender akan segera sampai di lembar terakhir. Tahun 2018 tampak di depan mata.

Saya mencatat tahun 2017 adalah awal dari kian suramnya toko-toko buku di Indonesia. Setiap kali berkunjung ke toko buku terbesar Indonesia, saya menyaksikan bagaimana ruang-ruang untuk memajang buku kian sempit. Dahulu, semua sudut di toko itu dipenuhi hamparan buku. Kini, buku-buku makin terdesak oleh kehadiran stationary, pulpen-pulpen mahal, DVD original, hingga tas anak sekolah. Toko buku perlahan berganti menjadi ruang pamer dari beragam produk, mulai alat tulis hingga laptop.

Yang juga menyedihkan saya adalah semakin terbatasnya buku-buku bertemakan ilmu sosial dan humaniora. Entah kenapa, sepanjang tahun 2017, saya belum menemukan satu buku bagus bertemakan ilmu sosial yang terbit dalam bahasa Indonesia, dan ditulis oleh orang Indonesia. Tahun lalu, saya masih mendapatkan buku Mohammad Sobary mengenai studi atas petani tembakau di Temanggung. Masih tahun lalu, buku lain yang juga bagus ditulis para Indonesianis. Di antaranya adalah Hidup di Luar Tempurung (Benedict Anderson), Serdadu Belanda di Indonesia (Geert Oostindie), juga In Search of Middle Class in Indonesia yang ditulis Gerry Van Klinken. (BACA: Buku yang Saya Sukai di Tahun 2016)

Dua tahun lalu, lebih banyak buku bagus, termasuk yang ditulis orang Indonesia. Di antaranya buku Ariel Heryanto mengenai Identitas dan Kenikmatan, bukunya Daniel Dhakidae mengenai mereka yang melawan di masa Orde Baru, bukunya Susanto Zuhdi tentang laut dan kekuasaan, buku Lies Marcos tentang perempuan menolak tumbang. Buku bagus lainnya ditulis Indonesianis, yakni buku Tania Li tentang etnografi dan kritik wacana pembangunan, juga bukunya Aiko Kurosawa mengenai kuasa Jepang di Jawa. (BACA: Buku yang Saya Sukai di Tahun 2015)

Mungkin, pencarian saya terbatas hanya di toko-toko buku. Tahun 2017 ini, ada banyak buku yang hanya beredar di online. Beberapa penerbit seperti Ombak, Jalasutra, Marjin Kiri, juga Kobam lebih fokus berdagang di online. Mereka mulai menarik buku dari toko-toko sebab tidak memberi banyak keuntungan buat mereka.

Sayangnya, saya bukan tipe pembeli buku yang melihat katalog online. Saya masih suka datang ke toko buku, menciumi aroma cetak, sembunyi-sembunyi membuka plastik buku, lalu membaca isinya, lalu tergugah saat menemukan paragraf yang keren. Saya hanya membeli melalui online saat banyak orang yang merekomendasikan buku itu. Biasanya, saya akan gelisah saat ada buku bagus yang dibaca, dan saya belum baca. Dengan segala cara, saya akan mendapatkan buku itu sesegera mungkin.

Asumsi lain adalah memang buku-buku bertemakan ilmu sosial dan humaniora sangat terbatas. Akademisi di bidang ini sangat banyak. Malah berlimpah. Dugaan saya, mereka hanya sibuk mengejar kum atau penilaian agar segera naik pangkat dan menyandang gelar profesor. Mungkin saja mereka sibuk menulis di jurnal asing, lalu lupa untuk membagikan pengetahuannya pada khalayak luas. Saya sering sekali terkejut saat teman memberi tahu Bapak A telah jadi profesor. Dalam hati saya bertanya, mana karyanya? Kok tiba-tiba jadi profesor?

Kelangkaan buku bisa pula disebabkan para guru besar atau peneliti kita sibuk tampil di televisi. Mereka lebih suka disorot kamera, ketimbang menyorot lembaran layar putih yang seharusnya mengalirkan pikiran mereka. Di tanah air kita, para akademisi sekalipun lebih suka cari panggung, ketimbang mencerahkan masyarakat atas perubahan yang terjadi di sekitar kita.

Saya juga melihat banyak orang hebat yang lebih suka berceloteh di media sosial seperti Facebook dan Whatsapp. Yang dibahas adalah pikrian orang lain. Paling sering membagikan link-link yang isinya hoaks.  Padahal, akan sangat baik jika menggunakan media sosial untuk membagikan pikiran dan perasaannya. Publik bisa belajar dan tercerahkan.

Dari penelusuran terbatas dan hasil kunjungan ke toko buku setiap dua minggu, saya menyusun list tentang buku yang saya sukai. Tentu saja, daftar yang saya buat dibuat dengan sangat subyektif. Bagi saya, kriteria buku bagus itu sederhana.

Pertama, buku itu bisa membuat saya merenung selama beberapa hari. Dalam artian, buku itu meninggalkan jejak di pikiran saya yang sesekali melintas saat sedang duduk atau mengkhayal. Kedua, buku itu saya jadikan koleksi andalan, yang sering saya buka saat senggang.

Ketiga, buku itu ibarat mercon yang meledakkan banyak pahaman yang lama jadi pola di pikiran saya. Buku yang mengajarkan saya pahaman baru selalu terasa special. Keempat, buku itu membasahi jiwa saya dengan inspirasi baru. Seusai membacanya, saya menemukan semangat, juga optimisme. Kelima, buku itu pernah saya resensi dan rekomendasikan kepada orang lain.

Berikut daftar buku yang saya sukai di tahun 2017.

Sapiens (Yual Noah Harari)

Dalam versi bahasa Inggris, buku ini terbit tahun 2015. Tapi terjemahannya dalam bahasa Indonesia terbit tahun 2017. Ketika membaca buku ini, saya beberapa kali memaki dalam hati, “Sialan! Kok buku sebagus ini baru saya baca sekarang yaa. Selama ini saya ke mana saja?”

Foto: Yusran Darmawan

Buku ini tidak menyajikan riset dengan metodologi yang ketat. Dari sisi metode dan sistematika penulisan, saya lebih suka bukunya Jared Diamod yang berjudul Guns, Germs, and Steel. Yang saya sukai dari buku ini adalah gaya menulis esai yang disusun serupa dialog atas semua fakta-fakta. Penulisnya, sejarawan muda Israel, tidak menyusun sejarah sebagai rangkaian koronologis, melainkan percakapan yang melintasi waktu. Ia mendiskusikan lintasan panjang yang dilalui manusia, sepanjang 150.000 tahun eksis di planet bumi.

Ia membahas tiga peristiwa penting yang membuat Sapiens mencapai puncak peradabannya. Pertama, revolusi kognitif, sekitar 70.000 tahun lalu. Manusia mulai meningkat kecerdasannya, menciptakan perkakas, lalu menyebar ke banyak lokasi.

Kedua, revolusi pertanian. Sekitar 11.000 tahun lalu, manusia mulai berhenti dari kegiatan berburu dan meramu, mulai tinggal di perkampungan, melakukan domestikasi hewan, serta mulai berkebun dan bersawah. Ketiga, revolusi sains, sekitar 500 tahun lalu. Peristiwa ini memicu revolusi industri, yang mendorong revolusi informasi, dan revolusi bio-teknologi. Revolusi ini adalah signal berakhirnya manusia. Manusia akan digantikan oleh post-human, cyborg, dan robot yang tidak pernah mati.

Homo Deus (Yuah Noval Harari)

Saya kembali menempatkan buku karya Harari sebagai buku kedua yang saya sukai. Buku ini belum terbit dalam bahasa Indonesia. Saya membelinya dalam versi bahasa Inggris saat singgah ke Periplus di Bandara Sukarno Hatta. Tanpa banyak menimbang, langsung saya beli karena penasaran dengan isinya.

Dalam buku Homo Deus, Yuval Noah Harari menulis tentang penemuan teknologis berikutnya yang sama pentingnya dengan penemuan api dan bagaimana penemuan itu akan merubah alur evolusi spesies kita di masa mendatang. Saya seolah membaca kisah science fiction ala film Star Wars.

Buku ini membahas penemuan-penemuan teknologis fantastis yang sedang berkembang di awal abad 21: neurosains, bio-engineering, gene editing dan penemuan teknologis yang mungkin akan menjadi penemuan terakhir spesies manusia: kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).

Masa depan adalah era kecerdasan buatan. Kecerdasan ini memegang peranan penting di dalam semua lini kehidupan. Kecerdasan buatan juga akan mengambil alih sebagian besar pekerjaan manusia untuk dikerjakan dengan komputer, robot dan mesin. Banyak manusia jadi pengangguran, muncul kelas baru yang mengendalikan semuanya. Demokrasi bakal punah.

Saya terkejut membaca penjelasan tentang teknologi yang lebih memahami manusia, ketimbang manusia itu sendiri. Google, Facebook, dan Amazone, punya catatan lengkap tentang apa saja yang Anda posting, apa yang anda gelisahkan, makanan apa yang disukai, hingga apa saja buku dan film yang anda tekuni. Teknologi bisa mengetahui bio-ritme dan apa saja yang menyedihkan ataupun membahagiakan anda.

Algoritma yang digunakan Google dan Amazon sama dengan algoritma yang terjadi dalam sistem kognitif manusia saat berpikir atau mengambil keputusan sehari-hari. Bedanya hanya pada kompleksitas. Pada satu masa, kemampuan algoritma komputer akan berkembang sedemikian rupa sehingga melampaui kemampuan kognisi manusia dalam setiap bidang kehidupan.

Origin (Dan Brown)

Dan Brown adalah novelis yang selalu saya ikuti bukunya. Ia tidak cuma menyajikan cerita, lengkap dengan alur dan plot yang menegangkan. Ia juga menyajikan banyak pengetahuan baru. Pada setiap bukunya, saya belajar hal-hal seperti simbologi, fisika modern, juga bagaimana religi dalam kehidupan kontemporer. Dan Brown selalu menentang kemapanan berpikir dan hadir dengan ide-ide baru yang diambilnya dari berbagai disiplin ilmu. Jangan lupa, dia juga selalu kekinian dan meng-update pengetahuannya dengan studi terbaru.

Novel Origin yang belum lama ini saya beli secara online dan langsung dibaca tuntas, menyajikan satu rangkaian teka-teki seorang ilmuwan yang terbunuh dalam satu presentasi sains. Ada persinggungan dengan tokoh-tokoh agama besar dunia, juga diskusi tentang awal dan akhir alam semesta. Saya membayangkan pembaca awam akan kebingungan membacanya.

Namun bagi yang sudah membaca Homo Deus, pasti tidak akan terkejut. Dalam Homo Deus telah diprediksi mengenai artificial intelligent (kecerdasan buatan) serta dominasi teknologi yang kian merambah kehidupan manusia, sehingga pada satu titik manusia ingin jadi dewa yang mengendalikan segalanya, namun manusia juga bisa kehilangan pilihan-pilihan sebab dikendalikan oleh teknologi.

Disruption (Rhenald Kasali)

Inilah buku dalam bahasa Indonesia yang paling menarik di tahun 2017 ini. Buku ini diulas oleh berbagai kalangan, mulai dari pebisnis, akademisi, dan juga praktisi. Yang didiskusikan adalah perubahan lanskap kehidupan yang merupakan akibat atau pengaruh dari kehadiran teknologi informasi. Banyak bisnis tumbang, pemain besar rontok serta anak-anak muda generasi milenial yang membawa ide-ide baru.

Foto: Yusran Darmawan

Buku ini menjelaskan gelombang ketiga internet serta peradaban baru yang menuntut manusia mengubah pola pikirnya, a disruptive mind. Peradaban ini dibentuk oleh Hukum Moore yang mengubah kecepatan menjadi eksponensial, berhadapan dengan pribadi yang masih berpikir linear. Ini buku menarik bagi yang hendak memahami karakter jaman now.

Free Writing (Hernowo)

Hernowo adalah penulis yang selalu saya tunggu buku-bukunya, khususnya mengenai dunia kepenulisan. Dia produktif melahirkan buku-buku yang isinya selalu mencerahkan dan membantu semua orang agar bisa menulis. Selain belajar teknik menulis, khususnya bagaimana mengoptimalkan otak kiri dan otak kanan saat menulis, buku-buku Hernowo juga berisikan motivasi agar hasrat menulis itu segera bangkit. Biasanya, seusai membaca buku Hernowo, saya merasakan rasa lapar untuk segera menulis dan mengalirkan gagasan.

Foto: Yusran Darmawan

Buku yang ditulis Hernowo adalah buku wajib yang selalu saya bawa saat diminta memberikan pelatihan menulis. Menurut saya, metode Hernowo paling pas diterapkan untuk melatih siapa saja. Di mata saya, ia tidak membawa satu pendekatan atau teknik baru. Beberapa pendekatannya saya temukan dalam beberapa penulis lainnya. Tapi Hernowo tetap spesial sebab ia mengajarkan orang untuk mengalirkan semua ide-ide atau apa saja yang dipikirkan ke dalam kanvas tulisan.

Melalui metode itu, setiap orang selalu memiliki keunikan dan orisinalitas. Yang digali dalam pelatihan menulis adalah bagaimana mengeluarkan semua orisinalitas itu, dan mengatasi semua hambatan-hambatan saat hendak mulai menulis. Sejak buku Mengikat Makna diluncurkan, Hernowo ibarat “tabib” dalam pengertian Socrates, yakni orang yang membantu orang lain melahirkan ide-ide.

Raden Mandasia (Yusi Avianto Pareanom)

Saking sukanya novel ini, saya sengaja membacanya dengan lambat. Saya suka alur, diksi, dan cara mengemas kalimat dalam buku ini. Buku ini mengisahkan pendekar yang punya karakter unik. Novel memenangkan penghargaan Khatulistiwa Award tahun 2016.

Di novel ini, pendekarnya bukanlah sosok yang sibuk menjaga moral dan nilai, serta berpikiran ala superhero: “great power, great responsibility.” Di sini, tokoh pendekar atau jagoannya tak hanya penuh dendam kesumat, tapi juga sedikit bodoh, suka memasak dan bisa mengenali berbagai jenis bumbu masakan. Unik kan?

Pendekarnya bukan jagoan sok penjaga moral. Pendekarnya justru punya nafsu birahi yang begitu tinggi (ups…). Beberapa lembar dari cerita silat ini adalah gambaran tentang adegan ranjang yang justru membuat napas jadi tertahan, jantung jadi deg-degan. Kisah ini serupa gabungan antara Wiro Sableng, Mahabharata, serta sedikit unsur Freddy S. (khususnya adegan ranjang tadi). Sialan, saya sudah lama tidak menemukan kisah silat yang komplit seperti tersaji di novel ini.

Satu lagi, jagoannya hampir tiap saat mengeluarkan makian. Bagi kamu yang menjunjung tinggi ajaran moral, disarankan jangan baca novel ini. Pasti kamu akan kesal karena hampir di semua lembar, jagoannya akan mengeluarkan makian: anjing!.

Thank You for Being Late (Thomas L Friedman)

Buku terbaru Friedman ini saya dapatkan dari Elizarni, mahasiswa Indonesia yang studi di Amerika Serikat. Saat dia pulang, saya minta agar dibawakan buku ini. Saya penikmat tulisan-tulisan Thomas Friedman. Dia seorang jurnalis The New York Times. Dia tipe jurnalis intelektual yang bergelar PhD dari satu kampus berpengaruh di Amerika.

Foto: Yusran Darmawan

Dia terkenal karena liputan-liputan mendalamnya di berbagai negara. Tak mengherankan jika liputan-liputan investgasi itu telah mengantarnya sebagai jurnalis penerima Pulitzer Prize sebanyak tiga kali. Bagi para jurnalis, Pulitzer serupa hadiah nobel bagi seorang ilmuwan.

Saya menyukai gaya menulisnya yang ringan, tapi penuh makna. Gaya menulis yang ringan ini juga saya temukan pada beberapa akademisi Amerika dan peraih nobel, di antaranya adalah Joseph Stiglitz, William Easterly, dan Daron Acemoglu.

Mereka bisa menyederhanakan hal yang rumit, tapi tetap tidak kehilangan rasa intelektual. Sebagamana halnya para intelektual itu, Friedman bisa mendiskusikan hal-hal yang rumit seperti globalisasi, serenyah saat makan mie ramen di satu kedai. Ia mengakui bahwa seringkali ide-ide untuk bukunya lahir saat dirinya tengah bersantai di satu kafe atau warung kopi.

Demokrasi, Korupsi, dan Makhluk Halus (Nils Bubandt)

Saya telat membaca buku yang terbit sejak Desember 2016 ini. Buku karya Prof Nils Bubandt berjudul Demokrasi, Korupsi, dan Makhluk Halus, terbitan Obor, ini adalah jenis buku unik yang menelisik bagaimana dunia politik dan dunia makhluk halus saling berkelindan di Indonesia. Mulanya, saya tertarik membacanya karena diterjemahkan oleh Prof Achmad Fedyani, antropolog UI, yang merupakan pembimbing tesis saya.

Foto: Yusran Darmawan

Ternyata buku ini memang menarik. Buku ini membahas tentang kecenderungan para politisi pada kegaiban dan makhluk halus menjelaskan politik kita penuh harapan dan kekecewaan, yang disebut Derrida sebagai adanya “struktur di balik hegemoni.” Buku ini membahas banyak sisi yang nyaris diabaikan, namun menjelaskan banyak hal dari dunia politik kita yang penuh aroma mistis.

Deskripsi etnografis di dalamnya buat saya kaget-kaget, lalu menandainya dengan stabilo. Mulai dari bahasan tentang seribu jin yang konon dikirimkan satu pesantren untuk digunakan dalam demonstrasi anti-korupsi, tewasnya seorang politisi yang diyakini karena santet dari lawan politiknya, pencalonan seorang sultan di Maluku Utara di kancah politik yang merasa didukung arwah nenek moyang, hingga seorang ibu yang mengaku nabi di Jailolo, lalu percaya datangnya sultan yang lama hilang beserta banyak emas dari dasar bumi, juga bicara tentang kebangkitan Sukarno.

The Shallows (Nicholas Carr)

Kembali, saya telat membaca buku yang terbit sejak 2011, dan pernah masuk nominasi peraih Pulitzer ini. But, it’s better late than never. Buku ini membahas fenomena kecanduan pada internet yang menyebabkan orang-orang lupa waktu.  Buku ini adalah buku provokatif yang menunjukkan betapa banyaknya hal buruk yang terjadi akibat ketergantungan pada internet. Penulisnya menggali argumentasi dari berbagai bidang ilmu demi menunjukkan bahwa internet telah membuat kita semakin bodoh.

Sepintas, buku ini agak pesimis dalam melihat internet, berbeda dengan buku Grown Up Digital karya Don Tapscott yang sangat optimis melihat internet. Tapi ada banyak pelajaran dan argumentasi yang bisa dipetik.

Membaca buku The Shallows ini menyadarkan kita bahwa internet serupa candu yang membuat kita selalu ingin berselancar, membuat banyak pekerjaan kita tertunda, menyebabkan waktu kita terbuang percuma.

Nicholas Carr bercerita, dahulu dia seorang yang gila baca. Ia adalah penyelam di lautan kata-kata. Tapi sejak mengenal internet, semua kebiasaan itu berubah. “Dulu, saya adalah penyelam di lautan kata–kata. Kini, saya bergerak cepat di permukaannya seperti orang yang mengendarai jet ski.”

Internet menyebabkan fokusnya hilang, dan sibuk menjadi peselancar, tanpa kemampuan menyelam lagi. Internet menyebabkan manusia memasuki era kebodohan. Struktur otak dan cara berpikir manusia bisa berubah gara-gara kecanduan pada internet.

Buku ini adalah peta memahami sisi buruk internet yang harus diwaspadai. Baca resensi saya: Nicholas Carr dan Era Bodoh di Internet.

Big Magic (Elizabeth Gilbert)

Setelah buku Eat Love and Pray, saya menyenangi buku Big Magic yang ditulis Elizabeth Gilbert ini. Buku yang baru saja diterjemahkan ke bahasa Indonesia ini membahas kreativitas. Kata Gilbert, kreativitas bukan sesuatu yang datang dari dalam diri individu, tetapi ada proses spiritual.

Manusia sanggup menulis sesuatu disebabkan ada ilham atau ide-ide yang memasuki tubuhnya. Tulisan hanya satu cara untuk menjerat ide-ide itu agar tidak lepas.

Gilbert menelusuri jejak kreativitas di berbagai zaman, di antaranya adalah masa Yunani dan Romawi kuno. Para seniman bisa melahirkan mahakarya hebat disebabkan oleh kreativitas, yang diyakini berasal dari roh di lokasi yang misterius. Kreativitas seniman didapatkan dari yang peri berdiam di balik tembok rumahnya.

Peri, yang disebut Gilbert serupa Dobby dalam serial Harry Potter, membantu para seniman untuk menuntaskan kerja-kerja kreativitasnya. Para seniman menjadikan diri mereka sebagai wadah bagi masuknya peri demi lahirnya karya-karyanya.

Socrates percaya bahwa dia memiliki “daemon” yang mengajarkan kebijakan dari jauh. Orang Romawi pun mempercayai ide yang sama, tapi mereka menyebut makhluk itu Jenius. Orang Romawi tidak menganggap Jenius sebagai manusia yang sangat sangat pintar.

Mereka percaya Jenius adalah sesuatu yang magis dan sakral yang hidup dalam tembok ruang kerja seniman, mirip seperti peri-rumah Dobby, yang keluar dari persembunyiannya untuk membantu sang seniman dan membentuk hasil akhir karya tersebut.

Catatan Lapangan Antropolog (Editor: Frieda Amran)

Buku ini saya masukkan dalam list bukan karena saya salat satu penulis di dalamnya. Buku ini menarik sebab isinya adalah kolaborasi dari para antropolog alumnus Universitas Indonesia, mulai dari yang senior hingga junior. Saya cukup menikmati kolaborasi peneliti senior dan junior ini. Editornya adalah Frieda Amran, seorang antropolog senior yang tinggal di Belanda.

Foto: Yusran Darmawan

Buku ini menarik sebab menyajikan sketsa perjumpaan para peneliti saat berada di lapangan. Dalam perjumpaan itu, seorang peneliti belajar pada masyarakat setempat, berusaha memahaminya, lalu lebur dengan masyarakat itu. Hubungan yang terbentuk bukan sekadar peneliti dan masyarakat, tetapi menjadi kerabat dekat yang tetap saling menjaga silaturahmi. Buku ini menyajikan realita dari sisi para peneliti yang turun lapangann.

Seringkali ada ketidaknyamanan atau kesulitan, tetapi itu justru menjadi pelajaran berharga yang dipetik peneliti untuk senantiasa mengapresiasi siapapun yang ditemuinya di lapangan. Semua ketidaknyamanan itu akan menjadi pelajaran berharga bagi seorang peneliti demi membentangkan karpet merah pengetahuan kepada banyak orang, sembari mengutip kalimat Geertz: “I’ve been there” saat merekahkan pengetahuan berharga untuk menghormati masyarakat yang dikunjunginya.

Koran Kami with Lucy from the Sky (Bre Redana)

Di mata saya, ini bukan jenis novel yang membuat saya berdebar-debar dan tak sabar menghabiskannya. Novel ini termasuk novel paling lama saya habiskan. Saya membawanya di tas selama beberapa hari. Ceritanya tidak begitu mengejutkan. Terlampau banyak ceramah yang membuat saya beberapa kali hendak memutus bacaan. Tapi saya tetap membacanya sebab saya pernah merasakan bagaimana irama kerja media cetak yang serba hati-hati.

Foto: Yusran Darmawan

Yang saya temukan di novel ini adalah perjalanan seorang jurnalis, yang mengenang masa-masa ketika jurnalisme adalah panggilan jiwa bagi mereka yang hendak mengabarkan kebenaran. Saya menemukan nostalgia seorang jurnalis tua, masa ketika pekerjaan dianggap hobi, masa-masa mengetik di tengah tumpukan kertas dan secangkir kopi, nginap di mess kantor, dan sesekali ngelayap ke tempat hiburan malam. Nostalgia itu hadir melalui dialog antara jurnalis gaek itu dengan seorang perempuan muda, generasi milenial.

Buku ini menyajikan banyak renungan bagi generasi hari ini. Setidaknya, ada pesan-pesan dan kekhawatiran seorang jurnalis senior melihat dunianya sekarang yang makin berubah. Para jurnalis kini bekerja di ruang AC, berada di kantor mewah yang tidak mengizinkan lagi jurnalis merokok, ngopi, dan tidur di kolong meja, hal-hal yang dulu dialami para senior.

Para jurnalis kini datang dengan pakaian necis ala generasi milenial, bukan lagi para seniman gondrong yang setiap hari menyerap ide melalui obrolan lepas bersama kopi di bawah pohon, setelah itu janjian ketemu di hiburan kelas teri.

Novel ini menyajikan lintasan perjalanan seorang jurnalis tua yang melihat dunia yang ditekuninya selama puuhan tahun terus berubah. Dalam banyak hal saya tidak sepemismis dirinya. Saya percaya, di era big data ini, jurnalisme terus bertransformasi, meskipun nilai-nilai seperti akurasi dan aktualitas akan selalu abadi.

Musik Indonesia 1997-2001 (Jeremy Walch)

Buku berjudul lengkap Musik Indonesia 1997-2001: Kebisingan dan Keberagaman Aliran Lagu, yang ditulis Jeremy Wallach, terbit di bulan Maret 2017. Saya tertarik membeli buku ini seusai membaca catatan di halaman belakang yang menyebutkan buku ini merupakan riset etnografis yang membumi dengan ketajaman analisis dari teori budaya kontemporer.

Foto: Yusran Darmawan

Beberapa kajian dalam buku ini mengingatkan saya pada buku Andrew N Weintraub berjudul Dangdut: Musik, Identitas dan Budaya Indonesia, yang terbit tahun 2012 lalu. Satu lagi referensi bagus tentang dangdut ditulis oleh William Frederick tahun 1982 berjudul Rhoma Irama and the Dangdut Style: Aspects of Contemporary Indonesia Popular Culture.

Ketiga studi itu laksana tali-temali yang saling terkait. Ketiganya membahas dinamika antara dangdut dan masyarakat menengah ke bawah Indonesia yang menjadi penggemar berat musik itu. Kesamaan ketiganya adalah sama-sama menjelaskan hubungan antara musik itu dengan ruang batin masyarakat Indonesia yang dimediasi dengan baik oleh lagu-lagu berirama dangdut.

Yang baru dari buku Jeremy Wallach adalah pelukisan etnografis yang mendalam. Dia menelusuri panggung musik, toko kaset, konser, studio, dan banyak lokasi demi menemukan pemahaman tentang musik Indonesia. Biarpun tidak spesifik membahas dangdut, kita bisa memahami bagaimana interpretasi masyarakat atas musik, bagaimana identitas direpresentasikan, serta bagaimana globalisasi mempengaruhi musik Indonesia.

Give a Man a Fish (James Ferguson)

Setelah membaca buku james Ferguson yang berjudul The Anti-Politics Machine yang menyajikan kritik atas wacana pembangunan, saya ketagihan untuk membaca buku lainnya. Ia produktif mengkritik pembangunan sebab dirasanya tidak selalu menjadi jawaban bagi masyarakat di negara berkembang.

Bagi Ferguson, pepatah yang menyebutkan “beri kail, jangan ikan!” tidak selalu benar. Melalui riset dengan metode etnografis, ia mengajak orang berpikir tentang cara lain dalam melihat kemiskinan dan ketidakberdayaan. Studi yang dilakukannya menunjukkan bahwa transfer uang tanpa syarat–atau sering disebut direct cash transfer– kepada masyarakat miskin justru memunculkan semangat wirausaha.

Masyarakat justru bisa mengelola bantuan dana itu lalu digunakan secara berkelanjutan. Intinya adalah distribusi yang adil, pengelolaan kepercayaan, dan kesempatan.

Riset ini menjadi menarik sebab kita terlalu sering melihat orang miskin dengan cara pandang kita. Padahal, sebagaimana pernah ditulis oleh Robert Chamber, yang sering terjadi adalah begitu banyaknya bias dalam melihat orang miskin disebabkan kuasa pengetahuan yang kita miliki. Kita mendefinisikan mereka dengan cara pandang kita, yang tentu saja, tidak mencerminkan keadaan sebenarnya.

Dalam buku ini, Ferguson secara impresif mengajukan pertanyaan, dekonstruksi, dan rekonstruksi atas pandangan klasik tentang kemiskinan, pembangunan dan negara-negara sejahtera. Dengan fokus pada kebijakan “bagi-bagi uang” atau cash transfer, ia menyajikan risalah antropologi di selatan Afrika, termasuk perdebatan mutakhir tentang praktik pembangunan dan anti-poverty activism.

***

DEMIKIAN, beberapa buku yang saya baca di tahun 2017. Masih banyak buku lain, tapi tidak mungkin saya bagikan semuanya di sini. Risiko melakukan seleksi adalah kita harus tega untuk memilih buku-buku tertentu saja.

Jika suatu saat Anda berkunjung ke rumah saya, Anda akan melihat bahwa satu-satunya harta yang saya miliki adalah buku-buku. Saya suka membanggakan koleksi buku saya kepada siapapun yang berkunjung. Siapa tahu, saya bisa dapat rekomendasi buku bagus yang bisa memperkaya koleksi di rumah.

Saya menyambut tahun 2018 dengan penuh harapan agar semakin banyak buku bagus yang memperkaya pengetahuan dan pengalaman. Semoga.

 

Yusran Darmawan

peneliti, pejalan, dan penggemar kuliner

Tentang Penulis

Yusran Darmawan

peneliti, pejalan, dan penggemar kuliner

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.