Locita

Budaya Lebaran Kekinian yang Menindas

Akhirnya sampai pada titik yang cukup menggembirakan, beberapa hari yang akan datang sedikit problem akan terselesaikan, sedih bercampur bahagia ramadhan akan segera usai. Setelah itu terbitlah Idul Fitri atau familiar disebut lebaran, hari di mana kita bermaaf-maafan dan pamer baju baru. Lebaran sendiri, secara mainstream akan dimaknai sebagai judgement day. Entah dari sejak kapan, hari lahiriah dengan trademark maaf-maafan, dijadikan ajang pembantaian. Bukan soal kekerasan fisik, namun lebih ke verbal. Di mana akan muncul pertanyaan-pertanyaan menohok.

Pertanyaan klasik selanjutnya, seputar sekolah dan kuliah. Ketika yang lulus SMP, SMA, akan kena damprat pertanyaan begini, sekolah di mana nanti ? Kuliah di mana nanti ? Bahkan sampai membandingkan dengan yang lainnya. Sekolah di SMA Internasional Barokah kayak si Fulan saja, kuliah di Ghana kayak si Bahlul, masak tidak bisa. Mengunggulkan yang lebih bonafit, sampai membuat tekanan mental bagi si individu. Terkadang malah harus rela melepaskan cita-citanya, karena intervensi simple yang menohok.

Pasca itu, kita semua juga dihakimi dengan sinisme level dewa. Kapan lulus ? Mau kemana dan ngapain ? Kapan nikah ? Sama siapa ? Dari keluarga mana ? Terlalu kepo dan deterministik ke kehidupan pribadi. Itulah realitas kala lebaran tiba, pertanyaan tadi merupakan pertanyaan khas unik nan mainstream ala keluarga Indonesia. Anehnya, sampai ranah pribadi diurusin, dibully, dihina dan tak jarang yang frustrasi. Namun ada juga yang sekedar gurauan dan motivasional. Memang unik, sekaligus mengaburkan esensi hari lahiriah, alias kembali ke fitrah. Terjebak dalam perilaku ghuluw menuju riya’, seperti parade pamer pencapaian.

Berbeda dengan mereka yang berasal dari keluarga ekonomi menengah, lebaran dimaknai sebagai ajang berkumpulnya keluarga. Sekaligus menghakimi sanak saudara, entah ini budaya lama atau mungkin secara alamiah sudah melekat. Pertanyaan seputar ekonomi jelas tidak bisa dilepaskan. Semisal nanti mau kerja di mana ? Kerjaanmu sekarang di mana ? Gajinya berapa ? Kok disitu, kayak si Z dong hebat!!! Selalu membanding-bandingkan antar individu, siapa yang lebih unggul.

Pertanyaan mendasar, apakah budaya penghakiman sepihak ini bersifat universal atau terbatas pada kelompok ekonomi menengah saja. Pasalnya memang di kelompok ekonomi lemah, pertanyaan seputar lebaran hanya mencakup wilayah ekonomi saja. Semisal mereka yang merantau, pasti akan mengajak keluarganya yang dirasa prospek. Mungkin juga curhat resolusi ke depan mau ngapain, lebih ke soal ekonomi dan mungkin saya bisa salah.

Tentunya tidak semua seperti itu, hanya saja beberapa melakukan budaya tersebut, menjadi sebuah tradisi wajib yang tak afdhol jika dilewatkan. Tradisi tersebut sebenarnya merupakan pertarungan antar keluarga, cukup bertendensi pada ambisi eksistensi pihak-pihak yang ingin dipandang dominan. Rata-rata memang dari kelas ekonomi menengah yang memelihara budaya demikian. Sebagai bukti, bagaimana hegemoni budaya kekinian cukup mengintervensi, karena budaya kita masih bercorak khas feodal ala-ala pencapaian Orde Baru yang kaku. Masih ingat tolok ukur kesuksesan ala budaya Orde Baru. Selalu saja hal-hal berbau sukses dikaitkan dengan kerja sebagai PNS, Dokter, Militer dan Karyawan di perusahaan BUMN. Bahkan dari cita-cita sedari kecil usia bisa ditebak, sampai pertanyaan lebaran pun bisa ditebak, arah pembicaraannya ke mana.

Seperti pada tulisan Yudhistira dalam artikel “Anak-anak orde baru dan Indonesia sekarang”. Wujud budaya Orde baru dapat dilihat dari cita-cita, sebagai pengejahwantahan ideologisasi pembangunan. Anak-anak Orde baru secara tidak langsung menggambarkan tujuan pemerintah, dari cita-citanya bahkan arah tujuannya.

“Pembangunan adalah mantra bagi Orde Baru, sehingga semua kegiatan mesti disesuaikan dengan mantra tersebut. Itulah sebabnya, cita-cita anak-anak Indonesia pada masa Orde Baru terbatas hanya pada tiga profesi tersebut. Pertama, menjadi tentara, terutama Angkatan Darat (AD), karena merekalah yang berhasil menyelamatkan negara ini dari pengaruh komunisme dan menjaga stabilitas keamanan, sehingga negara bisa membangun dan meraih kenikmatan ekonomi. Kedua, menjadi insinyur supaya bisa meneruskan dan meningkatkan pembangunan yang telah dicanangkan pemerintah. Ketiga, menjadi dokter agar masyarakat Indonesia senantiasa sehat sehingga pembangunan tidak terhambat (Yudhistira, 2013, artikel anak-anak orba dan indonesia sekarang, paragraf ke 9).

Bahkan menurut Karl Mannheim, posisi sosial merupakan proses sejarah yang dapat membuat masyarakat mempunyai cara pandang, dan implementasi dalam tindakan yang khas, sehingga membentuk budaya yang khas (dalam Dhakidae, 1980: 6, dalam Yudhistira 2013). Sudah cukup menjawab sedikit terkait persoalan, mengapa budaya tersebut tetap langgeng dan terus mengintimidasi pemuda-pemuda kala lebaran tiba.

Keinginan untuk dipandang dan dilihat sukses, menjadikan budaya lebaran yang sakral berubah menjadi ajang pamer, perusak mental dan demotivasi. Selain faktor budaya, juga dikarenakan adanya distribusi kesejahteraan tidak merata, tidak adil dan ketimpangan terlihat mencolok. Sehingga secara laten turut mempengaruhi budaya-budaya khas lebaran, sebagai ajang untuk melangenggkan budaya otoriter, di mana kita secara tidak langsung ditekan untuk menjadi seperti kehendak keluarga.

Padahal ramadhan seharunya menjadikan kita sebagai manusia yang fitrah, belajar menahan hawa nafsu dan menjadi lebih baik. Namun tidak semua menjadi seperti harapan, masih banyak hal-hal penting yang masih “cacat.” Budaya boros, berlebih-lebihan, bahkan bukan dalam tataran konsumsi saja, tapi gaya hidup hingga budaya sinis kala lebaran hadir. Idul fitri yang seharusnya menjadi momentum untuk ajang rekonsiliasi, malah memunculkan sakit hati, stress bahkan dalam kadar tertentu memicu depresi. Budaya lebaran yang menindas ini merupakan distorsi, yang mendestruktif kehidupan seseorang individu. Bahkan sampai bisa meruntuhkan motivasi hidup seseorang, tak jarang banyak yang tidak bahagia dengan kehidupannya, hanya berawak dari intimidasi-intimidasi keluarga yang masih bercorak otoritatif, khas Orde Baru yang menindas.

Lebaran juga dapat dijadikan indikator sosial ekonomi, bagaimana masih banyaknya ketimpangan sosial diantara kita. Hemat saya, sehingga percuma belajar internalisasi diri melalui puasa. Karena itu tidak berarti, karena puasa hanya dimaknai sebagai kewajiban, namun tak sampai melihat esensi dibalik perintah untuk berpuasa. Padahal puasa ramadhan ini seharusnya menjadikan manusia yang lebih fitrah dan senantiasa berbenah diri. Tetapi kenyataannya tidak demikian, semua runtuh dalam sekejap kala lebaran tiba.

 

Wahyu Eka Setyawan

Nahdliyin muda, Alumni Psikologi UNAIR, selalu mengklaim diri sebagai GUSDURian Chapter Surabaya

22 comments

  • Hey there! This post could not be written any better! Reading this post reminds me of my previous room mate! He always kept talking about this. I will forward this post to him. Pretty sure he will have a good read. Thank you for sharing!

  • It is in reality a nice and useful piece of info. I am satisfied that you just shared this helpful information with us. Please keep us informed like this. Thanks for sharing.

  • I have been exploring for a little bit for any high quality articles or weblog posts on this sort of house . Exploring in Yahoo I eventually stumbled upon this web site. Studying this info So i?¦m satisfied to convey that I have an incredibly just right uncanny feeling I came upon just what I needed. I most unquestionably will make certain to do not omit this web site and provides it a look on a relentless basis.

  • I was curious if you ever thought of changing the layout of your website? Its very well written; I love what youve got to say. But maybe you could a little more in the way of content so people could connect with it better. Youve got an awful lot of text for only having 1 or two pictures. Maybe you could space it out better?

  • I like what you guys are up also. Such smart work and reporting! Carry on the superb works guys I have incorporated you guys to my blogroll. I think it will improve the value of my site 🙂

  • It’s really a cool and helpful piece of info. I’m glad that you shared this helpful information with us. Please keep us informed like this. Thanks for sharing.

  • Spot on with this write-up, I actually assume this website wants far more consideration. I’ll most likely be again to learn rather more, thanks for that info.

  • What i do not realize is actually how you are no longer really much more neatly-favored than you might be right now. You are very intelligent. You understand therefore significantly relating to this subject, produced me for my part believe it from a lot of varied angles. Its like women and men are not fascinated unless it is one thing to do with Woman gaga! Your individual stuffs outstanding. Always handle it up!

  • But wanna input on few general things, The website design is perfect, the content is very superb. “To the artist there is never anything ugly in nature.” by Franois Auguste Ren Rodin.

  • you are truly a excellent webmaster. The site loading velocity is amazing. It kind of feels that you are doing any distinctive trick. Moreover, The contents are masterpiece. you have done a great process on this topic!

  • certainly like your web-site but you have to take a look at the spelling on several of your posts. Several of them are rife with spelling problems and I to find it very troublesome to tell the truth however I’ll definitely come again again.

  • Hiya, I am really glad I’ve found this information. Today bloggers publish just about gossips and net and this is actually annoying. A good web site with exciting content, this is what I need. Thanks for keeping this web site, I will be visiting it. Do you do newsletters? Cant find it.

  • I keep listening to the newscast talk about getting boundless online grant applications so I have been looking around for the best site to get one. Could you tell me please, where could i acquire some?

  • Can I just say what a relief to find someone who actually knows what theyre talking about on the internet. You definitely know how to bring an issue to light and make it important. More people need to read this and understand this side of the story. I cant believe youre not more popular because you definitely have the gift.

Tentang Penulis

Wahyu Eka Setyawan

Nahdliyin muda, Alumni Psikologi UNAIR, selalu mengklaim diri sebagai GUSDURian Chapter Surabaya

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.