Locita

Bromance Trump dan Kim

Kemunculan Kim Jong Un akhirnya menepis semua spekulasi tentang kondisi kesehatannya.

Setelah “menghilang” dari muka publik selama kurang lebih tiga minggu, akhirnya Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kom Jong Un muncul di acara publik. Kim menghadiri pembukaan pabrik pupuk sekaligus melakukan prosesi potong pita. Setelahnya, Kim nampak ngobrol dengan beberapa pejabat tinggi Korut sembari merokok. Seolah-olah ingin menepis rumor bahwa dirinya mempunyai masalah kesehatan jantung.

Kim memang diisukan sedang menjalani prosedur operasi jantung sehingga absen dari acara-acara publik. Bahkan, Kim absen di acara ulang tahun kakeknya, Kim Il Sung. Acara itu disebut sebagai acara paling penting di Korea Utara dan pemimping tertinggi tidak pernah absen dalam perayaannya.

Ditambah lagi televisi resmi Korut yang sehari-hari menayangkan kegiatan Kim Jong Un ke seluruh negeri dalam tiga minggu terakhir tidak melakukannya. KCTV, justru menayangkan kilas balik ke masa muda Kim Jong Un.

Absennya Kim dari muka publik mengundang berbagai spekulasi. Kim dikabarkan sedang menjalani operasi jantung sampai dikabarkan meninggal dunia. Masyarakat dunia melihat pola yang sama ketika Kim Jong Il, ayah Kim Jong Un, meninggal dunia. Televisi resmi pemerintah melakukan hal yang sama, sebelum ada pengumuman resmi dari negara.

Beragam spekulasi selama tiga minggu terakhir bermunculan. Salah satu yang paling kencang adalah bahasan mengenai siapa pengganti Kim jika dia benar-benar meninggal. Kim Yo Jong, adik perempuan Kim Jong Un digadang-gadang sebagai penggantinya. Publik internasional menebak-nebak apa jadinya jika pemimpin Korut berganti ke Kim Yo Jong.

Ini menandakan, ghibah di level internasional tidak kalah pedasnya dari ghibah di antara tetangga. Kim Jong Un (mungkin) sedang bertaruh nyawa dengan penyakitnya tapi tetangga-tetangganya malah ngomongin siapa ahli warisnya, warisannya apa saja. Bahkan berlembar-lembar artikel dibuat untuk memprediksi apa yang akan terjadi kalau Jong Un meninggal.

Sungguh terlalu….

Semoga saja Kim Jong Un tidak punya saudara beda ibu yang selama ini diasingkan. Saudaranya ini diasuh oleh petani di pelosok desa, belajar kungfu dari Cina kemudian menolong rakyat miskin di skeitarnya.  Akhirnya saudaranya datang menuntut balas, merebut tampuk kepemimpinan dari Kim Yo Jong. Mengubah Korut menjadi negara berkembang di bawah investasi Cina.

Sungguh sinetron sekali.

Mungkin kalau kejadiannya demikian, Amerika Serikat akan membuat sekuel dari The Interview, film satir tahun 2014 yang nyindir Korut habis-habisan itu.

Tapi semua itu terbantahkan ketika Kim Jong muncul di depan publik. Kemudian menyalakan rokoknya seolah berkata, “I’m big and healthy, eat my dirt!

Kim Jong Un memang beda. Dia membangun citra maskulin dengan rokok, sesuatu yang jarang sekali dilakukan pemimpin negara demokratis di depan publik. Tanpa rokoknya Kim Jong Un mungkin akan mirip tokoh figuran yang dikejar-kejar vampir Cina di film horor tahun 1990an. Tapi dengan rokoknya, Kim Jong Un bisa menepis semua kabar yang mempertanyakan kekuatan pemimpin Korea Utara.

Cadas!

Donald Trump saja tidak bisa segarang itu Padahal dia adalah pemimpin negara superpower. Isu kesehatan yang menerpa Trump berbeda dengan Kim Jong Un. Pada pemeriksaan kesehatan tahun 2019, Trump dikabarkan mengidap kolestrol tinggi dan berbagai potensi masalah kesehatan yang mengintainya. Tapi Trump sudah uzur, 73 tahun. Berbeda dengan Kim Jong Un yang konon kabarnya berusia 36 tahun. Level garangnya jelas berbeda!

Ngomong-ngomong soal Trump, dia yang paling awal menyambut baik kemunculan perdana Kim Jong Un di depan publik. Beberap jam setelah Kim muncul, Trump langsung menyatakan dia gembira ketika tahu Kim kembali dalam keadaan sehat.

So sweet sekali mereka berdua ini.

Diawal menghilangnya Kim dari peredaran Trump juga sempet bilang kalau dia “have a very good idea about Kim’s health situation” dan dia juga menyatakan “I wish him well”. Nah lho, kesannya mereka kan deket banget. Bromance lah kalau kata anak sekarang. Mungkin ketika Kim merasa sakit yang dikabari duluan Trump. Ciyeee…

Hubungan kedua pemimpin negara ini memang unik. Trump sering menunjukkan kesan bahwa dia dan Kim bersahabat dekat. Sayangnya sering bertepuk sebelah tangan, alias dibantah oleh Kim. Tahun 2018 misalnya, ketika kedua negara akan bertemu secara bilateral untuk pertama kali membahas mengenai nuklir, Trump mengatakan Kim mengirimkan sweet letter kepadanya sehingga mereka “seolah jatuh cinta”. Tapi kemudian dibantah oleh Korea Utara.

Contoh lain, Januari 2020 lalu Trump mengirimkan ucapan selamat ulang tahun kepada Kim ditengah perundingan tentang senjata nuklir. Namun sekali lagi pihak Korut memberikan klarifikasi bahwa itu urusan personal, bukan institusional.

Tiga minggu yang lalu ketika Kim Jong Un tidak nampak di depan publik, Trump juga semakin sering mencuit di twitter menyebut nama Kim Jong Un. Ah, betapa perhatian Presiden Trump kepada sahabatnya.

Kalau melihat situasi di atas, bagi saya yang menarik adalah apakah Kim Jong Un akan kehilangan sahabat kalau Trump tidak lagi menjabat? Kita tunggu saja sebagai pengamat!

Dias Pabyantara

Dias Pabyantara

Peneliti di Center for Identity and Urban Studies (CENTRIUS)

Aktif ngoceh di podcast: Luas Mendalam

Add comment

Tentang Penulis

Dias Pabyantara

Dias Pabyantara

Peneliti di Center for Identity and Urban Studies (CENTRIUS)

Aktif ngoceh di podcast: Luas Mendalam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.