EsaiFeatured

BPOM Lambat Birahi, Albothyl Dikebiri, Pasien Menjerit

ALBOTHYL adalah salah satu kekasih terbaik mahasiswa FKG dan dokter gigi. Albothyl adalah penyayang kita semua–utamanya dokter gigi. Kenapa?

Sejak mahasiswa, para calon dokter gigi selalu diajarkan terlebih di salah satu bagian yang harus dilulusi adalah bagian Penyakit Mulut atau Oral Medicine. Di bagian ini diajarkan mengenai pelbagai penyakit mulut, khususnya adalah sariawan. Istilah kerennya stomatitis.

Sebagai dokter yang mengedepankan proses penyembuhan. Di masa pendidikan ini, mahasiswa diajarkan untuk berpoligami. Poligami ini adalah dua kekasih hati, obat andalan untuk pasien di bagian Oral Medicine bernama Alloclair dan Albothyl.

Keduanya juga ibarat mewakili dua sisi berbeda. Alloclair mewakili cerah dan jernih( karena warnanya) juga aplikasinya kurang menyakitkan. Beda dengan Albothyl yang kerap membuat pasien mengerang–saat kapas yang telah dicolek—saat menyentuh sariawan. Kedua obat ini adalah jalan  terbaik untuk mengobati stomatitis.

Albothyl juga adalah kekasih terbaik untuk mahasiswa kedokteran gigi yang sedang stress. Bayangkan, ketika para insan akademik itu stress karena dimarahi dosen, di PHP pasien, ujian yang tiada kunjung selesai oleh penguji, bahkan mungkin karena pasangan.

Albothyl juga adalah koenci saat telah menyelesaikan studi berada di praktek. Cairan sewarna kopi ini menjadi opsional saat memberikan resep ke pasien yang sariawan, bahkan cairan ini dipakai juga untuk antiseptik dan obat kumur. Apalagi Alloclair susah didapatkan di daerah-daerah tertentu.

Tiba-tiba Albothyl dilarang oleh BPOM?

BPOM seperti bersin, mendadak berbicara keras soal Albothyl. Katanya obat ini memiliki kandungan policresulen. Konon katanya, bahan ini digunakan untuk anus dan vagina yang sekalipun sama-sama jaringan lunak, tapi berbeda. Kandungan asamnya dapat menyebabkan kematian jaringan pada mulut.

Wow! BPOM kini merenggut lagi kekasih umat dan para dokter gigi, setelah sebelumnya merenggut obat-obat karpul yang digunakan sebagai anastesi dalam prosedur gigi.

Karpul tersebut digunakan oleh dokter gigi, karena prosedur kerjanya lebih mudah dan cepat dibandingkan menggunakan spoit dan ampul anastesi.

Oh ya, jangan lupa beberapa waktu lalu BPOM juga melarang peredaran Viostin DS dan Enzyplex dari pasaran. Alasannya? Karena ditemukan DNA babi dalam obat sendi dan lambung itu. BPOM lincah betul kini. Menariknya, Albothyl ini serumpun pabrikan dengan Viostin DS, PT Pharos Indonesia.

Entah mengapa BPOM sering lambat berfatwa dan terangsang untuk menelisik lebih lanjut bahan-bahan obat di Indonesia. Albothyl adalah obat yang sudah mendarah daging dalam institusi pendidikan. Pun juga di masyarakat.

Albothyl sudah lebih 36 tahun berada di Indonesia. Saya masih ingat orang rumah saya selalu membelikan cairan ini ketika ada anggota keluarga terpapar sariawan, jauh sebelum saya masuk sasana FKG.

Kenapa baru hari ini BPOM meneliti bahan ini? Dari mana saja? Ada apa dengan pengawasan di BPOM? Kenapa bisa BPOM kecolongan saat obat tersebut belum beredar di masyarakat atau di tangan para tenaga medis? Ingat ya ini 30-an tahun, melebihi usia hidup Kurt Cobain dan Jimi Hendrix.

Yang cukup menggelikan juga adalah reaksi para dokter gigi lewat PDGI, yang tiba-tiba bilang menyatakan tidak menyarankan menggunakan policresulen. Perhimpunan dokter gigi yang terbentuk sejak 1950-an ini tidak menyelidiki kandungan dan beriak akan bahayanya Albothyl selama 30 tahunan lebih?

Padahal kalau mau dipikir di organisasi ini puluhan hingga ratusan dokter gigi ahli penyakit mulut (yang salah satunya berkompetensi dalam menelisik Albothyl) bernaung dan meneguhkan sumpah dokternya.

Oh iya, Om dan Tante di BPOM selama ini selalu saja melarang dan memutus peredaran obat di Indonesia, tapi apakah ada evaluasi kepada BPOM? Sejauh mana peranan lembaga ini dalam mencegah obat-obat berbahaya dan haram beredar di masyarakat?

Lantas apa pernah kita bertanya mengenai tanggung jawab lembaga ini setelah gagal verifikasi dari obat-obatan yang beredar tersebut? Apa mi tanggung jawab BPOM dan PT Pharos terhadap masyarakat yang sudah mengonsumsi produk tersebut?

Bagaimana pertanggung jawaban terhadap pasien yang meninggal akibat penggunaan produk itu?

Baru sekarang ini mereka semua bereaksi. Entah apa yang ada di balik ini, yang jelas kita hanya bisa menduga-duga. Saya ingat ujaran Dedi Supratman dan Eko Prasetyo dalam buku Bisnis Orang Sakit, bisnis kesehatan.

Betul tidaknya jelas beredarnya obat-obat berbahaya dan haram adalah bagian dari bisnis dan perputaran uang yang kepentingan bertaut di dalamnya. Apakah ini kasus Albothyl ini masuk wilayah bisnis? Kita hanya bisa menduga seperti menebak Dilan itu Syiah atau Sunni.

Kini saatnya para pengguna produk farmasi dituntut cerdas dan kritis—utamnya juga dokternya. Mericek produk kesehatan itu perlu, selayaknya mericek hoax yang beredar. Salah satunya dokter gigi—saya juga utamnya—dalam melihat obat-obatan dan bersuara, bukan hanya saat honor dikebiri atau kena maki dan protes dari pasien.

Setelah ini saya yakin masih banyak obat yang tidak melalui proses verifikasi ketat keamanannya, bisa jadi salah satunya yang rutin kita konsumsi.

Selamat tinggal Albothyl. Semoga BPOM dan organisasi profesi kesehatan lainnya tidak lagi lama birahi mengusut produk kesehatan lainnya.

Dhihram Tenrisau

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Previous post

Tentang RUU MD3, Peraturan yang Prematur

Next post

Ani Andayani ,Papua Punya Kekayaan Lain Buat Hapus Dia Punya Masalah