Esai

Bonus Demografi Menurunkan Angka Jomblo?

Ketika detik berpindah dari dua belas ke satu, sejak itu pula usia saya bergeser menjadi 31 tahun. Jika kita mengacu Undang-Undang RI Nomor 40 Tahun 2009 tentang kepemudaan, tentu saya harus sadar diri bahwa saya telah meninggalkan status cap pemuda.

Yang patut disyukuri, karena di usia ini saya telah menikah dan peroleh satu anak. Bukan lagi seorang jomblo di usia uzur. Saya melewati masa-masa kritis saya sebagai seorang bujangan. Ya, seringkali ini dialami oleh rekan-rekan saya yang mapan dan sibuk mengejar karir. Alhamdulillah ya, hal itu diikuti juga oleh Raisa.

Pertambahan usia, meniscayakan berkurangnya jatah usia yang kita miliki. Kita semua pasti tahu, tuntutan untuk semakin baik dari waktu ke waktu. Sebagaimana Allah bersaksi atas nama waktu dalam Al-‘Ashr. Tapi tak sedikit dari kita hanya sekedar tahu, tanpa pernah move on dari zona nyaman yang telah dimiliki.

Ihwal zona nyaman iniĀ  seringkali saya singgung ketika diberi kesempatan untuk sharing pengalaman juga pengetahuan di sekitar 121 cabang HMI dari Papua sampai Aceh. Mungkin sekitar 150-200 jumlah kabupaten/kota yang telah kami lalui. Untuk sekedar memperpanjang jangkauan silaturahim dan bertemu saudara jauh.

Selain itu kami juga telah membuka mata teman-teman mahasiswa waktu itu agar mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang ada di depan mata kita. Khususnya peluang Bonus Demografi yang kita dapatkan sejak tahun 2012 hingga 2035, dan akan mencapai puncaknya tahun 2028-2031.

Momentum Bonus Demografi yang hanya bisa dinikmati sekali seumur hidup negara itu tak bisa tidak untuk terus didengungkan. Apalagi di bawah kepemimpinan Jokowi-JK, telah masuk dalam agenda RPJMN 2015-2019 soal Bonus Demografi dan Pembangunan Kepemudaan. Juga per-12 Juli 2017, telah ditetapkan Peraturan Presiden RI Nomor 66 Tahun 2017 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Pelayanan Kepemudaan.

Sekedar berjalan mundur, sejak tahun 2013, jauh sebelum hiruk pikuk Pemilihan Presiden hingga setelah dilantiknya Jokowi-JK saya dan teman-teman di PB HMI 2013-2015. Saya dan rekan-rekan pengurus HMI sudah mulai mendorong pentingnya dua hal tadi, “Bonus Demografi dan Pembangunan Kepemudaan”.

Bonus Demografi ditandai dengan semakin mengecilnya penduduk tidak produktif dibandingkan dengan penduduk usia produktif (15-64 tahun) yang mencapai rasio 3 berbanding 1. Kesempatan untuk mempersempit celah kesenjangan dan meningkatkan kesejahteraan dapat diakselerasi karena beban penduduk tidak produktif yang ditanggung penduduk produktif semakin mengecil. Dengan kondisi tersebut, maka produktivitas dapat dikonversi menjadi modal bagi pembangunan ekonomi.

Pembangunan kepemudaan bertautan dengan peluang Bonus Demografi diatas. Berdasarkan data BPS, jumlah pemuda mencapai 62,6 juta orang. Seperempat penduduk Indonesia isinya pemuda. Terngiang pesan Soekarno, yang hanya butuh 10 pemuda untuk mengguncang dunia.

Akhirnya, niat baik pemerintah hari ini dengan mendorong lahirnya kebijakan-kebijakan yang pro pemuda perlu disambut lebih serius oleh mereka yang peduli akan nasib bangsanya di masa depan. Bagi saya dan teman-teman yang sejak awal bergelut dengan isu ini, tentu merasa bersyukur dan akan melanjutkan perjalanan ini.

Adagium, “Hasil tak pernah berkhianat pada proses juga takdir” yang linear dengan doa dan ikhtiar menjadi kenyataan.

Hingga kelak jutaan pemuda di Indonesia siap mengguncang dunia. Dengan gagasan, inovasi, kreatifitas, dan keberanian. Karena pemuda juga bukan soal usia. Pemuda juga soal semangat dan kenekatan dalam pertaruhan untuk menggapi cita.

Sekarang yang jadi pertanyaannya? Apakah Bonus Demografi dan kebijakan pemerintah ini dapat memecahkan masalah untuk para jomblo?

Ah, entahlah…

 

Arief Rosyid

Arief Rosyid

Seorang ayah dan suami, dokter gigi, Ketua Umum PB HMI 2013-2015

Previous post

Pembelaan Diri Seorang Hakim Terhormat

Next post

5 Buku Rekomendasi untuk Muslimah Kekinian