Locita

Boikot Facebook: Alasan Akun FPI Diblokir

ilustrasi

SANTER berita belakangan ini mengenai pernyataan Novel Bamukmin, pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Jakarta, bahwa mereka akan memboikot media sosial Facebook. Pemboikotan ini akan dilakukan selama 24 jam pada tanggal 25 Desember 2017. Bertepatan dengan perayaan Natal umat Kristiani.

Seperti dilansir Tirto.id, sebetulnya tidak hanya Facebook. Whatsapp dan akun media sosial lainnya juga akan mereka boikot. FPI melakukan hal ini dengan alasan akun mereka diblokir ketika Aksi Bela Islam. Mereka akan mengupayakan beralih ke media sosial yang pro Islam.

Dengan istilah pro Islam yang dibangun FPI, mereka mencoba membangun wacana kehadapan publik, bahwa Facebook bukanlah media sosial yang berpihak kepada Islam. Benarkah demikian?

Kalau seseorang mau mengecek sebentar saja, akan ditemukan banyak sekali akun Islam di Facebook. Tidak hanya akun personal, bahkan Fanpage organisasi dan grup-grup diskusi berserakan. Di masing-masing akun orang berbagi mulai dari tulisan keagamaan, video ceramah ustadz favorit sampai kepada adu argumen terhadap opini yang tidak disepakatinya.

Bahkan akun-akun tokoh Muslim di dunia juga banyak di Facebook. Misalnya akun Syaikh Hamza Yusuf pimpinan Zaytuna College di California. Atau juga akun Syaikh Yasir Qadhi, salah seorang murid Syaikh Utsaimin yang sekarang menjadi tokoh di Amerika Serikat. Tidak ketinggalan juga akun Tariq Ramadan, cucu pendiri Ikhwanul Muslimin Syaikh Hasan Al Banna yang sekarang menjadi Profesor di Universitas Oxford.

Artinya membangun kerangka pro Islam dan anti Islam tidaklah masuk akal dalam konteks pemblokiran akun FPI. Buktinya masih banyak akun-akun tokoh Islam bahkan kaliber dunia yang masih eksis di Facebook. Pertanyaan di sini muncul, mengapa akun FPI diblokir Facebook?

Sebenarnya urusan pemblokiran akun oleh Facebook itu hal yang biasa saja terjadi. Saya sendiri beberapa tahun lalu pernah mengalaminya. Diblokir selama satu minggu oleh Facebook dan rasanya memang tidak enak sekali.

Setelah mengirim e-mail ke Facebook saya mendapatkan jawaban. Beberapa aturan penggunaan Facebook telah dilanggar. Dan, saya diminta membaca ulang kebijakan Facebook lagi. Setelah memelas dalam tulisan, barulah akun saya diaktifkan kembali.

Poin kesalahan saya pada waktu itu adalah pengelolaan grup secara tidak cermat. Grup diskusi konspirasi yang saya buat melakukan blunder dan seingat saya ada sekitar 800 orang anggota aktif. Para anggota grup dengan getol membahas konspirasi namun menyinggung pihak tertentu.

Tema-tema Zionisme, Illuminati, Karbalah sampai review film tentang agenda-agenda terselubung kelompok rahasia menjadi tema sehari-hari. Dan tentu saja hal ini satu paket dengan anti Yahudi. Satu hal yang harus dipisahkan dengan anti zionisme sebetulnya.

Terkait pemblokiran akun FPI tentu saja tidak dilakukan dengan semena-mena oleh media sosial besutan Mark Zuckenberg itu. Ada beberapa kemungkinan mengapa hal tersebut dapat terjadi, tentu saja seputar pelanggaran aturan dan kebijakan Facebook seperti yang saya alami.

Pada tautan https://www.facebook.com/legal/terms, Facebook menjelaskan aturan penggunaannya. Coba periksa bagian ketiga mengenai keamanan. Di sana Facebook meminta komitmen pengguna untuk tidak mengirimkan postingan di antaranaya yang berisi ungkapan kebencian dan pornografi.

Di bagian kelima, mengenai perlindungan hak orang lain, Facebook juga meminta beberapa hal. Yaitu menjaga hak intelektual orang lain, dan akan dinonaktifkan apabila beberapa kali melanggar. Begitu juga halnya dengan melanggar hak orang lain pada umumnya.

Jadi apabila Facebook menilai FPI dan akun siapa saja melakukan pelanggaran diatas, maka akun tersebut akan diblokir.

Penilaian itu bisa berdasarkan pengamatan admin Facebook sendiri atau mengacu pada laporan dari pengguna lain. Ada kemungkinan juga bahwa banyak pengguna Facebook yang tidak menyukai kiriman FPI di halamannya dan melaporkannya ke admin Facebook. Sebagaimana diketahui, ada fitur untuk “laporkan” pada setiap akun.

Saya sendiri memandang bahwa pemblokiran akun Facebook FPI berdasarkan poin pelaporan pengguna ini.

Alasannya karena FPI belakangan sudah menjadi kelompok politik. Kalau dulu FPI terkenal sebab anti maksiatnya, akhir-akhir ini menjadi terkenal karena isu politik yang dimotorinya. Misalnya saja Aksi Bela Islam yang dipimpin oleh Imamnya Muhammad Rizieq Shihab. Sebuah aksi yang membawa banyak massa datang ke Jakarta.

Benar pada satu sisi aksi tersebut menuntut hukuman atas Gubernur Jakarta ketika itu Basuki Tjahaja Purna alias Ahok. Dia dituntut sebab dinilai telah menistakan agama.

Namun pada sisi lain, melihat konteks Pilkada yang sedang terjadi, ini tidak dilepaskan dari muatan politik yang ada didalamnya. Bahwa Gubernur Jakarta sebagai ibukota Republik Indonesia harus beragama Islam.

Peran FPI yang demikian tentu tidak semua kalangan menyetujuinya. Orang-orang yang tidak bisa menghadang laju mobilisasi massa yang dilakukan, akan melakukan perlawanan alternatif.

Mengingat Facebook adalah cara efektif berinteraksi dengan banyak orang, wajar saja akun FPI dilaporkan oleh orang yang tidak sepakat dengan aksinya. Baik secara politik ataupun kegiatan FPI secara umumnya.

Rencana boikot Facebook oleh FPI sebagai perlawanan atas pemblokiran akunnya sah saja. Itu adalah hak FPI secara lembaga. Himbauan FPI untuk menggunakan media sosial yang lebih pro Islam merupakan sebuah tantangan bagi Web Developer Muslim. Bagaimana caranya seluruh Muslim di dunia always connected, always online.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.