Esai

Betapa Meruginya PKS Memecat Fahri Hamzah

Blantika politik tanah air tidak henti-hentinya menyuguhkan konflik. Setelah Golkar sempat pecah, disusul oleh PPP yang masih berlangsung, ada juga Hanura yang Ketua umumnya diajukan mosi tidak percaya oleh anggotanya. Diantara konflik yang terjadi, sebagai orang yang pernah ikut liqa’ satu kali pertemuan, bagi saya adalah PKS yang paling menarik.

Konflik di PKS bukanlah pecah kubu seperti partai lain. Dinamika yang terjadi adalah antara kader dan partai. Fahri Hamzah, seorang wakil ketua DPR, bertarung melawan partai yang telah membesarkan namanya. Dipimpin oleh Shohibul Iman, partai dakwah itu memecat Fahri.

Fahri tentu tidak terima, dia mengajukan proses di pengadilan dan kemudian menang. Kemenangannya disambut dengan banding oleh PKS dan ditolak. Unik memang, sementara ini ada kader yang menang melawan partai sendiri. Fahri hingga kini masih menduduki wakil ketua DPR dengan tenang.

Terlepas dari kontroversi yang meliputi Fahri Hamzah, sosoknya memang menjadi perhatian banyak orang. Termasuk bagi saya pribadi.

Suatu kali, ketika melawat ke Riau, saya sempat bertemu dengan seorang kader KAMMI. Menginap di kosannya dan mengobrol banyak hal. Sebelum pulang, saya diberikan buku karya Fahri Hamzah. Judulnya, Negara, Pasar dan Rakyat. Saya tidak menyangka, ternyata Fahri adalah salah satu diantara sedikit politisi yang menulis. Dalam bukunya itu, Fahri membahas banyak hal, perihal kontrak sosial, ekonomi dan masalah-masalah kerakyatan.

Politisi yang menulis bagi saya keren. Alasannya mendasar, melalui bukunya kita bisa membaca gagasan sang politisi. Lewat buku pula, kita bisa memprediksi apa yang akan dilakukannya ketika sudah menduduki suatu jabatan. Dan politisi yang menulis, tidak hanya bermain jargon. Mereka sudah mempunyai ide yang sistematis mengenai negara.

Apa yang dilakukan Fahri adalah suatu keteladanan pada masa kini. Saya yakin, dia sendiri juga meneladani para politisi pendahulu yang juga bertarung lewat gagasan. Kita bisa melihat dalam sejarah, Soekarno menulis Dibawah Bendera Revolusi, Natsir berkarya Capita Selecta dan tangan Aidit membuahkan Tentang Marxisme.

Melihat sosok Fahri yang demikian, PKS cukup rugi kalau harus kehilangan kader sekaliber dia. Selain punya gagasan, dia punya banyak hal yang belum dimiliki oleh politisi PKS kebanyakan. Misalnya saja urusan popularitas. Dari sekian banyak politisi PKS, wajah Fahri adalah yang paling banyak muncul. Tidak hanya di media cetak dan online, namun juga di televisi.

Nama-nama politisi PKS yang dulu berkibar sekarang seakan redup. Mulai dari Hidayat Nur Wahid, Tifatul Sembiring hingga Anis Matta yang dulu punya jargon pemimpin muda.

Popularitas yang sedemikian rupa tidak hanya disaksikan saat ini. Buktinya Fahri menjadi anggota legislatif PKS dengan suara terbanyak. Artinya Fahri sudah jauh populer sebelum sering nongol di televisi. Lebih jauh, hal ini bermakna kemampuan Fahri yang mumpuni dalam merawat basis massa di NTB.

Dari sini masalah lain akan muncul bagi PKS sendiri. Kemampuan Fahri dalam merawat massa membuktikan dia adalah seorang yang punya kharisma sendiri di daerah pemilihannya. Seandainya Fahri memang keluar dari PKS, dan pemilihnya setia, berapa banyak suara PKS akan hilang?

Tersiar kabar dari Kompas.com, bahwa PKS tidak lagi merestui Fahri untuk maju lagi di pileg 2019, dan Fahri menyatakan tidak akan pindah partai. Meskipun banyak partai yang telah menawarinya untuk bergabung. Bagi saya ungkapan Fahri ini adalah bahasa politis saja.

Alasannya, Fahri sudah lama malang melintang di dunia politik. Bekalnya tidak hanya jargon tetapi juga mempunyai gagasan yang telah dia bukukan. Jika Fahri mundur dari dunia politik tentu akan sulit baginya untuk mengaktualisasikan cita-cita yang telah dia gagas tersebut. Pindah partai adalah pilihan yang cukup rasional baginya.

Apalagi ditengah dinamika politik yang absurd akan ideologi seperti sekarang. Platform partai sepertinya hanya sebatas kendaraan politik bagi para politisi.

Jika Fahri mengambil posisi ini, dan saya yakin dia akan melakukannya bila sudah tidak di PKS, tentu akan menjadi kerugian berikutnya oleh PKS. Sebagai politisi senior, Fahri sudah tentu menguasai dinamika internal PKS dengan dalam. Mulai dari urusan pengkaderan, mekanisme partai hingga strategi pemenangan pemilu.

Pemahaman Fahri tentang PKS ini akan membuahkan senjata untuk menyaingi PKS pada pileg 2019. Partai tempat dia berlabuh tidak akan sungkan menggunakannya. Ini ibarat seorang agen intelijen yang pindah ke negara lawannya. Dan yang pasti, pemilih loyal Fahri akan mengalihkan suara mereka  ke partai barunya itu.

Sebagai partai yang punya disiplin kuat, pemecatan Fahri oleh PKS adalah suatu blunder. Begitu banyak kerugian yang akan ditanggung jika hal itu benar terjadi. Meskipun bukan simpatisan PKS, saya punya usul, alangkah lebih baik kalau partai dakwah ber-islah dengan kader sendiri. Dengan demikian grafik politik PKS sebagai partai alternatif diluar partai-partai besar tetap terjaga kalaupun tidak naik.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

Embun, Kisah Anak Korban Kekerasan Seksual

Next post

Benarkah Cedera Kaki Menggunakan Koyo atau ke Tukang Pijat?