Locita

Bersediakah Mahasiswa Mengkritik Dirinya?

Ilustrasi (sumber foto: rantiang. com)

MOMEN sumpah pemuda yang jatuh hari ini di Tanah Air, membuat saya ingin berefleksi tentang masa bermahasiswa di Makassar dulu.

Tersebutlah oganisasi mahasiswa yang doyan demo di Makassar. Benderanya kerap berkibar-kibar di tengah jalanan atau di atas truk tangki yang disanderanya. Berita kesangaran kadernya terdengar sampai ke kampung-kampung, melalui berita di tivi, di koran, atau cerita-cerita mahasiswa di kampung saya.

Mereka konon bisa memalang jalanan, melumpuhkan separuh kota, memecahkan kaca mobil, menghancurkan lampu lalu lintas, dan merobohkan pos-pos polisi.

Mereka juga bisa menyemprot dengan kata-kata dari dua sumber: dari kebun binatang dan air comberan. Tanpa dipilih dan dipilah. Setiap kata melompat sesukanya dari mulutnya yang katanya kaum intelek berpendidikan. 

Beritanya sampai pula ke telinga-telinga orang tua kami di kampung. Mereka mewanti-wanti. Ada pula yang melarang anaknya kuliah ke Makassar karena khawatir ikut-ikutan.

Saya bersyukur, orang tua saya yang memang tak tahu baca tulis, tak ada urusan dengan segala kabar demo anarkis itu. Tetapi tetap saja, berita ini mempengaruhi pikiran saya.

Empat semester berlalu. Saya masih setia dengan janji tak akan masuk organisasi itu. Tetapi ada kegelisahan yang terus mendorong untuk mengikuti pengaderannya.

Sebab senior dari organisasi ini yang saya kenal baik, meski amat sedikit tetapi mereka idealis, kritis, dan suka membaca. Saya percaya mereka yang suka demo anarkis itu terkena pengaruh lain, terutama kader unyu-unyu talekang (Bahasa Makassar: sok-sokan).

Malam pertama, saya datang agak terlambat. Saya masuk ke sebuah ruangan. Seorang senior berteriak-teriak di depan seperti yang selalu saya lihat ketika demo.

Para calon kader sepertinya semester awal. Setiap dari mereka mengangguk-ngangguk. Seingat saya materi malam itu adalah tentang logika. Tetapi saya bisa menebak arah kakanda senior itu. Beberapa kali ia berteriak demo, demo, dan demo. Teriakannya disambut para calon kader  “Allahu Akbar..Allahu Akbar.”

Kakanda itu mengenal saya. Ia berusaha menguji dan memutar logika saya. Tentu ia tidak akan bersedia salah apalagi kalah. Seperti tipikal senior pada umumnya, ia selalu mengira mengetahui segalanya.

Dan para calon kadernya tak tahu apa-apa. Persis tipe senior arogan yang selalu mengira setiap kata-katanya adalah kebenaran.

Saya meninggalkan pengaderan malam itu dan memilih tidak datang lagi. Saya tidak mendapatkan apa-apa selain provokasi demi provokasi. Saya hanya mendapat kesediaan mengkritik tanpa kesediaan untuk dikiritik apalagi mengkritik diri sendiri.

Saya kini mengerti mengapa mereka dengan begitu mudah menyemprot tetapi tidak bersedia mengakui kesalahan sendiri.

Suatu kali saya menulis kritikan pada sebuah organisasi kemahasiswaan ketika Saut Situmorang, Wakil Ketua KPK, mengkritik mereka.

Saut pun meminta maaf dan saya bertanya balik, lalu kapan mereka juga meminta maaf? Apa yang terjadi? Beberapa kadernya yang juga junior yang saya tahu benar kadar kemalasannya,

tiba-tiba kehilangan kesantunannya dan menyerang dengan kata-kata yang dalam konteks Bugis-Makassar tidak sopan, kalau bukan kurang ajar. Tetapi saya tidak heran.

Ketidakbersediaan dikritik dan merefleksi diri adalah hasil dari pengaderan yang melulu hanya menuntut. Kritis keluar tetapi tumpul ke dalam diri.

Mereka dengan begitu berani mengkritik pemerintah apa yang telah dilakukannya tetapi tidak bersedia bertanya pada dirinya sendiri target apapula yang telah mereka capai.

Setiap tahun mereka berdemo meminta presiden mundur karena dinilainya tidak becus tetapi mereka juga tidak bertanya-tanya setiap tahun apa yang telah mereka raih. Mereka meneriakkan presiden mundur sebelum sampai habis periodenya sementara ia sendiri tak kunjung selesai dan terancam drop out.

Mereka berani berteriak pemerintah sana dan sini tak tahu malu, tak punya siri’ (Bugis-Makassar: malu), tetapi mereka justru juga tak malu ketika mengemis-ngemis nilai pada dosen tanpa mau melalui proses.

“Di mana siri’mu (rasa malumu) sebagai lelaki mengemis nilai pada saya sementara kamu tidak pernah mengikuti mata kuliah saya?” Kata Dosen L. pada maahasiswanya,  menirukan ucapannya pada saya di suatu waktu.

Mahasiswa malu ketika mereka diserang dan tidak balik menyerang tetapi mereka tidak malu ketika mahasiswa seberang menghasilkan karya dan mereka hanya nongkrong di kafe sepanjang hari.

Mereka malu ketika tidak ikut berdemo menghujat pemerintah tetapi tidak malu ketika mahasiswa di luar negeri telah berhasil membuat inovasi baru dan mereka masih begitu-begitu saja. Mereka tidak malu saat sarjana berfoto ria dengan wallpaper buku-buku bertumpuk padahal tidak pernah dibacanya.

Kekritisisan mereka seringkali melampaui diri hingga lupa diri. Pun begitu dengan mereka yang apatis. Selalu berharap dengan cara-cara instan. Selalu berharap mengubah dengan berteriak-teriak pakai otot leher agar dibilang keren, dipuja dan dipuji, disertai gemuruh tepuk tangan.

Sebab menghasilkan karya yang harus melalui serangkain eksperimen, setumpuk bacaan, menghabisan sekian waktu di perpustakaan untuk riset membutuhkan proses yang panjang. Sebuah jalan yang sepi dari tepuk tangan. Sementara mereka butuh eksistensi agar dibilang keren.

“Tahun 1998 adalah masa ketika mahasiswa merasa pahlawan ketika pergi ke jalan demonstrasi.” Kata Aan Mansyur di Mata Najwa. Sebuah situasi yang masih relevan saat ini. Mahasiswa merasa hebat sekali ketika berteriak-teriak. Baginya yang demikianlah itu adalah prestasi dan kebanggaan.

Memang lebih mudah berteriak di parlemen jalanan daripada presentasi di forum-forum internasional. Di panggung di tengah jalan, mereka bisa berteriak dengan kata-kata yang kasar seperti anjing atau taik tetapi di seminar-seminar internasional mereka harus berbahasa internasional, Bahasa Inggris misalnya.

Lebih mudah mencetak spanduk daripada menulis artikel. Lebih mudah berteriak di jalanan tetapi bibir dan lidahnya sudah gemetar saat baru presentasi di hadapan penguji skripsinya.

Jika demonstrasi memberi kemajuan bangsa, rasa-rasanya kita telah berdemo sejak hampir 20 tahun lalu. Toh kita tetap masih tertinggal. Energi habis untuk hal-hal yang tidak produktif dan tidak substansial.

Kemajuan bangsa lain yang terus berkembang mestinya membuat kita malu, bertanya-tanya, dan menggeledah diri. Jangan sampai kita sendiri adalah bagian dari masalah bangsa ini. Sehingga kebijakan sebaik apapun tak akan diakuinya.

Misal, pemerintah telah menggelontorkan uang negara sampai triliunan untuk mengirim putra putri terbaik bangsa berkuliah di dalam dan luar negeri melalui beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).

Tahun 2017 bahkan disediakan 22,5 triliun. Tujuannya jelas. Mengejar ketertinggalan dan memberikan peluang pemuda terbaik menampilkan diri dan Indonesia di dunia internasional. Tentu ada sejumlah persyaratan agar sampai ke sana.

Tetapi untuk mendapatkan dan memenuhi syarat memang harus berjuang, bekerja dan belajar keras. Satu hal yang memang tidak akan dapat diraih oleh mahasiswa pemalas. Tipikal mahasiswa yang melulu menyalahkan keadaan.

Di momen Sumpah Pemuda ini, di samping berdemo mengkritik pemerintah, apakah mereka juga bersedia mengkritik diri sendiri?

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.