Locita
Sumber: Tribunews

Berjihad Membela Ustaz Rocky Gerung

SAYA benar-benar tersesak oleh perbincangan “every day Rocky Gerung” di facebook beberapa hari ini. Selayaknya dalil yang berlaku umum, bahwa siapapun yang menjadi selebritis, maka bersiap-siaplah dihujat sekaligus dipuja.

Dalil itu terkonfirmasi dari surplus kekaguman orang-orang yang diuntungkan dengan akrobat diksi Rocky. Tak sedikit pula amuk batin dari orang-orang yang merasa dirugikan atas pernyataan Rocky.

Keuntungan dan kerugian orang-orang yang terpapar dari sabda Rocky Gerung itu tidak bisa dipisahkan dari tarik-menarik kepentingan dalam kontestasi politik pilpres saat ini.

Saya haqqul yakin para pemirsa sudah mahfum siapa Rocky Gerung dan kecenderungan arah afiliasi politiknya. Sekalipun berbaju pengamat politik, memakai cover sebagai filsuf, tapi kita menyaksikan Rocky senantiasa melempar bola panas untuk menyengat Jokowi.

Di sisi lain, Prabowo disakralisasi oleh Rocky. Kecuali kalau Rocky mengapresiasi sekaligus mengkritik kepada kedua pasangan itu secara berimbang, barulah dikatakan sebagai pengamat yang kaffah. Jika kita mengatakan bahwa terjadi ‘konspirasi kemakmuran’ – made in Vicky – antara Rocky dengan kubu Prabowo, sungguh faktual, bukan fiksi.

Bahasa politik, gestur, dan pesan-pesan propagandis dalam komunikasi politik Rocky selama ini memberikan sinyal kepada kita, kemana gerangan dia berkiblat. Ia mengapitalisasi kegenitan filsafatnya untuk menghantam Jokowi.

Sia-sialah kita menanti pencerahan etis-filosofis dari Rocky untuk membangun keadaban publik dan membela kemanusiaan. Malah yang muncul kosakata vulgar seperti dungu, IQ 200 sekolam, plangak-plongok untuk melakukan dehumanisasi. Sia-sia pula kita mengharapkan Rocky berlaku sebagai mahaguru yang bijak, terlebih dia sebagai pembelajar filsafat.

Justru, dari mulut Rocky menyembur “kitab suci adalah fiksi”. Ini pernyataan berbahaya. Sudah jelas dan dzahir, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fiksi artinya rekaan, khayalan, tidak berdasarkan kenyataan. Wahai orang-orang beriman, maukah kalian kitab sucimu disebut rekaan dan khayalan?

Bahwa kitab suci adalah adalah fiksi, menurut atheis dan domba tersesat atau dholalah, tidak masalah. Itu domain privasi dia. Tapi ini tanda lampu merah bagi kaum beriman, manakala operasi pendangkalan aqidah ini tidak dijernihkan.

Anehnya, angry believers yang gampang kepanasan jika kitab suci agamanya diobok-obok, malah membelai diri dengan jurus 212 wiro sableng. Untung saja Rocky sudah dianggap anggota jemaat mereka. Mungkin juga Rocky kecipratan ‘karomah’ dari Rizieq Sihab.

Tak usah menyembunyikan kebatilan. Mau kitab suci mana lagi kalau bukan Al-Qur’an (Islam), Injil (Kristen, protestan maupun katolik), Weda (Hindu), Tripitaka (Buddha), Wu Jing – Si Shu – Xiao Jing (Konghuchu). Bahkan semua kitab suci agama-agama di dunia ini.

Sebagai seorang muslim, saya meyakini bahwa kitab suci (Al-Qur’an) adalah kalamullah, wahyu, pesan langit lintas dimensi. Bukan fiksi. Sayangnya, saya belum mendapat ‘hidayah’ untuk berunjuk rasa di Monas. Apa yang bisa kita pelajari dari fenomena ini?

Ternyata proyek ‘penistaan agama’ bukan lagi soal apa yang terkatakan (pesan atau isi), tapi siapa yang mengatakan (komunikator). Tapi Rocky sebagai pemain politik, sudah jelas dia mengatakan apa dan untuk melayani siapa.

Perlu digarisbawahi, bahwa siapa pun berhak mendukung blok politik mana pun. Itu hak warga negara yang dijamin konstitusi. Saya pribadi sekadar berikhtiar menelisik beberapa dugaan mengapa begawan forum demokrasi ini berdiri di (o)posisi itu.

Gelagat filsuf sekaliber Rocky, semenjak berkencan ria dengan kaum bigot terkesan sangat “tidak Rocky”. Dia mestinya membangunkan kelompok fanatik itu dari tidur dogmatisnya. Malah massa-domba itu terkesan ditepuk-tangani. Anomali Rocky terasa sangat “tidak Bung Karno”, dan sangat “tidak Gus Dur”.

Mustahil bagi pendiri Setara institute ini tidak sadar bahwa “kamar baru” yang ia tempati itu sangat kental dengan “image” garis-garis intoleran dan radikal-konservatif.

Kalau melihat jejak rekamnya sebagai pendekar Forum Demokrasi, rasa-rasanya sangat “Rocky banget” manakala ia bersama kaum progresif-moderat ikut mengerem laju kebangkitan populisme kanan konservatif.

Namun jauh panggang dari api, justru Rocky kehilangan mata hati budaya, tidak ikut meredam tren politisasi isu SARA dan semarak hoax. Malah secara mengejutkan, dia memunculkan tesis “hoax adalah bagian dari demokrasi”.

Pemantik apa yang membuat kesadaran (consciousness) Rocky terasa dikekang oleh ketidaksadaran (unconsciousness)?

Inilah pesta new Rocky dan Rockyisme. Rockyisme adalah ajaran yang memadukan filsafat sebagai komoditas dan badut politik sebagai lakon.

Filsafat yang sejatinya luhur, dieksploitasi dan diseret oleh Rocky ke kubangan politik yang penuh intrik. Filsafatainment terpatri di panggung politik, saat rocky memperdagangkan filsafat untuk menghibur penonton. Bukan entertainisasi yang memancar sebuah pencerahan baru (epiphany), tapi discomfort humor, dan parade arogansi.

Kekonyolan Rocky berlanjut untuk memanipulasi kesadaran massa lewat politisasi filsafat. Sebagai kekasih media, Rocky berkehendak membuat penonton tertawa, tapi gagal kecuali memantik tawa dari pinggiran. Itupun tawa pelipur lara yang terhipnotis dengan konser biduan filsafat yang merasa pintar, tapi tidak pintar merasa. Itulah lakon badut politik.

Ijinkan saya membagi Rocky Gerung ke dalam dua kategori: Rocky Old dan Rocky Now. Kategorisasi itu bukan soal perjalanan usia biologis, tapi bagaimana terjadi pergeseran haluan dari Rocky Old yang progresif-moderat ke Rocky Now yang setback sebagai peternak bigot.

Rocky Old adalah bhayangkara pluralisme total yang disiplin membabat kaum bigot. Sementara Rocky Now adalah pemandu konvoi politik belaka, mempolitisasi kredo akal sehat sepihak. Seumpama Prabowo menang, Rocky bisa saja menjadi menteri, katakanlah menteri agama RI.

Tetapi sejatinya pada saat itu Rocky Old yang panembahan mengalami pingsan yang serius, terbonsaikan oleh Rocky Now yang membiarkan kelompok intoleran merajalela. Jika itu yang terjadi, artinya Rocky bukan lagi filsuf, tapi fulusuf yang menganut manhaj fulusiyah.

Kita membutuhkan kesabaran panjang. Jokowi diganti adalah rukun iman Rocky. Taruhlah Prabowo menang, barulah jiwa raga politik Rocky terbongkar seutuhnya, apakah ia akan terus menempuh jalan oposisi, atau justru malah tanpa huruf dan tanpa suara. Hikayat pergulatan iman politik Rocky belum berakhir.

Kini, Rocky sedang berurusan dengan kepolisian, menyoal pernyataannya “kitab suci adakah fiksi”. Tapi sayang, ini bukan kasus orang-orang di luar jemaatnya. Kurang ramai dengan pesta demonstrasi besar-besaran. Hanya sebatas: Yes Rocky, No Party.

Meskipun begitu, saya kurang sepakat kalau Rocky dipidana karena opininya itu. Selain belum mendapat ‘hidayah’ tadi, tapi juga akan menjadi preseden yang buruk dalam diskursus intelektual di negeri ini.

Itu sekadar argumentasi seorang Rocky, yang harus dijawab dengan kontra-argumentasi pula. Pada titik ini, kita berjihad membela Ustaz Rocky Gerung.

Saya hanya menangkap secercah ‘hidayah terselubung’, bahwa sekelompok orang yang terbiasa mengharamkan filsafat, tiba-tiba menjadi filsuf part-time berkat faktor Rocky. Sekelompok orang yang selama ini meminggirkan akal sehat, tiba-tiba menjadi pemuja akal sehat berkat faktor Rocky.

Jalaluddin Rumi berkata “di tengah tumpukan sampah, dia (sufi) dapat melihat intisarinya”. Ini renungan untuk semua. Takbir!

Mawardin

Mawardin

Alumnus FISIP Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UNHAS, Makassar. Pernah jadi peneliti di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Saat ini bekerja di Charta Politika Indonesia.

3 comments

  • suatu tulisan yang menarik dan dapat membuka nalar putra-putri bangsa, untuk sang penulis yang Sedang berkelana mengembara di alam filsuf..
    semoga lancar, sukses dan selamat

  • Tulisan yg sangat mengundang pola pikir kita hatus berpikir bijak tp disisi lain juga kita di paksa haru berpikir politis. Maksud sy adalah semoga penulis tdk segang menjalankan misi politis dgn menentang Akal sehat. Kana justru terpengaruh oleh Kapital.

Tentang Penulis

Mawardin

Mawardin

Alumnus FISIP Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UNHAS, Makassar. Pernah jadi peneliti di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Saat ini bekerja di Charta Politika Indonesia.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.