Locita
Rimpu, cadar ala Bima (Sumber foto: Nalar Politik)

Berjihad Lewat Gunung Dua di Raba Ala Orang Bima

KADANG saya ditanya oleh lenga-lenga (kawan-kawan) dari luar Bima, “Apa benar susu kuda liar Bima bisa bikin pria tambah kuat saat berhubungan seksual?”

Jawaban terhadap pertanyaan itu tidak mada (saya) umbar disini. Itu sekadar pengantar bahwa “ramuan” susu jara (kuda) kerap diasosiasikan dengan Bima. Tapi…

Tapi, kekeliruan orang di luar Bima kadang mada temui (mungkin mereka sering bolos saat mata pelajaran Geografi), Bima dikatai di NTT, alaooo… Bima itu di NTB, masbro. Bahkan Bima disangka bersemayam di Tanah Jawa. Mungkin dikira punya kaitan dengan legenda Sang Bima dalam kosmologi pewayangan Jawa.

Lebih parah lagi soal Sumbawa dan Sumba. Kadang Sumbawa disebut NTT, Sumba disebut NTB. Oeee Sumba itu di NTT, dan Sumbawa di NTB cinaeee. Beginilah nasi(b) jadi Sunda ketjil, eh jadi bubu’. Kasi dulu globe dan qahwa itu doueee…

Kembali saya bertanya, apa yang terlintas dalam piki(r) ndai dohomu (kalian) ketika mendengar ‘Bima’, atau orang Bima (dou Bima)? Menurut firasat mada, selain susu jara tadi, kemungkinan yang terlintas, yaitu madu, pacuan kuda, gunung tambora, ndempa (tradisi kekerasan), pulau ular, dan rimpu (cadar ala Bima), mungkin juga Hamdan Zoelva, Anwar Usman dll.

Kalau versi serius, yang disebut di atas benaaar ceim.

Lembo ade (sabar), cinaeee. Ini ada bonus tambahan tentang Bima, yaitu Kuku Bima energi. Tapi ini versi lucu saja. Yang serius-serius, biarlah itu lahannya cebong probono vs kampret probono.

Sebelum saya masuk ke pembahasan yang mencengangkan ini, alaoo…, ijinkan saya memberi tahu bahwa karakter nggahi mbojo (bahasa Bima) lazimnya tidak punya konsonan di akhir kata. Kadang sebuah kata dibelokkan sebagian berdasarkan unsur bunyi.

Misalnya kata ‘Pikir’ (Bahasa Indo) jadi fiki, jarang jadi jara, daeng jadi dae, Dhihram jadi Dhira (bukan adira finance), Mayang Sari jadi Maya Sari, cebong jadi cebo, kampret jadi kampe, dll.

Dari Kuku Bima Energi hingga “Gunung Dua Diraba”

Kelucuan itu tergambar dalam sebuah cerita dari sang entah. Alkisah, beberapa orang dari suku yang berbeda berhimpun di restoran Jepa, alaeee, kere(n). Para ‘penjahi’ tenunan kebangsaan itu memesan minuman sesuai bahasa lokal masing-masing.

Dou Bima pesan Kuku Bima energi, dou Makassar pesan Krating-Daeng, dou Buton pesan La-segar, dou Papua pesan Ale-ale, dou Jawa pesan mari-Mas, dou Sunda pesan Teh-manis. Alaeee…

Bima juga identik dengan dou isla, bahkan disebut-sebut sebagai sarang muslim fanatik.

Ada cerita lucu begini. Seorang pejuang khilafah mengendarai Honda (dou Bima selalu sebut Honda, untuk motor sedunia). Mau Yamaha, Suzuki, tetap disebut Honda.

Pengendara Honda tadi, kemudian ditahan oleh Polantas. Masalahnya sepele, tapi sungguh kocak bil hikmah wal hasanah. Pejuang khilafah itu tidak pakai helm, cuma pakai kopiah dan sorban.

“Bumi ini milik Allah, jangan tahan ana, pa polisi,” kata orang itu.

“Ini demi keselamatan pa usta, harus pakai helm,” jawab polisi.

“Tidak, saya tidak mau tunduk pada hukum buatan manusia,” timpal pejuang khilafah itu.

Iraeee…

Lucunya lagi. Lokasi Polantas itu: Gunung Dua di Raba. Buat para hakim bahasa, jangan tuduh mada tak ngerti tata bahasa yang benar. Gunung Dua di Raba (kecamatan) adalah alamat kantor Polres Kota Bima. Memang di Raba, ada dua buah gunung yang berdampingan, sehingga dinamai Gunung Dua.

Jadi, Raba adalah sebuah tempat, bukan kata kerja. Makanya mada tak nulis “diraba”. Jikalau tertulis “Gunung Dua Diraba”, mau dibawa kemana bangsa ini? Mau ketawa tapi takut Sigmun Freud.

Oh ya, maaf sekadar mengingatkan. Dou Bima itu akrab dengan Cina. Mereka saling menyapa saudara dan kawan-kawannya dengan sebutan cina (saudara). Oee cina. Jadi, orang Bima tidak anti Cina.

Tragedi Dou Bima

Ndai dohomu masih inga tragedi Cikini tahun 1957? Itulah peristiwa tragis bagaimana Bung Karno diteror oleh sekelompok pemuda Islam fanatik asal Bima. Saya tak tahu pasti apa dan mengapa terjadi percobaan pembuhuhan terhadap Presiden RI Pertama itu.

Coba tanya ke jawara sejarah: Bonnie Triyana.

Di ranah lokal pun begitu. Kantor Bupati Bima dalam sekejap hangus dibakar massa demonstran asal Sape-Lambu, 26 Januari 2012 silam. Pasalnya, mereka menolak izin pertambangan terbitan bupati berdarah biru kala itu. Adapun darah rakyat mengandung hemoglobin. Edeee…

Santabe ta cari tahu info tentang Bima di googe, ndai dohomu akan bergidik ngeri. Berita tawuran antar kampung adalah potrem buram wajah Bima. Mada juga turut bersedih mendengar kabar bahwa sekelompok anak-anak muda Bima yang sedang “puber” ideologis, tak sedikit yang melakoni migrasi ‘jihad’ ke Poso. Iraeee…

Namun demikian, tidak semua dou Bima menempuh jalan “radikal”. Bima tidak selebar layar kaca di uma mu. Bima juga punya tradisi spiritual-lokal yang sufistik. Dari semak-semak kesunyian, mereka bersemedi, mendekatkan diri aka Ruma ra tala (Allah ta’ala).

Penempuh jalan ini ibarat oase di tengah stereotyping dou Bima garis keras. Sebagian antropolog-agama pengkaji Bima menyebut tradisi ini dengan istilah Fitua (tasawuf lokal). Sebuah warisan spiritual berharga dari Sehe Abdul Gani Al-Bimawi: guru besar di madrasah Haramayn Mekkah sekitar abad ke-18 yang kelak menjadi moyang ulama nusantara.

Ada lagi anekdot bahwa dou Bima tercatat dalam Al-Qur’an. Bunyinya: Bima ta’ malun: Bima tak malu-maluin. Aaamiiin !

Asli na: QS: Al-Hujurat:18, “Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. Ede ku di tafaku mu.

Ndai dohomu perlu tahu, bahwa daerah bersuhu panas tersebut tidak melulu ndempa (tradisi kekerasan) fisik, tapi juga ndempa intelektual, dan ndempa politik. Dari negeri dua belas matahari ini, terdapat pula bintang cemerlang yang ikut menyalakan cahaya bagi republik ini.

Di tangan dou Bima seperti Hamdan Zoelva, sengketa cebo vs kampe saat pilpres 2014 lalu, terselesaikan tanpa bercak-bercak darah. Kalau pun terjadi lagi perputaran badai pilpres 2019 ini, mudah-mudahan bisa dilalui secara mulus di tangan dou Bima (Anwar Usman: ketua MK sekarang). Masih banyak ma ka laina.

Inga, jangan lupa pas caki (tusuk) pilpres April 2019 nanti, rasakanlah keampuhan serangan fajar setelah minum susu jara. Cakiii…

Mawardin

Mawardin

Alumnus FISIP Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UNHAS, Makassar. Pernah jadi peneliti di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Saat ini bekerja di Charta Politika Indonesia.

Add comment

Tentang Penulis

Mawardin

Mawardin

Alumnus FISIP Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UNHAS, Makassar. Pernah jadi peneliti di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Saat ini bekerja di Charta Politika Indonesia.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.