Locita

Berhentilah Bertanya Kapan Hamil, Please..!!!

ilustrasi (www.google.com)

Secara umum setiap manusia pasti ingin menikah dan membina rumah tangga, dari pernikahan itu ada harapan memiliki keturunan. Tapi, apakah pernikahan itu ‘hanya’ sebatas punya anak? Sehingga semua orang, terutama orang dekat kita, mulai dari Bapak, Ibu, saudara kandung dan semuanya itu enteng bertanya, “Kapan Hamil?”. Padahal tidak semua orang bisa menerima dengan damai dari pertanyaan itu.

Pertanyaan sejenis ini seringkali menusuk psikologi perempuan, wajar kita sadar atau tidak sering bertindak patriarki, termasuk saya sendiri, mungkin. Kita perlu ingat, pertanyaan menyakitkan sebelum “Kapan Hamil?” adalah “Kapan Menikah?”, setelah dua tahap ini lanjut ke pertanyaan, “Kapan Bikin Adek Lagi?” dan segudang pertanyaan lain yang gak pernah selesai. Tulisan ini saya batasi soal “Kapan Hamil?”, karena sudah banyak yang membahas soal “Kapan Menikah?”.

Sebenarnya, pertanyaan-pertanyaan di atas itu tidak hanya menyasar terhadap perempuan sih, tapi laki-laki juga bisa tersinggung juga lho. Memang karena pikiran patriarki masih terlalu dominan, sebagai laki-laki tulen, saya masih bisa ‘aman’ dari stigma negatif. Biasanya pertanyaan sejenis “Kapan Hamil” itu muncul setelah beberapa bulan pernikahan, dan akan selesai ketika seorang perempuan yang menjadi Istri dinyatakan positif hamil. Jika dalam waktu setahun, apalagi lebih tidak kunjung hamil, tamatlah perempuan itu dengan stigma negatif, meski tak langsung memvonis mandul.

Jelas situasi semacam ini selalu menjadi beban bagi pasangan suami istri, baik si laki-laki atau si perempuan. Memang sekali lagi, perempuan selalu menjadi sasaran pertama dari pertanyaan yang sebenarnya lebih dekat dengan bullying. Perempuan ketika selalu mendapat pertanyaan sejenis itu, pasti psikologisnya akan terganggu, sebab siapa sih perempuan yang mau dikatakan mandul? Secara umum mereka pasti ingin subur lalu punya anak.

Secara subjektif, saya berpikir tujuan pernikahan tidak melulu soal punya anak. Ketika memilih untuk menikah, karakter dari pasangan yang menjadi alasan utama. Dari karakter itu, saya bisa tahu bahwa baik saya maupun si doi bisa menjadi Istri atau Suami, dimana kata istri dan suami ini memiliki arti yang cukup kompleks. Ia akan menjadi seorang sahabat, partner dan segala bentuk positif dari sebuah hubungan manusia, yang hampir setiap waktu ada di dalam hidup kita.

Apalah arti seorang anak, jika pasangan kita tidak pernah selalu ada? Toh kebahagiaan itu tak bisa diukur oleh hadirnya anak di pangkuan suami-istri. Buktinya, banyak pasangan bercerai setelah memiliki anak. Jadi tujuan pernikahan itu ya kebahagiaan. Saya rasa Bapak, Ibu dan orang-orang dekat kita selalu menyuruh segera menikah pasti tujuannya agar kita bahagia. Tapi gimana caranya bahagia, jika psikologi keluarga kita selalu diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan itu?

Pertanyaan “Kapan Hamil?” lama-kelamaan juga bisa membuat laki-laki itu stress. Apalagi jika mereka bertanya dengan bahasa-bahasa yang berbau seksual, yang akhirnya semua berujung pada stigma negatif. Kalau perempuan akan menjurus ke mandul, seorang laki-laki merasa dipertanyakan ‘kelakiannya’. Parahnya mereka suka banget banding-bandingin dengan orang yang usia pernikahannya jauh lebih muda. Apalagi mereka juga sering bandingin dengan orang yang secara fisik meragukan, misal (maaf) idiot. Disitu saya pengen deh nonjok mukanya.

Padahal sepasang suami-istri tidak memiliki anak bisa karena beberapa faktor, setidaknya itu padangan saya pribadi. Contoh, pasangan memilih program KB karena kesiapan mental untuk memiliki anak belum cukup. Orang-orang yang suka usil, sering abai pada persoalan ini. Mereka anggap, siap mental untuk menikah sama dengan siapnya dengan memiliki anak, kan aneh. Jelas-jelas menikah itu membina rumah tangga yang isinya suami dan istri, dan memiliki anak itu membina suami, istri, plus anak.

Saya terangkan secara detail, mental siap menikah itu adalah mental kesanggupan menjalin hubungan antara laki dan perempuan, baik secara ekonomi, pondasi pikiran dan seterusnya. Intinya hanya ada dua orang dalam satu keluarga, suami menghadapi istri begitu pula sebaliknya. Dari situlah muncul kesepakatan dari keduanya program memiliki anak.

Ketika keluarga bertambah anak, maka jelas ada tanggung jawab baru dari mereka. Nah, kadang-kadang ketika bicara tanggungjawab ini, banyak yang enteng dengan bahasa “banyak anak banyak rejeki”. Saya mengerti teori itu, bahkan teori yang mengatakan “puncak sosial manusia adalah pernikahan, karena dari pernikahan akan ada yang namanya regenerasi sosial” pun paham. Cuma perlu digaris bawahi, jika tanggungjawab dimaknai sebatas kebutuhan ekonomi, itu dangkal sekali.

Kebutuhan seorang anak itu gak hanya urusan ekonomi, ya gak sih? Anak itu juga butuh kasih sayang, pendidikan dan yang lain. Nah, jika sudah bicara ini masih mau tanya soal “Kapan Hamil?”. Gimana caranya mendidik anak, memberi kasih sayang jika sepasang suami-istri belum sanggup? Entah itu dari segi ekonomi dan lainnya, atau ‘sekadar’ pasangan itu sedang menempuh pendidikan, misalnya.

Menurut saya, variabel utama yang harus terpenuhi dari sebuah keluarga sebelum memiliki anak ya kebahagiaan. Kebahagiaan itu tergantung dari sudut pandang masing-masing bagi yang menjalani. Ada juga kok yang kehidupannya sudah mapan, tapi mereka belum mau punya anak. Alasannya juga beragam, ada yang masih ingin menikmati kebersamaan dengan pasangan tanpa ‘gangguan’ dari seorang anak. Dan itu sah-sah saja. Ada juga pasangan yang menurut kita belum mapan udah punya anak dan mereka merasa bahagia.

Selain faktor kesiapan di atas, ada faktor vertikal (takdir) juga, lho. Kalau sudah urusan takdir, jelas kita tidak memiliki kuasa. Takdir kita bukan soal impotensi atau mandul, ya memang hak preogatif Tuhan. Ada banyak alasan secara medis yang membuat orang tidak kunjung hamil. Pembaca yang budiman tinggal search di google masing-masing, atau bertanya kepada dokter ahli kandungan terdekat. Banyak kok pasangan secara medis sehat, tapi mereka tidak diberikan keturunan, atau punya anak tapi lama.

Jadi gini pembaca yang budiman, program kehamilan itu tidak sama dengan orang mau bikin pancake. Kalau modelnya kayak bikin pancake, yang gak bisa bikin tinggal lihat youtube, beres. Lah ini mau program anak, konon anak itu titipan atau kepercayaan dari Tuhan. Terus kalau Tuhan belum percaya pada suatu pasangan, kita bisa apa? Mau protes?. Lagian kalau sudah punya anak, terus didikan anaknya itu tak sesuai dengan prinsip mereka yang bertanya, pasti protes lagi. Jadi, berhentilah bertanya kapan hamil, please.!!!

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Tentang Penulis

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.