Locita

Benarkah Ganja Menyebabkan Gangguan Kejiwaan?

Alex Berenson mengatakan obat tersebut menyebabkan ‘peningkatan tajam dalam kasus pembunuhan dan penyerangan’. Sebagai ilmuwan, kami menemukan bahwa klaimnya salah informasi dan ceroboh

Apakah ganja menyebabkan gangguan kejiwaan (psikotik) seperti skizofrenia, dan apakah gejala terkait seperti paranoia mengarah pada kekerasan?

Itulah yang diklaim oleh penulis Alex Berenson. Sebagai bagian dari promosi buku barunya, Berenson menerbitkan essai di op-ed New York Times yang juga menyalahkan ganja sebagai alasan “peningkatan tajam dalam kasus pembunuhan dan penyerangan” yang konon diamati di beberapa negara yang memperbolehkan penggunaan ganja sebagai sarana rekreasi orang dewasa.

Sebagai ilmuwan dengan pendidikan selama 70 tahun lebih mengenai obat-obatan terlarang dan penelitian tentang zat-zat psikoaktif, kami menemukan pernyataan Berenson sebagai informasi yang salah dan ceroboh.

Memang benar bahwa orang yang didiagnosis dengan gangguan kejiwaan lebih mungkin melaporkan penggunaan mariyuana di saat gejala atau sebelumnya dibandingkan orang tanpa gangguan kejiwaan. Kesimpulan paling mudah adalah bahwa penggunaan ganja menyebabkan peningkatan risiko psikosis, dan itu adalah jawaban yang diambil Berenson.

Namun, tesis ini mengabaikan bukti bahwa perilaku psikotik juga dikaitkan dengan tingkat penggunaan tembakau yang lebih tinggi, dan dengan penggunaan stimulan dan opioid. Apakah semua hal ini “menyebabkan” psikosis, atau adakah jawaban lain yang lebih masuk akal?

Dalam beberapa dekade pengajaran perguruan tinggi kami, salah satu hal paling penting yang kami coba berikan kepada siswa kami adalah perbedaan antara korelasi (dua hal yang terkait secara statistik) dan sebab-akibat (satu hal menyebabkan hal yang lain). Misalnya, pemakaian pakaian ringan lebih mungkin terjadi pada bulan-bulan yang sama dengan penjualan es krim yang meningkat, tetapi tidak dapat dipercayai bahwa salah satu hal adalah penyebab hal yang lain.

Dalam tinjauan literatur ekstensif kami pada tahun 2016, kami menyimpulkan bahwa orang-orang yang rentan terhadap pengembangan psikosis (yang biasanya tidak muncul sampai sekitar usia 20) juga rentan terhadap bentuk-bentuk lain dari perilaku bermasalah, termasuk kinerja akademik yang buruk, berbohong, mencuri, dan penggunaan awal berbagai macam zat pskikotropika, termasuk ganja.

Banyak dari perilaku ini muncul lebih awal dalam masa perkembangan, tetapi fakta bahwa satu hal terjadi sebelum yang lain juga bukan bukti sebab akibat. (Salah satu kesalahan logika standar yang diajarkan di kelas logika: setelah ini, karena itu, karena ini.)

Juga perlu dicatat bahwa peningkatan 10 kali lipat dalam penggunaan ganja di Inggris dari tahun 1970-an hingga 2000-an tidak dikaitkan dengan peningkatan tingkat psikosis selama periode yang sama ini, bukti lebih lanjut bahwa perubahan penggunaan kanabis pada populasi umum tidak mungkin berkontribusi terhadap perubahan psikosis.

Bukti dari penelitian ini memberi tahu kita bahwa agresi dan kekerasan adalah hasil yang sangat tidak mungkin dari penggunaan ganja. Berdasarkan penelitian laboratorium kami sendiri, dimana kami telah memberikan ribuan dosis marijuana kepada orang-orang – dengan hati-hati mempelajari tanggapan otak, perilaku, kognitif, dan sosial mereka – kami belum pernah melihat peserta penelitian menjadi kasar atau agresif ketika berada di bawah pengaruh obat seperti yang dikatakan Berenson.

Efek utama dari merokok ganja adalah kepuasan, relaksasi, sedasi, euphoria, dan peningkatan rasa lapar. Namun, konsentrasi THC yang sangat tinggi dapat menyebabkan paranoia ringan, distorsi visual dan / atau auditori, tetapi bahkan efek ini jarang terjadi dan biasanya hanya terlihat pada pengguna yang sangat tidak berpengalaman.

Ada satu poin lebih luas yang perlu diperhatikan. Pada 1930-an, banyak laporan media membesar-besarkan hubungan antara penggunaan ganja oleh orang kulit hitam dan kasus kejahatan kekerasan.

Selama dengar pendapat kongres mengenai regulasi obat, Harry J Anslinger, komisaris Biro Federal Narkotika, menyatakan: “Marijuana adalah obat yang paling menyebabkan kekerasan dalam sejarah umat manusia.” Ia memaksa.

Namun sayangnya, pemalsuan ini digunakan untuk membenarkan diskriminasi rasial dan untuk memfasilitasi pengesahan UU Pajak Marijuana pada tahun 1937, yang pada dasarnya melarang obat tersebut. Seperti yang kita lihat, retorika kegilaan di masa lalu tidak hanya menguap; namun berlanjut dan berevolusi, melahirkan dirinya kembali dengan mungkin bahkan lebih kuat hari ini.

Ada beberapa kasus baru-baru ini di mana petugas polisi mengutip bahaya fiktif yang ditimbulkan oleh ganja untuk membenarkan tindakan mematikan mereka. Philando Castile, dari St Paul, Minnesota, pada 2016; Michael Brown, dari Ferguson, Missouri, pada 2014; dan Keith Lamont Scott, dari Charlotte, North Carolina, pada tahun 2016 semuanya dibunuh oleh polisi yang menggunakan beberapa versi pertahanan palsu ini.

Ramarley Graham, Trayvon Martin, Rumain Brisbon, dan Sandra Bland semuanya juga kehilangan nyawa akibat interaksi dengan penegak hukum (atau wakilnya) yang diinisiasi dengan dalih kecurigaan penggunaan ganja.

Kembali pada tahun 1930-an, ketika hampir tidak ada data ilmiah tentang ganja, pejabat rasis dan bodoh secara berlebihan mempublikasikan akun anekdotal dari bahaya ganja dan dipercaya orang-orang. Hampir 90 tahun dan ratusan penelitian kemudian, tidak ada alasan untuk bersikap berlebihan atau menarik kesimpulan yang tidak tepat bagi Berenson. Tidak ada dalam diskusi serius tentang sains atau kebijakan publik – yang berarti tidak juga bagi Berenson.

====

Diterjemahkan dari “Does marijuana use really cause psychotic disorders?” oleh Carl L Hart dan Charles Ksir. The Guardian, 20 Januari 2019

Carl L Hart adalah ketua dan profesor bidang psikologi dan psikiatri Ziff di Universitas Columbia dan penulis High Price: A Neuroscientist’s Journey of Self-Discovery that Challenges Everything You Know About Drugs and Society. Charles Ksir adalah profesor emeritus psikologi dan neurosains di University of Wyoming dan penulis Drugs, Society and Human Behavior.

Avatar

farraaziza

Tentang Penulis

Avatar

farraaziza

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.