Locita

Benarkah Buku Itu Buku atau Manusia

Ilustrasi (sumber foto: https://himawanlivepage.files.wordpress.com)
Ilustrasi (sumber foto: https://himawanlivepage.files.wordpress.com)

APAKAH buku itu buku atau manusia? Demikian tanya yang ditujukan seorang kawan kepada dirinya sendiri yang dengan atau tanpa disadari ternyata mengusikku dan barangkali warganet lain.

Kawanku itu menulis pertanyaan yang menjadi muasal gundah di kilas cerita akun Whatsapp-nya yang konon dan bukan hanya konon terhubung dengan puluhan bahkan ratusan akun milik orang lain. Entah teman entah keluarga entah sejawat di lini kerjanya.

Temanku itu jelas pembaca-pecandu buku. Itu kenyataan yang tidak bisa dianulir. Memang demikian adanya.

Aku tahu persis, bagi kawanku – sebagaimana pembaca-pecandu buku umumnya, buku-buku tidak bisa bahkan tidak boleh dianggap sekadar buku.

Buku melebihi makna definitif-harafiah bila kita mau telusuri pengertian itu katakanlah melalui Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) daring.

Menurut KBBI versi mutakhir itu, buku sekadar lembaran kertas yang berjilid baik berisi tulisan atau bahkan bisa juga kosong.

KBBI benar tapi tetap kurang pener–merunut istilah orang Jawa–bagi pembaca-pecandu buku macam kawanku tadi dan barangkali kemudian juga bagi pribadiku. Entah bagaimana proses internalisasi yang kami lalui.

Sehingga buku-buku mewujud sebagai liyan yang kerap melampaui nilai diri sendiri, menjadi kawan yang kerap kami rasa paling rendah hati menguliti satu per satu kebodohan kami.

Kadang melampaui tugas-kewajiban orangtua sebagai pendidik di dalam keluarga, melampaui narasi-narasi dosen yang disampaikan di kelas perkuliahan.

Buku membuat para pembacanya kerap abai pada kebutuhan makan, sandang, barangkali juga kelayakan papan. Buku lantas menjadi kawan paling dekat selain kematian.

Kehadiran buku-buku bagi kehidupan para pembacanya barangkali mirip kehadiran wahyu bagi para nabi dalam ajaran Islam. Aku masih ingat betul pelajaran Agama Islam semasa Sekolah Dasar (SD) dahulu.

Kata guruku, nabi ialah orang pilihan Tuhan yang diberi wahyu tetapi tidak wajib menyampaikannya kepada orang lain – dalam hal ini umat. Sementara rasul wajib menyampaikan setiap wahyu Tuhan kepada umatnya.

Maka, pembaca buku ini lebih mirip nabi, bila mau mengandaikan buku-buku yang dibacanya sebagai wahyu.

Para pembaca lebih kerap membincangkan serta merefleksikan wahyu-wahyu dalam buku dengan dirinya sendiri, meski sesekali juga mendiskusikannya dengan orang lain.

Buku-buku yang Menghidupi

Jonathan Safran Foer, melalui Eating Animals (2009) membuatku bergidik membayangkan-merenungkan santapanku selama ini.

Menyelesaikan buku setebal 316 halaman beserta data singkat penulisnya itu, membuatku mengubah perlahan-lahan pilihan makananku.

Sore hari, hanya berselang beberapa jam usai aku mengkhatamkan buku itu, aku mengganti pilihan sambal teri dengan sambal biasa (tanpa teri). Aku bergidik melihat telur dadar berada di deretan sayur yang aku beli.

Mataku sinis memandang ikan asin di sampingnya. Aku ingat narasi Safran Foer, memutuskan apa yang dimakan (dan apa yang dibuang) adalah tindakan dasar produksi dan konsumsi yang membentuk segala yang lain.

Hal yang demikian juga sempat kualami ketika aku rampung membaca Vegetarian yang ditulis Han Kang pada 2017. Sebagai spesies manusia, aku yakin telah menyakiti – kalaupun lebih kerap tidak secara langsung – hewan-hewan. Padahal hewan-hewan juga sama seperti manusia.

Kawanku yang lain, yang juga membaca Vegetarian jadi lebih sering tidak memakai bra. Seperti tokoh Young-hye yang percaya bahwa bra ialah bentuk kecil pengekangan/pembatasan terhadap kaum perempuan.

Bra lantas mencipta salah satu bagian tubuh penting perempuan menjadi suatu komoditi yang selaiknya dijaga kondisinya supaya ideal-seragam demi kemaslahatan agar sesuai standar ideal publik kalau tak mau menyebutnya laki-laki.

Pernah suatu kali akhirnya aku dan dua kawan memberanikan diri saling berbagi pengalaman-pencarian kemantapan iman.

Saat itu kami sama-sama keranjingan membaca buku-buku cerita anak yang bermuasal dari kisah-kisah dalam Alkitab.

Sementara kami bertiga seorang muslim sejak lahir. Buku-buku itu membuat kami yakin betapa menyenangkannya menjadi anak-anak Kristen atau Katolik.

Sebab selama ini barangkali kami jenuh tumbuh dengan cerita-cerita seputar agama yang menegangkan, yang penuh penderitaan, penuh siksa.

Seorang kawan mengaku suka puji-pujian kaum agama lain, dan kerap sengaja menyanyikannya di depan bapaknya yang cukup taat beragama. Sementara aku lebih memilih membaca buku-buku begitu ketika tidak sedang di rumah.

Konon bapakku seorang muslim yang taat dan bisa disebut konservatif. Membaca buku-buku yang demikian dengan terang-terangan di hadapan beliau tentu semacam menyulut bara di antara kami.

Buku-buku sains dan filsafat membuat aku dan beberapa kawan pernah keranjingan diskusi.

Kami membaca buku-buku di indekos masing-masing selama beberapa waktu untuk kemudian berjanji bertemu guna mendiskusikan hasil bacaan kami.

Hasil diskusi bukan menjadi pamungkas jawaban atas beragam tanya yang kami kandung sejak dari indekos masing-masing, melainkan menumbuhkan lebih banyak lagi bibit tanya untuk kami bawa pulang kembali ke indekos. Sesekali turut serta dalam solek alam mimpi.

Kami sepakat perlu lebih banyak lagi membaca buku-buku dan juga alam untuk perlahan-lahan belajar menjawab ragam pertanyaan itu. Kendati kami yakin, satu jawaban yang kami dapat akan terus memunculkan lebih banyak lagi bibit tanya.

Tapi di situlah esensi hidup kami sebagai manusia pembaca yang menolak berhenti bertanya.

Buku-buku sastra entah itu puisi, cerpen, novel lebih banyak menjadi medium kontemplatif daripada mengisi kekosongan pembaca dengan pengetahuan pasti seperti yang dilakukan buku-buku sains.

Meski ini tak berlaku bagi beberapa penulis, untuk menyebut salah satunya ialah Daoed Joesoef. Melalui buku kumpulan cerpen yang juga melampirkan puisi dan pantun.

Teman Duduk, cerita-cerita Daoed selain menjadi medium kontemplasi juga mengucurkan beragam ilmu pengetahuan yang menjadi bidang keahliannya. Ekonomi, Biologi, Hukum, Pendidikan, Kebudayaan, dan beberapa ilmu lainnya.

Kita bisa simak sedikit, Tumpukan-tumpukan awan lain yang terus berdatangan, membentuk suatu onggokan yang lebih besar dan tebal begitu rupa hingga udara menjadi kelabu warnanya. Bila terjadi benturan antara awan yang bermuatan listrik positif dan negatif tercetus kilatan disertai bunyi gemuruh (hal. 99).

Atau satu lagi, Selaku sumber hidup dan kehidupan air meliputi 71 persen dari planet biru. Ketersediaan sumber sebanyak ini memang melebihi kebutuhan humanitas, tetapi penyebarannya tidak merata. Tambah lagi, penghamburan dan polusi mengancam ketersediaan tersebut. Dalam tempo seabad, sementara jumlah penduduk bumi meningkat sebanyak tiga kali. Konsumsi air berlipat ganda sebanyak enam kali. Lalu bagaimana jika cairan yang begitu bernilai sampai berkurang, tidak mencukupi lagi?! (hal. 110).

Menjadi Aneh dan Penyendiri

Menjadi pembaca buku tak pelak dengan kesendirian yang menggebu. Meski ada jenis pembaca yang mampu membaca di antara khalayak ramai.

Tapi lebih banyak pembaca di sekelilingku yang lebih masyuk ketika hanya berduaan dengan buku tanpa orang lain, entah siapapun dan sedekat apapun hubungan darah-emosional orang tersebut dengan pribadi pembaca.

Ihwal ini, aku pernah iseng membuat polling di kilas cerita instagram. Meski tak merujuk langsung pada pertanyaan apakah publik instagram-ku termasuk jenis pembaca yang mampu membaca di antara khalayak ramai atau justru di belantara kesunyian, hasil polling cukup representatif bila mau mengaitkannya dengan laku membaca.

Ada dua pernyataan. Bersama seutuhnya dan sendiri seperlunya. Atau bersama seperlunya dan sendiri seutuhnya. Pertanyaannya, bagaimana pertemanan yang sehat menurut publik.

Hasil polling menunjukkan prosentase yang memilih premis kedua lebih banyak dari pada pemilih premis pertama. Rentang prosentasenya cukup jauh, premis kedua sekira 67% dan premis 33%.

Itu diisi oleh sekira 30 orang yang memang didominasi oleh kawan-kawanku yang pembaca buku. Kita lalu boleh menarik simpulan dengan serampangan, para pembaca buku membutuhkan lebih banyak ruang untuk sendiri guna bergumul dengan buku-buku.

Padahal jika mau mengakui, para pembaca ini jelas kalah jauh secara kuantitas dibanding katakanlah khalayak mahasiswa yang tidak memiliki laku sebagai pembaca.

Para mahasiswa ini biasanya memiliki kehidupan sosial yang riuh, memiliki banyak sekali kawan dengan beragam agenda seperti pergi ke mall, makan ke restoran-restoran kenamaan, membincangkan kosmetik, beburu barang-barang branded, termasuk yang paling penting: mengikuti perkembangan gosip di kalangan artis!

Sementara para pembaca buku ini ialah kaum marginal yang terpinggirkan atau meminggirkan dirinya sendiri dari keriuhan yang demikian.

Memasuki rimba kesunyian yang dihadirkan buku-buku. Para pembaca buku jelas menjadi sosok yang aneh di mata awam. Mereka ini susah sekali membedakan apakah buku itu buku atau manusia?

Rizka Nur Laily Muallifa

Pembaca tak khusyuk. Mengeja kata di Diskusi Kecil Pawon, Kisi Kelir, dan Bentara Muda Solo.

Add comment

Tentang Penulis

Rizka Nur Laily Muallifa

Pembaca tak khusyuk. Mengeja kata di Diskusi Kecil Pawon, Kisi Kelir, dan Bentara Muda Solo.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.