Locita

Belajarlah Konsisten dari Patrick Star

Siapa yang tidak kenal karakter bintang laut merah jambu satu ini, bercelana motif bunga dan tidak pernah mengenakan baju. Karakter yang selama hidupnya tinggal dibalik batu dan dijuluki makhluk laut terbodoh di sebuah kota kecil bernama Bikini Bottom.

Penggemar serial kartun SpongeBob SquarePants pasti tahu dan kenal, karena dalam tiap episode, tingkah konyolnya kerap mengundang tawa penonton.

Patrick Star atau Patrick, nama yang diberikan oleh Stephen Hillenburg dalam serial kartun garapannya yang diidentikkan dengan karakter bodoh. Kendati kebodohannya itu ialah bentuk konsistensi dirinya sehingga hal itulah yang membedakan antara dia dan karakter-karakter lain dalam serial kartun tersebut.

Pertanyaan yang muncul ialah apa yang mesti dipelajari dari karakter Patrick dalam kartun itu? Ya, konstistensi. Karena seringkali kita mengabaikan hal kecil itu dalam menjalani roda kehidupan. Contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari ialah: hari ini kita katakan A kemudian akan berubah menjadi B dilain hari. Konsistensi tidak berjalan sebagaimana ucapan dari seorang pengucap.

Padahal konsistensi akan menjadi tolak ukur orang lain untuk percaya kepada kita. Menjadi bekal dalam perjalan hidup untuk menegasikan insinuasi khalayak.

Menyoal konsistensi, arahnya tak akan jauh dari watak yang melekat pada politisi kita, terutama yang berstatus sebagai pejabat publik. Beberapa khalayak mengidentikkan politisi dengan hal-hal yang negatif. Hal tersebut telah terkontruksi dalam alam pikir dan menjadi paradigma publik.

Salah satu yang menjadi penyebab utama ialah para pejabat publik tidak konsisten atas kebijakan-kebijakan yang mereka buat. Misalnya hari ini kebijakan A, dilain hari menjadi kebijakan B tanpa indikator dan orientasi yang jelas.

Hal lain yang menjadi kegelisahan ketika para politisi sebelum berstatus sebagai pejabat publik ialah inkonsistensi dengan janji politik sewaktu mereka berkampanye.

Benar bahwa kampanye merupakan bentuk tawar menawar antara peserta Pemilu dan pemilih dalam kontestasi demokrasi agar tersalurkan suara publik dibalik bilik kotak suara. Tapi apakah hanya sebatas itu ukurannya? Tidak, karena diperlukan realisasi terkait apa yang dijanjikan.

Konsistensi pejabat publik, terutama Presiden sebagai kepala negara belakangan ini menjadi pembicaraan (lagi). Betapa tidak, ditengah masa sulit bangsa saat menghadapi pandemi Covid-19, termasuk beberapa negara-negara dunia.

Beliau justru menerapkan kebijakan baru yang disebut “New normal,” dengan dalih menjaga stabilitas perekonomian negara, setelah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang belum lama diterapkan.

Probabilitas orientasi penerapan kebijakan “New normal” itu ada dua: pertama, menjaga stabilitas ekonomi tetap kondusif atau kedua, karena lobi-lobi kepentingan para pengusaha kelas kakap sehingga penerapan “New normal” itu dijadikan kebijakan baru ditengah pandemi Covid-19 yang belum mereda secara signifikan di Indonesia. Entah.

Karena saat ini, tercatat jumlah kasus kematian karena Covid-19 telah mencapai angka 1,613 kasus dalam tiga bula terakhir, mulai dari bulan Maret hingga Mei 2020. Bukankah “Nyawa manusia lebih berharga dibanding kepentingan apapun?” Atau mungkin hal itu bukanlah persoalan bagi para pemangku kebijakan?

Bila bicara konsistensi, sebaiknya kepala negara sebagai pemegang pucuk pimpinan kekuasaan dalam negara mengambil langkah yang lebih progresif dalam menekan jumlah kasus Covid-19 dan menegasikan kepentingan individual yang menggiurkan di depan mata, demi kepentingan kolektif bangsa.

Kita berharap demikian terjadi sebab penuh harap ialah watak manusia yang tak boleh terpisahkan selama kaki masih menjajaki bumi. Entah harapan itu terkabul atau tidak itu persoalan lain. Anggap bonus bila terkabul.

Konsisten menerapkan PSBB bukanlah perbuatan dosa, bila dilakukan dengan cara-cara manusiawi, menghilangkan tindakan persekusi, intimidasi dan diskriminasi rasial agar tidak melanggar prinsip hak asasi manusia. Dan itu dimulai dari “Political will” pejabat publik sebagai modal awal dalam membuat kebijakan.

Patrick telah memulai hal itu, dengan modal konsisten pada ketokohannya sebagai karakter yang identik sebagai makhluk laut terbodoh di Bikini Bottom ialah simbol konsistensi dirinya. Perlukah kita mengamini bahwa pejabat publik kita perlu mencontoh dan belajar banyak dari karakter Patrick? Mari kita nantikan.

Terkhir, mengutip kata Patrick dalam salah satu episode di serial kartun SpongeBob “Mungkin Aku bodoh, tapi Aku tidak dungu.”

Aslang Jaya

Aslang Jaya

Twitter: @aslangjaya

Tentang Penulis

Aslang Jaya

Aslang Jaya

Twitter: @aslangjaya

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.