Locita

Belajar dari Pangeran Cilik Untuk Menjadi Manusia

Namanya Samba. Saya memanggilnya Om Bos Samba. Beliau seorang tukang kayu yang bekerja dari pukul sembilan pagi hingga pukul empat sore, dari hari Senin hingga Sabtu. Minggu tetap libur. Saya tidak akan menceritakan bagaimana awal pertemuan serta hubungan saya dengan beliau. Tapi, saya hanya ingin menceritakan prinsip hidupnya yang membuat saya mesti mengubah cara pandang saya terhadap dunia dan belajar menjadi manusia yang lebih baik. Saya sering berkunjung saat sore atau pagi hari, dan tiap kunjung itu kami habiskan dengan berdiskusi, bercanda, dan menertawakan apa saja. Hingga suatu hari kami berbincang tentang pernikahan.

“Wah, pasti saya setia dong!” jawabnya sewaktu saya bertanya untuk main-main saja.

“Eh, mau setia dengan satu istri atau ada rencana menikah lagi setelah usaha sukses bos?”

Pertanyaan yang sebenarnya bodoh dan tak berbobot. Tapi sedari awal, saya bisa menebak jawaban dari seorang Om Bos Samba. Dari jawaban itulah beliau mulai membentangkan pengalamannya yang menarik tentang hidup.
Baginya, menjadi tukang kayu adalah sebuah kesyukuran. Berbeda dengan sebagian besar orang yang ingin menjadi direktur, pejabat, atau bekerja di perusahaan nasional atau internasional ternama. Dengan gaya yang sederhana, beliau mengulang-ulang kalimat “yang penting bersyukur” sambil tersenyum, “uang itu selalu ada, asal bersyukur!” tambahnya. Saya belum bisa memastikan, bagaimana cara kerja pikiran beliau. Sepengamatan saya, pesanan tetap tampak ramai dan selalu ada. Tiap kali saya melewati tempat kerjanya, perasaan saya selalu senang saat melihat pengunjung yang ramai atau suara mesin pemotong kayu yang bekerja. Dan selalu seperti itu.

Saat saya mempermasalahkan uang panai, yang merupakan salah satu budaya Bugis Makassar, beliau selalu bilang, “Pasti ada jalannya Wan. Yang penting niat dulu!” Pesta pernikahan Bugis butuh biaya yang tidak main-main. Kadangkala orang memandang suku Bugis Makassar tampak materialisme dengan konsep budaya seperti itu. Tapi, pada titik ini juga kata Om Boss Samba, “Tuhan memperlihatkan keajaibannya.” Saya pun akan mengalami titik ini bila pada akhirnya saya akan menikahi seorang perempuan Bugis Makassar, dan memang rencananya seperti itu.

Berpikir bahwa manusia berencana namun saldo menentukan, kadang kala menjadi benih dari paham materialisme. Tak sedikit pula kawan saya percaya pada kalimat itu. Bahwa saldo atau uang adalah segalanya. Hidup hanyalah pencarian uang, uang, dan uang. Seringkali kita berpikir bahwa dengan uang, manusia akan berbahagia dan memiliki segalanya. Namun sayangnya, sejumlah penelitian psikologi membuktikan bahwa uang bukanlah penentu kebahagiaan. Poin penting dari uang adalah bagaimana kita menggunakannya dengan baik. Misalnya saja, penelitian yang dilakukan oleh Elizabeth W. Dunn bersama timnya yang berjudul, “Spending Money on Others Promotes Happiness” membuktikan bahwa uang yang digunakan untuk keperluan orang lain dapat meningkatkan kebahagiaan.

Dalam hal uang, manusia akan menjadi mahluk yang selalu mencari lebih dan lebih. Barangkali saja, konsep pikiran ini diwariskan oleh benih-benih gagasan dari Adam Smith dan koleganya. Parahnya lagi, beberapa orang kemudian tumbuh dengan cara memandang seseorang hanya dari penampilan, harta atau materi yang dimiliki. Saya sendiri tak akan mampu menerjemahkan dengan baik konsep syukur dari seorang Om Bos Samba. Berangkat dari penelitian Elizabeth, saya melihat hal itu pun dilakukan Samba. Kesediaannya untuk memberikan jumlah yang lebih banyak kepada teman kerjanya dibanding yang dia dapatkan sendiri. Ada sesuatu dalam diri seorang Om Bos Samba.

Inilah yang membuat saya teringat dengan salah satu pesan dalam buku Antoine de Saint-Exupéry, berjudul Le Petit Prince. Le Petit Prince (Pangeran Cilik) adalah sebuah novel pendek yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1943 dalam Bahasa Perancis. Menggunakan tokoh utama seorang anak kecil, penulis tampak mencoba memberikan kritik pada kondisi orang dewasa yang mencintai angka, status sosial, serta berjalan dalam kehidupan yang membosankan. Di saat yang bersamaan, kita memasuki filosofi kehidupan yang tak sekadar isi kepala seorang anak kecil. Pilihan hidup Om Bos Samba tampak menjadi sesuatu yang memperlihatkan perjalan hidup yang dijalani Pangeran Cilik. Bagaimana seseorang mampu menemukan nilai kehidupan dalam hal yang jarang kita amati.

Jika anda mencoba membaca Cannery Row karya John Steinbeck, yang beberapa tahun lalu diterjemahkan dengan epik oleh Eka Kurniawan, kita bisa menemukan potongan paragraf yang kira-kira seperti ini.
“Hal ini selalu terasa ganjil bagi saya. Hal-hal yang kita kagumi pada seseorang seperti kebaikan, kemurahan hati, keterbukaan, kejujuran, pengertian dan berperasaan menjadi sebab kegagalan kita. Dan sifat-sifat yang kita benci seperti kejam, tamak, serakah, picik, egois, dan mementingkan diri sendiri. Sembari kita menyenangi hal kita kagumi dari seseorang, kita tetap melakukan apa yang kita benci.”

Seperti itulah manusia. Barangkali saja, filosofi perjalanan dari seorang pengeran cilik bisa membuat kita belajar mencari apa yang sebenarnya kita miliki. Di dalam diri manusia, ada sesuatu yang lebih dari materialisme. Sesuatu yang benar-benar kita cintai tapi sulit untuk kita miliki. Sesuatu itu mungkin seperti pesan Pangeran Cilik, “Hal yang paling indah di dunia tak dapat terlihat dan disentuh, melainkan dirasakan dengan hati.” Atau kita perlu sepakat dengan kalimat pembuka novel O karya Eka Kurniawan, “Enggak gampang jadi manusia”

Wawan Kurniawan

Alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wkhatulistiwa

Add comment

Tentang Penulis

Wawan Kurniawan

Alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wkhatulistiwa

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.