Locita

Beda Perilaku Bersepeda di Amrik dan Indonesia

Sehari setelah saya tiba di Carbondale, Illinois, Amerika Serikat (Amrik), sepeda adalah barang yang pertama kali saya beli. Saya ditemani oleh Mas Tugy dan Holly, istrinya yang juga warga lokal di sana. Saya juga ditemani Mba Petra dan suaminya. Mba Petra sudah lama tinggal di Amrik dan tentu sudah khatam dengan urusan persepedaan. Selepas menaikkan sepeda ke mobil, Holly langsung memutar kanan mobilnya ke toko barang-barang bekas untuk membeli barang lain. Holly langsung mengambilkan helm sepeda.

To protect your head, Arief.” Katanya.

Kalau bukan karena dia, saya memang tidak akan membeli helm. Helm itu memang tidak pernah saya pakai selama 2 tahun.

Melihat orang-orang bersepeda terutama jika ia mahasiswa di luar negeri seperti Amrik adalah hal yang biasa. Tidak ada yang istimewa dengan itu.

Di kampus ada parkiran sepeda khusus. Sama seperti mobil. Di halaman apartemen saya pun begitu. Apartemen lain juga sama. Bahkan, di kota-kota besar seperi Washington ada tempat penyewaan sepeda. Sepeda tersebut dapat digunakan untuk mengelilingi kota dengan harga sewa tertentu.

Jauh sebelum berangkat ke luar negeri, saya sudah pernah melihat kehidupan mahasiswa di luar negeri. Banyak di antaranya yang menggunakan sepeda. Di salah satu video-blog mahasiswa di Belanda, ia menjadikan sepeda sebagai konten video untuk kemudian diupload ke YouTube. Video sepeda tersebut jelas menjadi angan-angan saya jika nantinya akan ke luar negeri. Dan kemudian menjadi kenyataan.

Tak heran saat pertama kali akan tiba di kampus, sepeda masuk di urutan teratas yang harus saya beli. Tujuan utama saya adalah transportasi meski ada bus untuk angkutan umum. Hanya saja bus-bus tersebut tentu melalui jalur khusus yang biasanya lebih panjang dan lama. Padahal saya bisa tempuh dengan cepat jika naik sepeda melewati jalan pintas.

Di hari-hari pertama saya menjalani kuliah, saya selalu menaiki sepeda. Padahal jarak antara apartemen dan sepeda hanya lima menit. Saya hanya tidak akan menggunakannya jika musim dingin atau saat sedang hujan.

Sepeda tersebut saya gunakan untuk mengelilingi kampus yang memang luasnya Masya Allah. Saya gowes untuk ke gym kampus, stadion, atau danau kampus. Kadang pula saya gunakan untuk berangkat membeli kebutuhan sehari-hari. Saya bahkan juga menggunakannya ke masjid untuk Salat Idul Adha. Beberapa kali saya gunakan untuk Salat Jumat. Jika musim panas, baju saya bisa basah mengayuh sepeda.

Bukan hanya saya yang sering menggunakan sepeda. Teman-teman –baik mahasiswa lokal (Amrik) atau internasional—pada mulanya pasti akan memiliki sepeda. Kalau pun kemudian juga pada akhirnya membeli mobil. Beberapa teman Arab Saudi yang memang uang bulanannya selalu bikin iri juga tetap membeli dan menyimpan sepedanya meski sudah memiliki sepeda.

Sayangnya, memiliki sepeda berarti juga harus berhati-hati. Pencurian sepeda sering terjadi baik di kampus atau apartemen. Itulah sebabnya setiap sepeda selalu didaftarkan di bagian perpakiran kampus. Beberapa apartemen juga memiliki sistem serupa. Sepeda tersebut kemudian diberi stiker khusus. Di kampus, jika sepeda kena razia dan tidak memiliki stiker khusus sebagai tanda legalitas bisa-bisa diseret oleh petugas kampus.

Kasus pencurian sendiri biasa terjadi. Di apartemen saya beberapa kali orang tertangkap kamera CCTV mencoba atau bahkan berhasil mencuri sepeda. Mengertilah saya ketika manajemen memasang CCTV tambahan sambil menulis di setiap sudut, “Kami sedang melihatmu!”

Beruntunglah sepeda saya aman dari pencurian. Selain karena memang saya menggembok batang leher dan kedua bannya, saya juga memarkirnya tak jauh dari radar pandangan saya.

Di tahun kedua, saya tidak sesering tahun pertama naik sepeda. Teman saya lebih banyak menjemput dengan mobilnya. Salah satu alasannya karena kami sekelas dan bisa lebih menghemat waktu.

Meski tidak sesering sebelumnya, bersepeda di Amrik mengajarkan saya beberapa hal. Di banyak jalur jalan ada jalur khusus yang memang untuk sepeda. Di situ terdapat gambar sepeda yang menandakan jalur khusus sepeda. Pengendara mobil tidak akan menyerempet jalur sepeda. Sebaliknya pengendara sepeda juga tahu diri untuk tidak melewati jalurnya sendiri, kecuali jika tidak masalah jika ditabrak dan sekarat sebab laju mobil pada kencang.

Sayangnya di beberapa jalanan tersedia jalur khusus sepeda sehingga biasanya yang digunakan adalah trotoar. Walau begitu kami cukup paham jika melewati jalur trotoar terutama jika berpapasan dengan pejalan kaki. Kami akan melewati jalanan paling pinggir. Bahkan saya sering memiliki keluar dari jalur melewati rumput. Setidaknya saya tahu diri saya sebagai pesepeda. Di perempatan atau pertigaan, kami juga tetap mematuhi isyarat lalu lintas.

Lalu jika ada jalur larangan masuk sepeda, kami juga mematuhinya. Saya pernah kena semprot karena ini. Saya masih baru di kampus saya dan saya tidak melihat larangan bersepeda di jalur tersebut. Di  dekat danau kampus. Dan yah memang saya salah dan harus mengucapkan maaf pada pejalan kaki.

Bersepeda di Amrik terutama di kampus –bagi saya– mengajarkan arti membeli karena kebutuhan. Tentu saya membelinya bukan karena sekadar ikut-ikutan tren. Bukan pula perihal seberapa bermerek atau seberapa mahal sepedanya. Apalah artinya sepeda bermerek kelas dunia dan apalagi jika mahal tetapi tidak tahu aturan bersepeda: mengambil jalur motor atau mobil, melanggar lalu lintas, dan berlagak seperti penguasa jalanan.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.