Locita

Mari Sambut Beban Gubernur Baru

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Foto: Kompas)

BERAKHIR sudah era Djarot Saiful Hidayat memimpin Jakarta. Sebuah ending dari periode kepemimpinan yang diisi oleh tiga orang Gubernur. Ada nama Basuki Tjahaja (Ahok), dan Joko Widodo, sebelum Djarot sendiri menjadi pucuk pimpinan di ibukota.

Banyaknya karangan bunga di halaman kantor mereka berdua, seolah menjadi tanda terima kasih atas kontribusi periode yang penuh dengan peristiwa politik tahun ini.

Munculnya pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai pengganti mereka, menuntut beban yang sangat tinggi. Minimal ada dua beban utama yang akan disandang oleh pasangan itu. Yakni, memenuhi ekspektasi pendukung dan pembuktian diri di hadapan warga Jakarta yang tidak memilih mereka.

Sebagaimana diketahui naiknya Anies – Sandi tidak terlepas dari peristiwa politik seperti aksi 411 dan 212 beserta turunannya. Secara kasat mata aksi tersebut tidak hanya dihadiri oleh warga Jakarta saja melainkan warga negara dari provinsi lainnya.

Mereka mengikuti aksi dengan keyakinan bahwa Gubernur sebelum Djarot, Ahok telah melakukan penistaan agama. Selain itu mereka juga datang dengan misi bahwa Jakarta harus dipimpin oleh orang Islam.

Bagi orang di luar Jakarta, khususnya kelompok Islam politik, harapan mereka barangkali hanya sampai pada satu poin utama saja. Jakarta sebagai ibukota di negara mayoritas Muslim tentu harus dipimpin oleh orang Islam.

Hal ini tentu berbeda dengan pemilih pasangan akademisi dan pengusaha itu yang merupakan warga Jakarta. Realistis saja, bahwa kehidupan mereka harus lebih baik.

Dalam situs jakartamajubersama.com terdapat sejumlah janji Anies – Sandi yang menanti untuk diwujudkan. Di antara janjinya itu, selain Jakarta Bebas Banjir ada dua hal yang paling kentara dan khas dari pasangan ini. Pertama mengenai DP rumah sebesar nol persen dan kedua, menghentikan program reklamasi teluk Jakarta.

Masyarakat Jakarta akan pasti menuntut program pertama, mengingat mahalnya harga rumah di Jakarta dan tingginya biaya hidup. Dalam berita yang diturunkan detik.com, harga rumah di Jakarta rata – rata 20,75 juta rupiah per meter persegi diakhir 2016. Tingginya harga tentu saja akan menentukan siapa saja yang akan masuk kriteria sasaran program DP rumah murah ini.

Kemungkinan besar akan sulit dijangkau bagi warga Jakarta yang berpenghasilan rendah. Sederhana saja, DP murah tentu cicilannya akan tinggi. Aturan teknis program menyisakan suatu pekerjaan tersendiri.

Akan halnya menghentikan program reklamasi, tuntutan itu sebetulnya sudah ada sebelum keduanya menjabat. Bahkan semenjak Ahok masih memimpin seperti yang secara konsisten disuarakan oleh banyak pihak, seperti KIARA (Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan). Tuntutan mereka di antaranya, reklamasi akan merugikan nelayan dan juga merusak ekologi di laut utara Jakarta itu.  Tuntutan ini akan semakin meningkat sebab menjadi bagian dari janji kerjanya Anies – Sandi.

Beban kedua adalah pembuktian diri Anies – Sandi di hadapan warga Jakarta yang tidak memilihnya. Ini penting sekali untuk diperhatikan mengingat perbedaan suara antara pasangan itu dengan lawannya di putaran kedua, Ahok –  Djarot tidak begitu banyak.

Seperti dimuat di katadata.com, perolehan suara kedua pasang calon berturut- turut adalah 57,95% dan 42,05%. Persentase ini menggambarkan bahwa hampir separuh pemilih Jakarta bukanlah pendukung Anies – Sandi.

Mereka yang tidak memilih pasangan pemenang itu akan membandingkan kinerja mereka nanti dengan periode sebelumnya. Ahok & Djarot.

Bagi warga yang memilih pasangan ini, Ahok – Djarot mempunyai nilai khas dan membuat sejumlah prestasi yang cukup membanggakan. Ahok misalnya, bagi pendukungnya dinilai tegas, baik terhadap pegawainya sendiri maupun dalam melancarkan programnya. Ahok juga dikenal disiplin dalam menjalankan pemerintahannya.

Selain itu, Ahok juga mempunyai terobosan seperti menerapkan e-budgeting untuk anggaran, menggilir plat nomor mobil genap ganjil untuk mengurangi kemacetan, dan normalisasi aliran sungai serta waduk untuk kebersihan Jakarta dan mengurangi banjir.

Sederetan prestasi itu menjadi tantangan besar bagi Anies – Sandi. Pasangan ini harus bisa melampaui hal itu kalau mereka menginginkan kurangnya turbulensi politik ketika memimpin.

Kalau tidak tekanan psikologis karena dibandingkan terus menerus dengan periode sebelumnya akan menghantui. Kritikan dan manuver politik konstan akan dihadapi selama kepemimpinan mereka.

Kedua beban utama di atas mesti menjadi catatan penting. Dalam perspektif identitas, khususnya terhadap kelompok pemilih dan non pemilih, kinerja Anies Sandi cukup berarti. Mereka yang awalnya bahagia ketika calon yang diusung menang bisa jadi berbalik arah apabila ekspektasi mereka tidak terpenuhi.

Misalnya, warga yang memilih karena proyek reklamasi akan berhenti di jaman Anies – Sandi akan marah apabila tidak terlaksanakan. Begitu pula warga yang berharap segera punya rumah program 0 rupiah. Kelompok masyarakat ini akan kecewa berat kalau ternyata dalam aturan teknisnya mereka bukanlah warga yang bisa masuk ke dalam kriteria untuk mendapatkan rumah yang diidamkan.

Bagi kelompok non pemilih, Anies – Sandi akan dikritik habis – habisan apabila tidak mampu melewati prestasi Ahok. Apalagi bagi warga yang hanya menilai bahwa kemenangan pasangan itu adalah hasil aksi beruntun sebab kasus Ahok yang dianggap menistakan agama. Suatu kejadian yang menjadi isu nasional dan dipolitisir.

Bisakah Anies – Sandi menanggung dua beban itu? Warga Jakarta menunggu.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.